Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Kikigaki, Metode Panen Kearifan dari Khazanah Lokal (3/habis)

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
09/03/2025
in Cecurhatan
Kikigaki, Metode Panen Kearifan dari Khazanah Lokal (3/habis)

Kikigaki: Mendengar dan Menulis (2016)

Artikel tentang Kikigaki ini, adalah bagian dari edisi khusus Panen Kearifan — seri metodologi riset partisipatif yang digunakan Jurnaba untuk menjelaskan sejumlah metode dalam Memanen Kearifan Lokal.

Jurnaba sebagai lembaga yang concern melakukan perekaman, pengawetan, dan pelestarian kearifan-kearifan lokal, memang fokus dalam mempelajari, mengembangkan, dan mempopulerkan sejumlah metoda riset dalam memanen kearifan lokal. Satu di antara teknik “memanen kearifan lokal” itu, adalah metoda Kikigaki.

Seperti dua metodologi riset partisipatif sebelumnya — Etnografi dan Live In — Kikigaki juga dikenal sebagai metode riset partisipatif dalam menggali, memahami, dan Memanen Kearifan Lokal. Istilah Kikigaki berasal dari bahasa Jepang, Kiki (mendengar) dan Gaki (menulis). Kikigaki bermakna “mendengar dan menulis”.

Metode Kikigaki telah diterapkan di Jepang sejak 2002 silam. Sedang di Indonesia, metode Kikigaki ini dilakukan sejak 2012. Metode Kikigaki atau Kikigaki Koshien mulai menarik perhatian berbagai negara, khususnya di Asia, di negara-negara yang mengalami perkembangan ekonomi cukup pesat.

Pesatnya perkembangan ekonomi, menimbulkan berbagai persoalan seperti kerusakan hutan, degradasi lingkungan hidup, kesenjangan ekonomi, konflik antar suku, hingga kehilangan budaya dan sebagainya. Pada poin permasalahan inilah, metode Kikigaki dianggap mampu memberi solusi alternatif.

Di Indonesia, ada tiga buku metode Kikigaki yang sudah diterbitkan InsistPress. Mayoritas membahas filosofi dan teknik riset Kikigaki. Di antaranya buku berjudul Kikigaki: Menjembatani Budaya antar Generasi (2013); Kikigaki: Mendengar dan Menulis, Menjembatani Manusia, Alam, dan Budaya Antar Generasi (2016); dan yang lebih belakangan, berjudul Kikigaki: Mendengar dan Menulis (2017).

Awal Mula Kikigaki

Pada 2002, sebuah NGO Jepang bernama Kyouzon-no Mori Network, bekerjasama dengan Kementerian Pertanian, Kehutanan, Pendidikan, Budaya, dan Kementerian Teknologi, serta beberapa lembaga terkait, melaksanakan program pendidikan lingkungan hidup dan budaya lokal. Program inilah yang kelak dikenal dengan metode Kikigaki.

Kikigaki: A Tool for Sharing Wisdom for
Sustainable Societies (2012)

Pada program yang didukung perusahaan-perusahaan nasional tersebut, setiap tahunnya, ada 100 peserta dari SMA di seluruh Jepang mengunjungi orang-orang tua yang hidup di pedesaan. Di sana, para peserta belajar, serta medokumentasikan pengetahuan dan kearifan, tata cara hidup berbasis alam, serta pemikiran dan filosofi hidup yang mereka kembangkan.

Latar Belakang Kikigaki

Kehidupan sehari-hari manusia
dan akar budayanya, sangat
terkait erat dengan sumberdaya
alam di sekitar tempat mereka
hidup. Mereka memanfaatkan
sumberdaya alam seperti lahan
sawah, ladang, hutan, dan laut di sekitar mereka tinggal untuk penghidupan dan pekerjaan sehari-hari.

Selama proses pemanfaatan SDA tersebut, diiringi tumbuh-kembangnya kearifan atau pengetahuan lokal, dan cara pandang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Jepang, para generasi tua yang menjaga, merawat, dan mewariskan pandangan-pandangan akan kearifan lokal itu, disebut Meijin.

Para Meijin, umumnya berkegiatan sehari-hari sebagai petani, pengrajin,
atau nelayan. Setiap tahun,
sekitar 100 meijin dipilih dan
menerima penghargaan dari
berbagai lembaga dan organisasi
di lingkungan Kementerian
Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan Jepang.

Para Meijin itu, kemudian diikutkan sebagai narasumber dalam program Kikigaki yang diikuti 100 orang peserta dari siswa-siswa SMA. Sejak 2002, setiap tahun program tersebut diselenggarakan oleh Kyouzonno-Mori Network, suatu Non Government Organization (NGO) yang didukung berbagai lembaga terkait.

Di Indonesia, program Kikigaki juga telah diterapkan di Bogor pada September 2012. Dengan peserta para siswa SMA Bogor. Program ini bekerjasama dengan SMA Sakado di Jepang dan Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango. Kegiatan Kikigaki juga diadakan di Palu pada Desember 2012.

Kegiatan Kikigaki

Dalam program Kikigaki, setiap peserta akan bertanya pada Meijin tentang pekerjaannya, dan mereka diwajibkan merekam (mencatat) semua pembicaraan tersebut. Tiap kata dan frasa dalam rekaman, akan disalin kembali dalam bentuk sebuah narasi tulisan.

Selanjutnya, para peserta akan mengkonstruksi kembali cerita yang disampaikan oleh Meijin, dengan hanya menggunakan perkataan dari Meijin tersebut, dengan sudut pandang orang pertama tunggal. Artinya, pendapat atau tafsiran dari para peserta tidak dimasukkan dalam Kikigaki.

Dari proses Kikigaki tersebut, para peserta dapat mempelajari pengetahuan dan kearifan para Meijin tentang bagaimana hidup bersama alam, hingga pemikiran dan filosofi hidup yang mereka kembangkan. Proses ini, bertujuan menemukan kembali serta merawat nilai-nilai luhur tradisi berbasis alam dan budaya lokal.

Kikigaki

Secara sederhana, Kikigaki merupakan metode menggali pengetahuan dan kearifan, serta filosofi hidup dari para Meijin (sesepuh di sebuah desa), melalui wawancara intensif, untuk kemudian ditulis dalam kalimat bercerita. Kikigaki jadi metode menarik untuk menjembatani “generasi muda” dalam mengenal kearifan lokal “generasi tua”.

Melalui bimbingan dari Perdikan Jogja, Jurnaba sebagai lembaga yang concern melakukan pendokumentasian dan pelestarian kearifan-kearifan lokal, juga mempelajari, mengembangkan, dan berupaya mempraktekan metode Kikigaki ini dalam sejumlah giat di lapangan.

Kami membangun Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KERISKELOKA) sebagai bagian dari pangkalan data yang fokus menyimpan dan mengelola data kearifan lokal. KERISKELOKA disusun, dibangun, dan dirawat melalui metode kegiatan riset etnografi, live in, dan kikigaki yang dilakukan atas lisensi guru kami, Noer Fauzi Rachman PhD.

**

Tulisan ini bagian dari sedimentasi pembelajaran dalam program Study Luar Kampus yang dibina langsung Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman, PhD.

Tags: KERISKELOKAMakin Tahu IndonesiaMetode KikigakiPanen Kearifan
Previous Post

Melintasi Lorong Waktu di Masjid Cordoba

Next Post

Kenalkan Sejarah Bojonegoro, Komunitas SoBojonegoro Gelar Trip History Padangan Heritage

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Anyar Nabs

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: