Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sejarah Pembangunan Jembatan Bengawan Cepu – Padangan Awal Abad 20 M

Muhammad Andrea by Muhammad Andrea
11/03/2025
in Destinasi
Sejarah Pembangunan Jembatan Bengawan Cepu – Padangan Awal Abad 20 M

Jurnaba: Pembangunan jembatan Cepu - Padangan (1913, Delpher)

Pembangunan jembatan Cepu – Padangan pada awal abad 20 M, bernilai strategis bagi pemerintah kolonial Belanda, dalam memperlancar industrialisasi dan perdagangan jalur internasional.

Pembangunan infrastruktur transportasi di Hindia Belanda mengalami perkembangan pesat pada awal abad ke-20, termasuk pembangunan jembatan di Sungai Bengawan Solo yang menghubungkan Cepu dan Padangan. Proses pembangunan ini tercatat dalam jurnal De Waterstaats-Ingenieur serta laporan Departemen Jembatan dan Jalan tahun 1913.

Pada tahun 1912, desain awal jembatan mulai disusun dengan spesifikasi dua bentang utama, masing-masing sepanjang 45 meter dengan lebar 3,3 meter. Struktur jembatan ini didukung oleh fondasi cincin yang ditanam dalam tanah liat biru padat hingga kedalaman tertentu. Desain tersebut akhirnya disetujui pada Februari 1914, dan pekerjaan konstruksi dimulai pada Mei tahun yang sama.

Jurnaba: Pembangunan Jembatan Cepu – Padangan (Delpher)

Pembangunan jembatan sempat terhenti pada akhir tahun 1914 akibat pecahnya Perang Dunia I. Namun, proyek ini kembali dilanjutkan pada Mei 1915 dengan menerapkan metode penenggelaman sumur menggunakan pompa sentrifugal bertenaga listrik. Dinamo yang digunakan memiliki kapasitas 12 kW, dengan tenaga penggerak berupa lokomobil berkekuatan 21 HP.

Para pekerja lokal bertugas menggali bawah air tanpa alat selam, sementara sumur-sumur yang digali dipompa untuk menjaga kejernihan air. Setelah mencapai kedalaman yang ditentukan, sumur-sumur tersebut diisi dengan beton yang terdiri dari campuran kapur, pasir, dan kerikil dari Sungai Solo.

Perbedaan tinggi permukaan air Bengawan Solo, yang bisa mencapai 9 meter, menjadi tantangan utama dalam pemasangan jembatan. Untuk mengatasinya, perakitan dilakukan tanpa menggunakan perancah di sungai. Sebagai gantinya, dua kabel baja direntangkan melintasi sungai untuk mendukung pemasangan. Metode ini memungkinkan pekerjaan tetap berlangsung meskipun musim hujan melanda pada tahun 1916-1917.

Jembatan pertama kali dirakit di tepi kiri sungai, lalu secara bertahap dipindahkan ke posisinya menggunakan sistem troli dan alat bantu Weston. Setelah satu bentang terpasang, metode yang sama diterapkan untuk bentang berikutnya dengan bantuan rel kecil dan balok lintang.

Sebagai salah satu jembatan penghubung Bengawan Solo yang paling tua di Pulau Jawa ini, surat kabar Hindia Belanda (1914) melaporkan bahwa pemerintah Hindia-Belanda telah mengalokasikan dana sebesar f 231.000 untuk mensukseskan pembangunan “jembatan besar” ini.

Jurnaba: Peta Pembangunan Jembatan Cepu – Padangan (Delpher)

Jembatan Cepu – Padangan memiliki nilai strategis bagi pemerintah kolonial Belanda, terutama dalam memperlancar industrialisasi dan perdagangan lintas ibu kota dan jalur internasional. Sebelumnya, akses transportasi antara Cepu dan Padangan masih mengandalkan perahu tambangan, yang dinilai kurang optimal.

Karena itu, Belanda memutuskan untuk menggantinya dengan jembatan permanen, yang dibangun di hulu, sekitar 70 meter dari jembatan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (N.I.S.) yang juga melintasi Sungai Bengawan Solo.

Menurut laporan surat kabar Hindia Belanda, jembatan ini selesai dibangun pada akhir tahun 1917 dan diresmikan pada awal tahun 1918. Dalam salah satu pemberitaan disebutkan, Mr. Begemann, seorang insinyur dari Burgelijke Openbare Werken (B.O.W.) di Bojonegoro, mengungkapkan kegembiraannya karena pembangunan jembatan ini telah mendekati tahap penyelesaian. Disebutkan bahwa pada akhir Desember 1917, proyek ini telah mengalami kemajuan signifikan dan diperkirakan siap dibuka untuk lalu lintas mulai 1 Januari 1918.

Tags: Jembatan Antar ProvinsiMakin Tahu IndonesiaSejrah Jembatan Cepu - Padangan
Previous Post

Mengenal Albaicin, Distrik Islam di kota Granada Andalusia

Next Post

Ngaji Bersama Allama Mohammad Iqbal, Bapak Spiritual Pakistan

BERITA MENARIK LAINNYA

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol
Destinasi

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

09/04/2026
‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka
Destinasi

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

06/04/2026
‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro
Destinasi

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

29/03/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: