Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ngaji Bersama Allama Mohammad Iqbal, Bapak Spiritual Pakistan

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
11/03/2025
in Cecurhatan
Ngaji Bersama Allama Mohammad Iqbal, Bapak Spiritual Pakistan

Allama Mohammad Iqbal (1877 - 1938)

Puasa adalah cermin yang memantulkan cahaya Ilahi. Dan dalam cahaya itu, kau melihat dirimu yang sebenarnya. —  (Mohammad Iqbal).

“Alhamdulillah, akhirnya kedua kaki ini menginjak Pakistan!” Demikian seru pelan saya, ketika pesawat yang saya tumpangi mendarat di Karachi International Airport. Beberapa tahun yang silam.

Kesempatan transit selama sehari pun saya manfaatkan kluyuran di seputar kota yang riuh di Pakistan itu. Termasuk, menziarahi Makam Quaid-i-Azam, Gubernur Jenderal Pertama Pakistan. Sayang, saya tidak ke Lahore: untuk berziarah ke Makam Mohammad Iqbal, seorang pemikir, penyair, dan filosuf kondang Pakistan.

Ini, karena jarak antara Karachi-Lahore cukup jauh: sekitar 1.220 kilometer. Meski demikian, kali ini, kita akan menemui “Bapak Spiritual Pakistan” itu. Untuk menimba ilmu dan hikmah serta belajar hidup kepadanya. Mohammad Iqbal yang juga dikenal dengan Allama Mohammad Iqbal, merupakan filsuf dan pemikir Pakistan yang punya pengaruh besar di dunia.

Iqbal lahir di Sialkot, sebuah kota yang kaya akan tradisi keilmuan dan spiritual. Ada yang menyatakan, ia lahir pada Sabtu, 22 Februari 1873 M. Namun, ada pula yang menyatakan, ia lahir pada Rabu, 9 November 1877 M. Seperti kebanyakan anak-anak di Sialkot, Iqbal pertama-tama belajar Alquran.

Selepas belajar Alquran, Iqbal kemudian disekolahkan di Scottish Mission School, Sialkot. Ayahnya ingin sekali Iqbal dididik oleh sahabatnya, Mir Hasan, yang sangat menguasai sastra Persia dan fasih berbahasa Arab. Iqbal berhasil merampungkan studinya di Scottish Mission School pada 1895 M.

Saat itu, ia sudah kerap menulis sajak-sajaknya. Dalam soal ini nama Dagh, penyair Urdu yang terkenal pada waktu itu, amat berjasa bagi perkembangan puisi-puisi Iqbal.

Di bawah bimbingan Mir Hasan—sang guru yang mahir sastra Persia bagai burung bulbul mahir bersenandung—Iqbal belajar bahwa Alquran bukan sekadar kumpulan ayat. Ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah-wajah manusia: yang patah oleh nafsu, yang suci oleh cinta, yang buta oleh kesombongan.

“Bacalah dengan nama Rabb-mu,” bisik Mir Hasan suatu senja. “Sebab, setiap huruf adalah jembatan antara debu dan cahaya.”

Namun, jiwa Iqbal juga merambah ke ranah lain: di Scottish Mission School, ia jatuh cinta pada puisi Urdu yang patah-patah di bibir penyair Dagh. Kata-kata menjadi permadani yang ia tenun sendiri—setiap benangnya adalah tanya, setiap motifnya adalah gugatan.

Allama Iqbal Poetry (Pinterest)

Kemudian, pada tahun 1895, Iqbal pindah ke kota Lahore. Salah satu kota besar di India ini memang menjadi pusat kebudayaan, pengetahuan, dan seni. Di kota itu Iqbal belajar di Goverment College. Di Government College ini, Iqbal mengguncang ruang kuliah dengan pertanyaan-pertanyaan yang berdarah, “Mengapa kita mempelajari Hegel tapi melupakan Rumi? Mengapa filsafat Yunani diagungkan, sementara warisan Ibn Arabi dibiarkan lapuk?”

