Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya.
Bumi Manusia, merupakan sebuah karya sastra yang sangat luar biasa, dimana novel ini ditulis ketika Pram diasingkan di Pulau Buru, bahkan buku ini telah diterjemahkan kedalam lebih dari 40 bahasa.
Novel ini merupakan buku pertama dari seri tetralogi Buru, sebuah kisah dengan latar pada tahun 1890-1918 pada masa kebangkitan nasional. Buku ini beredar bebas pada tahun 1980 hingga pada akhirnya dlarang terbit dan beredar pada masa pemerintahan presiden RI ke-2.
Novel ini ditulis oleh pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan hebat dari Blora, Jawa Tengah. Pramoedya Ananta Toer atau yang lebih akrab disapa mbah Pram ini lahir di Blora 6 februari 1925. Beliau menulis buku Bumi Manusia ini pada saat beliau diasingkan di Pulau Buru pada tahun 1975, namun sebelum itu Pram telah menceritakan karya ini kepada teman-temannya pada tahun 1973.
Novel dengan 535 halaman dan terbagi dalam 20 bab ini menceritakan tentang seorang tokoh pribumi yang bernama Minke dan gadis cantik seorang Indo yang bernama Annelis Mellema. Minke adalah seorang pemuda yang sangat mengagumi akan kecantikan dari sosok ratu Belanda yaitu ratu Wilhelmina.
Selain pengagum Ratu Wilhelmina Minke ini juga seorang pelajar HBS (Hoogere Burgerschool) Surabaya, HBS ini merupakan sekolah umum yang didirikan oleh Belanda dan tidak semua pribumi dapat mengenyam pendidikan di sana, namun minke adalah salah satu pribumi yang dapat bersekolah di HBS. Minke sendiri adalah sosok yang sangat cerdas dan berwawasan luas.
Pada bagian awal novel ini diceritakan bahwa suatu hariseorang teman Minke yang bernama Robert Suurhofmengajak Minke ke rumah seorang temannya yang bernama Robert Mellema di Wonokromo, Robert Surhoof mengatakan bahwa robert mellema ini mempunyai adik perempuan yang kecantikannya mengalahkan Ratu Wilhelmina.
Awalnya Minke menolak ajakan dari Robert, namun karena Robert terus-terusan mengolok dan meremehkan, akhirnya Minke menyetujui ajakan temannya tersebut. Bahkan Robert juga mengatakan jika Minke mampu menaklukan Annelis (adik Robert Mellema) maka ia akan menghormati Minke lebih dari gurunya sendiri, namun apabila Minke gagal maka Minke akan tetap menjadi bahan tertawaan Robert Suurhof selamanya.
Hingga pada akhirnya ketika Minke dan Robert Suurhof sampai di kediaman Robert Mellema dan bertemu dengan Annelis, Annelis justru sangat tertarik dengan Minke negitupun Nyai Ontosoroh (ibu Annelis) juga sangat tertarik dengan Minke, bahkan meminta Minke untuk datang kembali dan menginap di Boerderij Buitenzorg yang menjadi tempat tinggal Nyai Ontosoroh.
Setelah kembali dari Wonokromo, Minke terus memikirkan dan memepertimbangkan undangan dari Nyai Ontosoroh untuk tinggal di Wonokromo, hingga akhirnya Minke meminta pertimbangan dari sahabatnya Jean Marais, seorang pelukis berkebangsaan Prancis dan seorang penyandang difabel yang hanya memiliki satu kaki.
Setelah mempertimbangkan dan berdiskusi dengan Jean akhirnya Minke memutuskan untuk tinggal di Wonokromo. Setelah cukup lama tinggal bersama Nyai Ontosoroh da Annelis, Minke mulai memahami dan mengenal lebih dekat dengan ibu dan anak tersebut.
