Artikel tentang Live In ini, adalah bagian dari edisi Panen Kearifan — seri metodologi riset partisipatif yang digunakan Jurnaba untuk menjelaskan sejumlah metoda dalam Memanen Kearifan Lokal.
Jurnaba sebagai lembaga dinamisator literasi yang concern melakukan perekaman dan pelestarian kearifan-kearifan lokal, memang fokus mempelajari, mengembangkan, dan mempopulerkan sejumlah metoda Memanen Kearifan Lokal. Satu di antara teknik dalam “Memanen Kearifan” itu, adalah metoda Live In.
Live In memang sebuah tren aktivitas tinggal di suatu tempat bersama kelompok tertentu, dengan orientasi berlibur atau healing dari penatnya pekerjaan. Namun, pada konteks lain, Live In juga bisa dikembangkan sebagai motedologi riset yang serius. Dalam metodologi ini, Live In dikorelasikan dengan metode riset Etnografis.
Secara umum, Live In dan Etnografi memang tak memiliki korelasi metodologis apapun. Bahkan sedikit bertolak belakang. Namun, bukan berarti tak bisa dihubungkan. Justru, Etnografi dan Live In mampu disinergikan menjadi sebuah metodologi riset yang cukup komprehensif dalam mengunduh dan menemukan nilai Kearifan Lokal.
Dalam paparan akademik berjudul Belajar Menghadapi Masalah Dengan Metoda Live In (2023), Noer Fauzi Rachman PhD mencoba mengembangkan konsep Live In yang semula sekadar giat rekreatif, menjadi metode riset partisipatif, dalam menyusun dan mengolah data-data lapangan menjadi dokumen etnografi yang cukup komprehensif.

Dalam naskah akademik itu, peneliti dan pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung tersebut, menjadikan puisi karya filsuf besar Tiongkok, Lao Zi (570-470 SM), sebagai fondasi awal sekaligus trigger untuk menjalankan cara kerja metode Live In di lapangan.
Datangilah masyarakat, hiduplah bersama mereka; belajarlah dari mereka, cintailah mereka; mulailah dengan yang mereka tahu; bangunlah dengan apa yang mereka miliki. Ketahuilah, pemimpin terbaik adalah ketika pekerjaan selesai dan tugas telah dirampungkan, masyarakat akan berkata: “Kami sendirilah yang mengerjakannya” — Lao Zi.
Melalui puisi Lao Zi di atas, Noer Fauzi Rachman mencoba membangun sebuah metode untuk menjalankan riset partisipatif berbasis Live In. Naskah ini menganjurkan terjun dan belajar bersama masyarakat di tanah airnya, di kampung-kampung pedesaan. Secara generik, Live In berarti “to live at the place where you work or study” (hidup di tempat kamu bekerja atau belajar).
Yang menarik, judul bab per bab dalam naskah ini diambil dari bait puisi Lao Zi di atas. Mulai dari (1), Datangilah masyarakat, hiduplah bersama mereka; (2), Belajarlah dari mereka, cintailah mereka; (3), Mulailah dengan yang mereka tahu; dan (4), Bangunlah dengan apa yang mereka miliki.
Naskah metode Live In ini, dimaksudkan untuk menjadi bahan rujukan bagi siapapun yang berencana melatih sejumlah orang terjun, dalam periode waktu tertentu, untuk belajar memahami situasi masyarakat dalam kampung-kampung, dengan cara tinggal bersama dan terlibat dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.

Dalam teori Noer Fauzi Rachman, Live In tak sekadar giat rekreasi. Namun piranti mendapat dan mengolah data melalui proses memahami kondisi. Pada metodologi Live In, para pelajar diberi bekal untuk datang, tinggal, dan bekerja bersama masyarakat di kampung, dalam rangka memahami situasi hidup mereka, dengan hasil akhir sebuah karya riset partisipatif yang komprehensif.
Dalam Naskah akademik ini, juga merekomendasikan sejumlah buku-buku penting yang mampu melatih ketajaman empati dalam memahami kehidupan masyarakat. Seperti misalnya buku berjudul Orang-Orang Kalah (Roem Topatimasang, InsistPress 2004), dan Panggilan Tanah Air (Noer Fauzi Rachman, InsistPress 2017).
Noer Fauzi Rachman menyebut, metode Live In sebagai proses “Belajar dari Orang Kampung”. Layaknya sebuah pembelajaran, Noer Fauzi Rachman menekankan adanya poin-poin “sikap mental” yang wajib dimiliki. Seperti misalnya; sikap sabar berproses, sikap kritis namun rendah hati, sikap berwawasan partisipatif, hingga sikap gemar menolong.
Belajar, terutama belajar langsung dari kehidupan masyarakat dengan metode Live In, tidak akan memperoleh hasil seketika, layaknya produksi sebuah pabrik. Metode Live In juga tidak seperti belajar dari sebuah buku, yang dengan cepat bisa mendapat uraian lengkap, lalu bisa menghasilkan ringkasan.
Metode Live In, menurut Noer Fauzi Rachman, adalah proses melalui keterlibatan dinamika — suatu perjalanan untuk memahami bagaimana kekuatan yang diandalkan, situasi yang dihadapi, hingga siasat yang manjur dipakai untuk berjuang “mengubah posisinya”.
Selain memiliki spesialisasi pada metode etnografi, Jurnaba sebagai lembaga dinamisator literasi yang selama ini concern melakukan pendataan dan pelestarian kearifan-kearifan lokal, juga menjadikan metode Live In sebagai salah satu landasan metodologis untuk Memanen Kearifan Lokal.
Kami membangun Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KERISKELOKA) sebagai bagian dari pangkalan data yang fokus menyimpan dan mengelola data kearifan lokal. KERISKELOKA disusun, dibangun, dan dirawat melalui metode kegiatan riset etnografi dan live in yang dilakukan atas lisensi guru kami, Noer Fauzi Rachman PhD.
**
Tulisan ini bagian dari sedimentasi pembelajaran dalam program Study Luar Kampus yang dibina langsung Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman, PhD.








