1 Syawal 1446 H telah kita napaki. Gema takbir yang dikumandangkan menunjukkan kemenangan.
Secara sederhana, kemenangan yang dimaksud adalah keberhasilan kita melakoni puasa sebulan penuh. Dalam bahasa Husein Muhammad (2023:160), bila kegembiraan yang diluapkan dengan takbir, itu karena kita telah berhasil puasa sebulan penuh beserta amal ibadah di dalamnya, seperti tarawih dan membaca Al-Qur’an serta bentuk ibadah lainnya.
Tentu perilaku ibadah tersebut jangan sampai mandek di akhir Ramadan 1446 H, yang digenapkan sampai 30 hari. Bila hal itu sampai terjadi, Bisyr al-Hafi, dalam kita Lataif al-Maarif: 390, menyebut sebagai pribadi yang pelit. Karena, kesungguhan ibadahnya hanya kala Ramadan saja.
Pribadi Sejati
Sebaliknya, menurut beliau –Bisyr al-Hafi, dikata pribadi sejati manakala ibadah yang dilakukan konsisten sepanjang tahun. Ia menjadikan Ramadan sebagai pelecut, asah diri, agar energi ibadah yang dilakukan selama sebulan menjadi pemicu diri untuk tetap konsisten dilakukan pasca ramadan.
So, bagaimana agar ibadah kita konsisten sepanjang tahun? Penulis coba memberi tiga langkah sederhana hasil best praktis.
Pertama, mengingat kemenangan Ramadan. Mengingat-ingat keberhasilan ibadah Ramadan kita, bagi penulis adalah cara apik menghargai diri. Sebagai contoh, bisa full puasanya, lalu sunah tarawih-witir, khatam Al-Qur’an, dapat memotivasi diri untuk melanjutkannya di bulan Syawal.
Diri seakan berkata “Terlalu eman-emani, bila keberhasilan ibadah Ramadan tidak diteruskan”. Sehingga, kebiasaan tersebut bisa dijadikan perjalanan awal (start) untuk tidak hanya satu bulan saja keberhasilan tersebut diraih. Melainkan dapat diulang di bulan Syawal, hingga ketemu Ramadan 1447 H.
Kedua, introspeksi diri. Introspeksi diri memiliki fungsi penting untuk melakukan evaluasi. Ia bisa dilakukan harian, dengan melihat dan mempertanyakan apakah kewajiban yang diembankan oleh Allah Swt telah semua dilaksanakan!
Bila sudah semua kewajiban dilaksanakan, artinya perlu dihadirkan keinginan untuk melaksanakan perintah yang sunah. Sebaliknya, bila masih ada yang lubang –ada kewajiban yang ditinggalkan, inilah yang penulis maksud, yakni kita melakukan perbaikan dihari berikut dan berikutnya.
Ketiga, giat menggali pengetahuan agama. Semangat menjalankan ibadah akan bisa dilakukan sepanjang tahun, bila itu ditunjang keilmuan agama yang mumpuni. Guna memiliki ilmu Agama yang mumpuni, ikhtir untuk mencarinya kudu dilakukan.
Sebagai contoh, menjadwalkan diri hadir di majelis ilmu, baik yang dilaksanakan di masjid dan mushola, maupun saluran lain yang secara online kita bisa ikuti pengajian para ulama dan kiai. Dari istikamah hadir di majelis ilmu, pendalaman pengetahuan akan bertambah. Sehingga, bisa digunakan untuk mempertebal semangat melakukan amaliah secara konsisten.
Tiga ikhtiar kecil di atas, semoga bisa menjadikan kita sebagai pribadi sejati, yakni yang open dan semangat dalam beribadah sepanjang tahun. Selamat merayakan kemenangan di Idulfitri kali ini.
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.