Minke mulai memahami bahwa Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik yang sangat tangguh dan bijaksana, di mana seluruh perusahaan yang memegang dan mengendalikan adalah Nyai Ontosoroh sendiri dan tentunya dibantu oleh Annelis. Seiring itu pula Minke menjadi lebih dekat dan diam-diam menaruh rasa pada Annelis.
Seiring dengan berjalannya waktu, banyak sekali konflik yang dihadirkan dalam novel ini, mulai dari Robert Mellema yang tidak menyukai kehadiran Minke di rumahnya dan berencana untuk membunuhnya, fitnah tentang Minke yang membuatnya hampir dikeluarkan dari HBS.
Konflik internal anatara Minke dan keluarganya, yang di mana ayah Minke adalah seorang bupati dan memiliki pandangan yang lebih tradisonal mengenai sosial dan budaya, tentu ini sangat bertentangan dengan Minke yang memulai membuka wawasan terhadap dunia Eropa dan ingin keluar dari belenggu kejawaan, hingga konflik terakhir yang dialami keluarga Nyai Ontosoroh, di mana Herman Mellema (suami Nyai Ontosoroh) meninggal dan kemudian Ir. Maurits Mellema (Putra Tuan Herman Mellema dengan istri sahnya) hadir dan meminta hak perwalian dan warisan akan perusahaan yang telah dibangun Nyai Ontosorh selama ini.
Namun Nyai Ontosoroh tetap berjuang dan bersikeras untuk mempertahankan apa yang telah dibangun dan dirintisnya, begitupun dengan Minke yang telah menikah secara sah dengan Annelis, yang otomatis perwalian Annelis jatuh kepada Minke.
Namun pengadilan Belanda tetap mempunyai berbagai cara untuk mengambil Annelis dan perusahaan tersebut dari Nyai Ontosoroh, karena memang pada saat kolonialisme ini pribumi tak akan mampu berbuat banyak dan tak akan mampu untuk melawan pengadilan Belanda, maka pada akhirnya Nyai Ontosoroh dan Minke kalah, kendati begitu setidaknya Nyai Ontosorh dan Minke telah melawan, dan mereka kalah dengan cara terhormat.
Dalam novel ini banyak sekali perbedaan kelas antara Totok dan juga Pribumi, deskriminasi seringkali didapati oleh masyarakat pribumi dan bahkan pribumi sendiri disamakan dengan anjing. Dalam novel ini masyarakat totok dianggap sebagai orang dengan tahta tertinggi (borjuis) sedangkan pribumi sebagai masyarakat dengan kelas sosial rendah (proletar). Hal ini tergambar dalam beberapa percakapan sebagai berikut:
“Jangan meringis! Kalau kau betul jantan. Akan aku hormati kau lebih daripada guruku sendiri. Kalau kau kalah, awa, untuk seumur hidup kau akan jaddi tertawaanku. Ingat-ingat itu Minke.”
“Kau memperolokku, Rob.”
“Tidak, pada suatu kali kau akan jadi bupati, Minke. Mungkin kau akan mendapat kebupatian tandus. Aku doakankau akan mendapat yang subur. Kalau dewi itu kelak akanmendampingimu jadi Raden Ayu, aduhai, semua bupati di Jawa akan demam kepialu karena itu.”
“Siapa bilang aku akan jadi bupati?”
“Aku. Dan aku akan meneruskan seklah ke Nederland. Aku kana jadi insyinyur. Pada wkatu itu kita akan bisa bertemulagi. Aku akan berkunjung padamu bersama istriku. Tahu kau pertanyaan pertama yang bakal kuajukan?”
“ Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati.”
“ Dengarkan dulu. Aku akan bertanya: Hai, philogynik, matakeranjang, buaya darat, mana haremu?”
“ Rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradap.”
“ Mana ada Jawa, dan bupati pula, bukan buaya darat?
“ Aku takkan jadi bupati.” Ia tertawa melecehkanku.
Dalam kutipak percakapan antara Minke yang seorangpribumi dengan Robert Suurhof yang seorang Belanda sudahsangat terlihat jelas adanya ketidakadilan sosial, sekalipunMinke adalah siswa HBS, tetap saja sejatinya ialah seorangpribumi yang bagi Masyarakat Belamda itu adalah satu halyang sangat rendah menurut pandangan budayanya.
“ Robert Mallema,: ia memperkenalkan diri.
“ Minke,” balasku.
“ Ia masih juga menjabat tanganku, menunggu akumenyebutkan nama keluargak. Aku tak punya, maka takmenyebutkan. Ia mengernyit. Aku mengerti: barangkalidianggapnya aku anak yang tidak tahu atau belum diakuiayahnya melalui pengadilan; tanpa nama keluarga adalah Indo hina, sama dengan pribumi. Dan aku memang pribumi. Tapi tidak, ia tidak menuntut nama keluargaku.”
Selain dari Robert Suurhof, Minke juga mendapatkanperlakuan yang kurang menyenangkan dari Robert Mellema, hal ini dikarenakan Minke yang menyebutkan Namanya tanpaada nama belakang/ nama keluarga. Dan hal ini menjadipenjelas bahwasannya borjuis dan proletar sangatlah berbeda.
“Siapa kasih kowe izin datang kemari, monyet!” Dengusnyadalam Melayu-pasar, kaku dan kasar, juga isinya.
“ Kowe kira, kalo sudah pake pakaian Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”
Pernyataan sarkas ini diungkapkan oleh Tuan Herman Mellema, suami dari Nyai Ontsosroh, melihat Minke yang seorang pribumi menjadi tamu di rumahnya membuatnyasangat kesal dan marah. Sekalipun Minke seorang pelajarHBS dan fasih berbahasa Belanda, tetap saja yang Namanya pribumi tetaplah pribumi.
Perbedaan status sosial ditunjukkan sangat kuat di sini, pribumi dan Eropa tak akan pernah setara dalam hal apaun, dan Eropa akan tetap merasa menjadi raja dan menganggap pribumi sebagai tamu, sekalipun itu di negaranya sendiri.
Tak hanya berhenti di situ, selain Minke, Nyai Ontosorohpun juga mendapatkan perlakuan yang menunjukkan adanyaperbedaan kelas sosial, dalam persidangan seringkali hakim mengolok-olok Nyai Ontosoroh yang notabennya adalahseorang pribumi sekaligus gundik dari Tuan Herman Melllema, hal tersebut tergambar dalam kutipan berikut:
…….” Derai tawa semakin meriah, mengejek, lebihdemonstratif juga jaksa, tersenyum senang dapat melakukansiksaan batin atas diri perempuan pribumi yang banyak diirioleh perempuan-perempuan Totok dan Indo Eropa itu.
Namun dalam novel ini penulis menggambarkan sosokNyai Ontosoroh sebagai sosok Perempuan yang cerdas, tangguh dan pekerja keras. Sekalipun seorang gundik, Nyai Ontosoroh tetap ingin memeperjuangkan haknya selayaknyamanusia yang Merdeka.
Melalui tokoh Nyai Ontosorohpenulis juga menyampaikan bentuk perlawanan rakyat pribumi terhadap Belanda. Dengan kegigihan, kecerdasanserta kerja kerasnya, Nyai Ontosoroh berhasil untukmenjalankan dan mengembangkan Perusahaan hinggasedemikian rupa, hal ini menjadi bukti bahwasannya pribumidan bahkan sorang gundik sekalipun mampu mendapatkanapa yang mereka inginkan jika itu disertai usaha yang kuat.
Berdasarkan novel ini penuis ingin menyampaikankepada pembaca bahwasannya perbedaan sosial bukanlah menjadi penghalang kita untuk terus maju dan berkembang, selagi ada kegigihan dan usaha yang besar dalam diri kita tidak ada yang tidak mungkin, semua bisa diusahakan dan diikhtiarkan.