Empat tahun kemudian, pada tahun 1899 M, selepas meraih gelar Master of Arts di bidang filsafat, Iqbal diangkat sebagai staf pengajar di Oriental College, Lahore. Di sini, ia memberikan kuliah tentang filsafat, sejarah, dan politik. Di Oriental College ini, ia mengajar filsafat sambil menulis sajak-sajak yang menyayat:

“Aku bukan penyair
Aku adalah suara yang tercecer dari puing-puing zaman.”

Di samping itu, ia terkadang juga memberikan kuliah bahasa Inggris di Islamia College, Lahore dan Government College, Lahore. Lantas, pada Juni 1903, ia diangkat sebagai Assistant Professor di Goverment College. Di sini, ia memberikan kuliah mengenai filsafat, sejarah, dan ekonomi, sampai ia berangkat ke Cambridge, Inggris pada 1905 M.

 

Ketika berada di perpustakaan Universitas Cambridge yang dingin, jemari Iqbal menari di atas naskah “The Development of Metaphysics in Persia”. Namun, hati kecilnya berteriak, “Metafisika bukan untuk dikubur dalam disertasi! Ia harus hidup dalam darah perjuangan!”

Selepas merampungkan program doktornya dengan disertasi berjudul “The Development of Metaphysics ini Persia”, Iqbal kembali ke negerinya dan kembali akrab dengan dunia pendidikan, yakni di Government College.

Namun, Iqbal kemudian mengundurkan diri dan terjun di bidang hukum sebagai pengacara. Ia memilih profesi yang bebas ini dengan maksud agar ia tetap bebas dalam mengemukakan ide-idenya. Ia menolak jabatan profesor, memilih menjadi pengacara. “Hukum,” katanya pada salah seorang sahabatnya, “adalah medan perang melawan kegelapan. Di sini, kata-kataku bisa menjadi pedang.”

Belakangan, Iqbal ditawari pemerintah India suatu jabatan di Dinas Pendidikan. Namun, ia menolak tawaran itu. Selain itu, ia juga menolak kursi profesor di Departemen Filsafat, Universitas Muslim Aligarh. Ia juga menolak pengangkatan dirinya sebagai guru besar di Goverment College, Lahore. Meski demikian, selama hayatnya Iqbal senantiasa akrab dengan berbagai persoalan pendidikan.

Pada 1927 M, Iqbal mulai memasuki kehidupan politik, ketika ia terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Punjab. Tiga tahun kemudian ia ditunjuk sebagai Presiden tahunan Liga Muslim yang berlangsung di Allahabad. Karena kesibukannya yang luar biasa, Iqbal kerap diundang untuk berceramah di berbagai tempat di dunia, sejak 1934 M, kesehatannya mengalami kemunduran.

Tahun berikutnya Iqbal tidak dapat memenuhi undangan ke Oxford selaku dosen pada “Program Rhodes”, yang diikuti para mahasiswa dari negara-negara Commonwealth, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Akhirnya, pada Kamis, 21 April 1938 M jam lima pagi, tokoh yang menonjol di antara bangsanya dan umat manusia ini menghembuskan napas terakhir dengan meninggalkan sederet karya, antara lain The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Asrar-i-Khudi, Rumuz-i-Bekhudi, Bang-i-Dara, Payam-i-Mashriq, Javid Namah, dan Zabur-i-Ajam.

Seperti telah dikemukakan di atas, sejak kecil, Iqbal telah akrab dengan Alquran, yang menjadi fondasi awal pembentukan karakternya. Ayahnya, orang yang taat beragama, berusaha memastikan Iqbal belajar Alquran di bawah bimbingan Mir Hasan, seorang ulama yang mahir dalam sastra Persia dan Arab. Dari sinilah Iqbal mulai memahami bahwa Alquran bukan hanya kumpulan ayat-ayat. Namun, Alquran, baginya, adalah sumber kebijaksanaan yang tak pernah kering.

Sejak itu, Iqbal menjadi sosok yang tak pernah lepas dari Alquran. Baginya, Kitab Suci ini bukan sekadar teks religius. Namun, Alquran adalah sumber inspirasi yang mengalirkan kehidupan ke dalam setiap bait puisinya dan setiap gagasan filosofisnya. Ia melihat Alquran sebagai “Kitab Kehidupan” yang membangkitkan semangat, menggerakkan akal, dan menyentuh hati.

Selain itu, dalam pandangan Iqbal, Alquran adalah “Kitab Dinamisme” yang mengajarkan manusia untuk terus bergerak, berpikir, dan berkreasi. Ia menolak pandangan statis tentang agama dan menyerukan pembaharuan pemikiran Islam. Dalam bukunya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, Iqbal menegaskan bahwa Alquran adalah petunjuk bagi manusia untuk membangun peradaban yang progresif dan bermartabat.

Di sisi lain, berkaitan dengan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Iqbal menemukan kedalaman spiritual yang tak terhingga, yang kemudian ia tuangkan dalam karya-karyanya yang memukau. Menurut ia, Ramadhan, Bulan Suci yang sarat dengan kedamaian dan pencerahan, menjadi momen penting baginya untuk merenungkan makna puasa dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam salah satu puisinya yang terkenal, Bang-i-Dara, ia menggambarkan Ramadhan sebagai waktu ketika hati manusia dibersihkan dari segala noda duniawi dan jiwa didekatkan kepada Sang Pencipta:

Bulan Ramadan telah tiba
Waktu untuk membersihkan jiwa
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga
Namun, juga menahan nafsu yang membelenggu.
Di dalam keheningan malam
Hati berbicara kepada Sang Khalik
Dan dalam kesunyian itu
Kita menemukan diri kita yang sejati.

Puisi Iqbal ini menggambarkan esensi puasa Ramadhan yang sesungguhnya: bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Namun, juga menahan diri dari segala bentuk kejahatan dan kesombongan. Puasa, bagi Iqbal, adalah proses penyucian diri yang mengantarkan manusia lebih dekat kepada Tuhan.

Iqbal juga melihat puasa sebagai latihan spiritual yang mendalam. Dalam pandangannya, puasa mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri, mengasah empati, dan merenungkan makna kehidupan. Puasa adalah momen ketika manusia diingatkan akan ketergantungannya kepada Tuhan dan tanggung jawabnya terhadap sesama. Hal itu seperti ia sajikan pada puisinya pada permulaan tulisan ini.

Dengan kata lain, bagi Iqbal, puasa bukanlah ritual yang kosong. Namun, puasa adalah proses transformasi diri yang mengantarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Puasa mengajarkan kesabaran, ketulusan, dan keikhlasan—nilai-nilai yang menjadi inti dari ajaran Islam.

Karena itu, dalam Ramadhan, Iqbal mengajak kita untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Ia mengajak kita, dalam Asra-i-Khudi, untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan mendekatkan diri kepada Tuhan:

Puasa adalah jalan untuk menemukan diri sejati
Ketika engkau menahan diri dari yang halal
Engkau belajar mengendalikan yang haram
Puasa adalah cermin yang memantulkan cahaya Ilahi
Dan dalam cahaya itu, engkau melihat dirimu yang sebenarnya.

Mohammad Iqbal, dengan segala kedalaman pemikirannya dan keindahan puisinya, mengingatkan kita bahwa Alquran dan Ramadhan adalah dua hal yang tak terpisahkan. Mereka adalah sumber cahaya yang menerangi jalan hidup kita, membimbing kita menuju kebenaran, dan mengajak kita untuk menjadi manusia yang lebih baik!

Tags: Allama Mohammad IqbalMakin Tahu IndonesiaMohammad Iqbal
Previous Post

Sejarah Pembangunan Jembatan Bengawan Cepu - Padangan Awal Abad 20 M

Next Post

BI Gelar Workshop Raperda Dana Abadi Migas, Perkuat Model Akuntabilitas dan Pengawasan Publik

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: