“Assalamualaikum. Pak Rofi’, bisakah besok memberikan materi menulis kepada para guru?”
Demikian sebuah pesan masuk ke hape saya, dari seorang manajer Sekolah Alam Gahar. Kamis sore: dua hari yang lalu.
Gubrak! Tanpa babibu, saya “ditodong” demikian. Menerima permintaan yang demikian, akhirnya saya menjawab, “InsyaAllah.”
Tentu, untuk memenuhi permintaan demikian, segera saya siapkan materi yang diminta. Jumat dini hari, saya pun bilang sama istri, “Pagi ini, aku gak bikin sarapan, ya. Aku sedang menyiapkan materi tentang menulis untuk guru-guru. Pagi ini!”
Usai berucap demikian, tiba-tiba benak saya “melayang” jauh: ke Kairo, Mesir pada awal 1980-an. Kala itu, saya sedang bermimpi ingin menjadi seperti Anis Mansour, seorang jurnalis kondang Mesir dan pemimpin redaksi koran kesohor di Timur Tengah, al Ahram.

Mengapa saya terpikat dengan Anis Mansour?
Jurnalis kondang jebolan Universitas Heidelberg, Jerman itu piawai sekali dalam menyajikan tulisan-tulisannya. Indah dan gemulai seperti indahnya tarian seorang penari perut top Mesir, Nagwa Fouad. Bahasan yang sangat berat ia sajikan dengan bahasa yang mudah dicerna.
Terpikat dengan gaya Anis Mansour dalam menulis, semua bukunya saya “lahap” dan pelajari. Utamanya sebuah karya puncaknya, Fi Shalun al-‘Aqqad (Di Salon al-‘Aqqad): sebuah buku ciamik setebal 680 halaman dan membahas tentang pergolakan pemikiran di Mesir.
Indah sekali cara Anis Mansour dalam menyajikan tulisannya. Padahal, materinya berat sekali. Hingga kini, buku itu masih kerap saya baca lagi: untuk memahami caranya dalam menyajikan bahasan yang berat dalam bahasa yang mudah dimengerti orang awam.
Menulis dengan gaya yang mudah dicerna memang perlu. Karena dengan gaya demikian, ilmu yang bercorak akademik dan berat dapat ditebarkan kepada masyarakat awam. Saya membayangkan, para sahabat dan saudara saya yang ilmuwan top, juga yang lain-lain, berkenan menuliskan kisah ilmiah mereka kepada masyarakat awam. Tentu, dengan bahasa yang mudah dicerna oleh mereka.
Saya yakin hal itu dapat dilakukan oleh beliau-beliau itu. Hal serupa telah telah dilakuan beberapa sahabat dan saudara saya lain. Seperti Prof. Dr. Hadi Susanto, seorang pakar matematika Indonesia yang kini menetap di Abu Dhabi, dan Dr. Ibrahim Kholilul Rahman, seorang ilmuwan jebolan dari sebuah universitas di Swedia.
Kemampuan menulis untuk masyarakat awam perlu. Memang, mengawalinya perlu “perjuangan”. Tapi, dengan segera hal itu dapat tertaklukkan.
Dalam hal ini, saya teringat pesan seorang pemilik sebuah toko buku kondang di Kairo, Penerbit Madbouly, kepada para teman-temannya yang ilmuwan, “Tolong, tulislah buku ilmiah yang mudah dimengerti oleh orang awam. Mereka sangat haus untuk mendapatkan pencerahan dari kalian, dengan bahasa mereka sebagai orang awam. Bukan dengan bahasa para ilmuwan yang hidup di ‘benteng-benteng’ yang disebut perguruan tinggi!”
Pesan yang indah!







