Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Terimakasih Sayyidah Fathimah al-Fihriyah

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
19/03/2025
in Cecurhatan
Terimakasih Sayyidah Fathimah al-Fihriyah

Perbincangan dengan Sayyidah Fatimah Al Fihriyah

Perbincangan imajiner bersama perempuan pendiri universitas pertama di dunia. 

Senja itu, di bawah langit yang memancarkan warna jingga keemasan, saya berdiri di pelataran Masjid dan Universitas al-Qarawiyyin, Fez, Maroko. Bangunan bersejarah ini, dengan menara-menara yang menjulang tinggi dan ukiran kaligrafi yang memesona, seolah menyimpan ribuan kisah dalam setiap sudutnya.

Kali ini, saya bukan sekadar pengunjung. Saya adalah seorang penjelajah waktu yang diizinkan untuk berbincang—secara imajiner—dengan sosok legendaris: Sayyidah Fathimah al-Fihriyah, pendiri universitas pertama di dunia.

Tak lama kemudian, Fathimah al-Fihriyah muncul. Dia menyambut saya dengan senyum yang memancarkan ketenangan dan kebijaksanaan. Busananya sederhana, namun aura kepemimpinannya terasa begitu kuat. Kedua matanya, yang seolah menyimpan seluruh ilmu dunia, memandang saya dengan lembut.

“Ahlan wa sahlan wa marhaban, yâ ibnî,” ucapnya dengan suara lembut. Seolah menggema dari lorong-lorong sejarah. “Apa yang membawa Anda ke sini?” Saya terdiam sejenak, mencoba menata kata-kata. “Saya ingin tahu, Sayyidah Fathimah, tentang perjalanan hidup panjenengan. Bagaimana panjenengan berhasil mewujudkan mimpi sebesar ini? Bagaimana semua ini dimulai?”

Fathimah al-Fihriyah tersenyum. Lalu, perempuan sepuh itu mengajak saya duduk di bawah pohon tua yang rindang di tengah pelataran universitas. Suara gemericik air mancur mengiringi percakapan kami. Seolah, menjadi musik latar bagi kisah yang akan beliau sampaikan.

“Saya lahir di kota Kairouan, Tunisia, pada awal abad ke-9,” mulainya dengan suara lembut. “Keluarga saya adalah keluarga pedagang yang cukup berada. Ayah saya, Muhammad al-Fihri, adalah orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayah kerap bercerita tentang pentingnya menuntut ilmu dan berbagi pengetahuan dengan sesama.”

Usai bercerita demikian, Fathimah al-Fihriyah menghela napas. Seolah mengenang masa lalu. “Ketika saya masih kecil, keluarga kami memutuskan untuk pindah ke Fez, Maroko. Saat itu, Fez adalah kota yang sedang berkembang pesat, menjadi pusat perdagangan dan budaya. Ayah percaya bahwa di sini, kami dapat menemukan kehidupan yang lebih baik.”

Perjalanan dari Tunisia ke Maroko, kala itu, bukanlah hal yang mudah. Fathimah al-Fihriyah menceritakan bagaimana mereka harus menempuh perjalanan berbulan-bulan, melintasi gurun dan pegunungan. “Namun, perjalanan itu mengajarkan kepada saya banyak hal,” kenangnya. “Saya belajar tentang ketangguhan, kesabaran, dan pentingnya memiliki tujuan yang jelas.”

Setiba di Fez, keluarga al-Fihri pun mulai membangun kehidupan baru. Ayah Fathimah sukses dalam bisnisnya, dan keluarganya menjadi salah satu keluarga terpandang di kota itu. Namun, tak lama selepas mereka menetap, ayahnya berpulang, meninggalkan Fathimah dan saudara perempuannya, Maryam, dengan warisan yang cukup besar.

“Ayah selalu berpesan, ‘Harta yang paling berharga adalah ilmu pengetahuan,’” kenang Fathimah al-Fihriyah. “Ayah meninggalkan untuk kami bukan hanya harta benda. Namun, juga mimpi-mimpi besar. Saya dan Maryam pun memutuskan untuk menggunakan warisan itu untuk sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.”

Fathimah al-Fihriyah kemudian bercerita tentang bagaimana dia dan saudarinya kerap berdiskusi tentang mimpi-mimpi mereka. “Saya ingin membangun sebuah masjid yang bukan hanya menjadi tempat ibadah. Namun, juga menjadi pusat pembelajaran. Tempat di mana semua orang, tanpa memandang latar belakang, dapat datang untuk menuntut ilmu.”

Ternyata, mimpi Fathimah al-Fihriyah tidak mudah diwujudkan. Dia menghadapi banyak tantangan, mulai dari skeptisisme masyarakat hingga kesulitan teknis dalam pembangunan. “Banyak orang yang meragukan niat saya,” akunya.

“Mereka bertanya, ‘Mengapa seorang perempuan ingin membangun masjid dan universitas?’ Namun, saya yakin bahwa ini adalah panggilan hati saya.”

Dengan tekad yang kuat, Fathimah al-Fihriyah kemudian memulai proyek pembangunan Masjid Al-Qarawiyyin pada tahun 859 M. Dia sendiri yang mengawasi setiap detail pembangunannya, dari pemilihan lokasi hingga desain arsitektur. “Saya ingin masjid ini menjadi tempat yang indah, namun fungsional. Tempat yang menginspirasi siapa pun yang memasukinya.”

Proses pembangunan memakan waktu bertahun-tahun. Fathimah al-Fihriyah menceritakan bagaimana dia harus menghadapi berbagai rintangan, termasuk kekurangan bahan bangunan dan cuaca yang tidak bersahabat. “Namun, setiap kali saya merasa lelah, saya ingat pesan Ayah: ‘Ilmu adalah cahaya yang memendari jalan hidup.’ Itu memberi saya kekuatan untuk terus melangkah.”

Setelah masjid rampung dibangun, Fathimah al-Fihriyah tidak berhenti di situ. Dia memiliki visi yang lebih besar: menjadikan al-Qarawiyyin sebagai pusat pembelajaran yang diakui dunia. “Saya ingin menciptakan tempat di mana ilmu pengetahuan dari berbagai bidang dapat dipelajari dan dikembangkan,” ujarnya.

Untuk itu, Fathimah al-Fihriyah mengundang para ulama, ilmuwan, dan filosuf terkemuka dari seluruh Dunia Islam untuk mengajar di al-Qarawiyyin. Dia juga membangun perpustakaan yang menyimpan ribuan manuskrip dari berbagai bidang, seperti astronomi, matematika, kedokteran, dan filsafat. “Perpustakaan adalah jantung dari universitas ini,” tuturnya dengan bangga.

Namun, perjuangan Fathimah al-Fihriyah tidak berhenti di situ. Dia harus memastikan bahwa al-Qarawiyyin tetap menjadi tempat yang inklusif, terbuka bagi semua orang, tanpa memandang gender, suku, atau agama. “Saya percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah hak semua manusia,” tegasnya.

Fathimah al-Fihriyah juga mengakui bahwa perjalanannya penuh dengan suka dan duka. “Ada saat-saat di mana saya merasa sangat lelah dan hampir menyerah,” akunya. “Namun, setiap kali saya melihat wajah-wajah penuh semangat dari para mahasiswa yang datang ke sini, saya tahu bahwa semua perjuangan ini tidak akan sia-sia.”

Fathimah al-Fihriyah juga bercerita tentang dukungan dari saudarinya, Maryam, yang membangun Masjid al-Andalus di seberang al-Qarawiyyin. “Kami seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi,” ujarnya dengan senyum. “Maryam adalah sumber kekuatan bagi saya.”

Sebelum percakapan kami berakhir, saya bertanya, “Apa pesan Anda untuk generasi sekarang, Sayyidah Fathimah?”
Mendengar ucapan saya yang demikian, Fathimah memandangi saya dengan tatapan yang dalam. “Ilmu pengetahuan adalah warisan abadi. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti berbagi. Setiap dari kita memiliki tanggung jawab untuk meninggalkan dunia ini lebih baik daripada saat kita datang. Jadilah seperti air yang mengalir, memberi kehidupan ke mana pun ia pergi.”

Ketika malam mulai menyelimuti langit Fez, Sayyidah Fathimah al-Fihriyah mengajak saya berjalan menuju menara masjid. Dari sana, kami dapat melihat seluruh kota, dengan lampu-lampu yang mulai menyala bagaikan bintang-bintang di bumi. “Lihatlah,” ujarnya, suaranya bergetar penuh emosi. “Setiap cahaya yang Anda lihat itu adalah harapan. Harapan yang lahir dari ilmu pengetahuan, dari mimpi-mimpi yang tidak pernah padam.”

Saya terdiam, meresapi setiap kata yang dia ucapkan. Di hadapan saya, berdiri seorang perempuan sepuh yang, berabad-abad lalu, telah mengubah wajah dunia dengan visinya yang tak terbatas. Dia bukan hanya pendiri universitas pertama di dunia. Namun, ia juga merupakan simbol kekuatan, keteguhan, dan cinta pada ilmu pengetahuan.

“Matur nuwun, Sayyidah Fathimah al-Fihriyah,” kata saya. Dengan suara yang nyaris tertelan angin malam.

Fathimah pun tersenyum. Kedua matanya berbinar bagaikan bintang-bintang di langit. “Jangan pernah lupa, setiap dari kita memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Mulailah dengan mimpi, lanjutkan dengan tindakan, dan akhiri dengan warisan yang abadi.”

Ketika saya melangkah keluar dari gerbang Masjid dan Universitas al-Qarawiyyin, saya merasa seperti membawa secercah cahaya dari Fathimah al-Fihriyah. Cahaya itu bukan hanya memendari jalan yang saya titi. Namun, juga mengingatkan saya bahwa setiap langkah, setiap mimpi, dan setiap tindakan kita dapat menjadi warisan yang mengubah dunia. Dan di tengah gemerlap kota Fez, saya berjanji pada diri saya sendiri: saya akan melanjutkan perjuangannya, dengan ilmu, dengan ketulusan, dan dengan tekad yang tak tergoyahkan!

Tags: Catatan Rofi' UsmaniFathimah Al FihriyyahPerbincangan ImajinerSeri Zakemsalam Jurnaba
Previous Post

Sarang Agroekologi: Pusat Budaya dan Keanekaragaman Hayati

Next Post

Diskusi Multipihak: BI Dorong Transparansi dan Akuntabilitas Dana Abadi Migas

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: