Tanda-tanda Kesabaran
Sekian lama Mbah Jatmiko berguru kepada Syaikh Abdul Hayyi, berkhalwat di Pondok Pesantren BaiturrohmahCiliwung. Berbagai jenis riyadloh telah ia jalani. Hingga tiba saatnya Mbah Jatmiko dinyatakan paripurna oleh Mbah Hayyi.
Mbah Jatmiko berniat pulang ke Mojokerto. Ketika pamit, Mbah Hayyi mengajukan sebuah pertanyaan kepada Mbah Jatmiko,
“Awakmu ngerti ta Jat, opo tondo-tondone wong sabar iku ?” (Jat, apakah kamu mengerti, apa ciri-ciri orang sabar itu ?)
“Mboten semerap Kiai” (Tidak tahu Kiai)
“Wong sabar iku Jat, nek sholat, terus onok manuk lewat nok nduwure wae iso ceblok” (Orang sabar itu Jat, ketika ia sholat, terus ada burung yang terbang di atasnya, burung itu bisa jatuh)
Mbah Jatmiko pun pulang menuju Mojokerto.
Berjalan kaki sambil tadabur alam. Tiba waktunya sholat, Mbah Jatmiko menuju tepi sungai Brantas. Ia sholat diatas lempengan batu yang terbilang besar. Di tengah-tengah sholat, seekor burung terbang dari arah utara menuju selatan. Burung itu lewat tepat diatas Mbah Jatmiko.
Dalam hitungan detik, burung terjatuh. Mati seketika. Usai salam, Mbah Jatmiko mengambil bangkai burung tersebut. Sambil memegang, Mbah Jatmiko berbicara dengan burung tersebut disertai rasa penyesalan;
“Lapo awakmu ngantek lugur barang ? manuk, manuk, maburo maneh!” (Mengapa kamu bisa jatuh ? O burung-burung, terbanglah lagi)
Dengan izin Allah Swt, seketika itu burung pun hidup kembali. Terbang meninggalkan Mbah Jatmiko yang masih berdiri terpaku di tepi sungai.
Tafsir Beragama
Mbah Jatmiko menjadi medan magnet tersendiri di Mojokerto dan sekitarnya. Ia kerap memberikan nasihat kepada para tamu, baik secara lisan maupun berupasimbolisme. Ada satu nasihat Mbah Jatmiko yang sangat menarik untuk di kaji.
Dalam sebuah kesempatan, Mbah Jatmiko berkata kepada salah satu santri Pondok Pesantren Baiturrohmah,
“Rin, urip nang ndunyo ojo sekedar nduweni agomo. Tapi, iso o urip nang ndunyo, iso o beragomo” (Rin, hidup di dunia janganlah sekadar mempunyai agama. Akan tetapi, sebisa mungkin hidup didunia ini harus beragama).
Nasihat singkat, namun bila di kaji dengan mendalam menggunakan pendekatan esoteris, sangat urgen dalam kehidupan beragama kita. Istilah agama (Ad-din) banyak disebut dalam Al-Quran maupun Hadits, seperti ayat, ‘Innaddina indallahi Islam’ atau hadits, ‘Addinu annasihah’. Agama (Ad-din) secara etimologi terambil dari kata, dana, yadinu, dinan, yang mempunyai arti ketaatan, kepasrahan, penyerahan dan kerendahan.
Tentu kata-kata ini hanya ditujukan kepada Allah semata. Berangkat dari pengertian ini, istilah agama mempunyai dua pengertian. Pertama, agama sebagai pandangan hidup (worldview) dan tata nilai. Kedua,agama sebagai sebuah institusi dan kelembagaan.
Esensi dari surat Al-Baqarah ayat 133 adalah, semua Nabi dan Rasul membawa ajaran dan misi Islam. Islam yang dimaksud dalam konteks pandangan hidup dan tata nilai.Seiring berjalannya waktu, semakin jauh agama dari sumbernya, selalu terjadi penyimpangan atas berbagai nilai-nilainya.
Sehingga Allah perlu mengutus para rasul untuk membenahi konstruksi ajaran tersebut. Misi para rasul terhentidengan diutusnya Nabi Muhammad. Pasca itu, selain sebagai pandangan hidup dan tata nilai, Islam juga bertransformasi menjadi institusi dan agama tersendiri yang berbeda dengan semua ajaran diluarnya.
‘Nduwe agomo’ dalam pernyataan Mbah Jatmiko adalah beragama dalam taraf kelembagaan, seperti membaca 2 kalimat syahadat. Hanya dengan membaca kalimat pendek tersebut, berdampak terhadap diakuinya seseorang sebagai Muslim, meski nilai dan ajaran Islam belum teralisasi dalam perbuatan.
Beragama dalam konteks Mbah Jatmiko tidak sekadar dalam arti formal, namun semua sistim dan tata nilai Islam harus diwujudkan, diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menelaah kembali ‘dhawuh’ Mbah Jatmiko, mengingatkan kita dengan Syaikh Muhammad Abduh (1849-1905), inspirator pembaharuan Islam.
Ketika berkunjung ke Prancis dan menyaksikan realitas masyarakat disana, Syaikh Abduh berstatement, “dzahabtu ilaa bilaad al-ghorbi, roaitu al-Islam wa lam aro al-muslimiin. Wa dzahabtu ilaa bilaad al-a’robi, roaitu al-muslimiin, wa lam aro al-Islam” (aku pergi ke negara Barat (Perancis), aku melihat Islam namun tidak melihat muslim. Sebaliknya aku pergi ke negara Arab, aku melihat muslim namun tidak melihat Islam).
Meski konteksIslam yang dimaksud Syaikh Abduh dalam skala kecil, terbatas dalam pengertian teknologi, ilmu pengetahuan dan etika, setidaknya berkorelasi dengan yang telah diungkapkanoleh Mbah Jatmiko.
Arti Kedisiplinan
Di suatu pagi, usai sholat Subuh berjamaah, salah satu sahabatbernama Udin dibangunkan oleh Mbah Jatmiko.
“Tangi… tangi… tangi…”, tangan kanan Mbah Jatmiko menepuk-nepuk bahu Udin. Udin gelagapan, terbangunseketika. Ketika kesadarannya sudah pulih, Udin diajak keluaroleh Mbah Jatmiko, memandangi para petani yang hendak pergi ke sawah.
“La iyo, iku lo bebek, iso baris barang” (la iya, itu loh, bebek ternyata bisa juga baris-berbaris), tangan kanan Mbah Jatmiko menunjuk ke arah petani yang menggembalakan bebek-bebek piaraannya.
Mendengar ucapan Mbah Jatmiko, Udin hanya terdiam. Ucapan Mbah Jatmiko telah menghunjam kedalam sanubarinya, mengingatkan kembali akan nilai kedisiplinan yang perlahan-lahan telah ia lupakan.
Sedianya, usai sholat subuh Udin hendak istirahat barang sebentar. Sekadar melepas lelah yang mulai merayap di ruas-ruas punggung. Semalam suntuk ia bersama beberapa teman bergadang dengan Mbah Jatmiko.
Memang, Udin kerap sowan ke ndalem Mbah Jatmiko, sekadar ingin mendapatkan doa atau mendengarkan petuah dari kiai kharismatik tersebut. Biasanya Mbah Jatmiko berkenan menemui saat tengah malam, sekitar pukul 12.00. Lantas kongkow dan bercanda hingga adzan subuh tiba.
Dus, secara simbolik, Mbah Jatmiko telah mengajarkan arti kedisiplinan kepada Udin dan siapapun yang mendengar cerita ini, termasuk saya atau anda.
Sumber Cerita :
Saifudin, Kragan, Rembang (santri PP. Baiturrohmah)
Saifudin Zuhri, Kel. Sisir, Kota Batu (santri PP. Baiturrohmah)








