Bhinnasrantaloka sebagai warisan para leluhur Bojonegoro, bermuatan nilai harmoni dan toleransi. Ajaran Nenek Moyang ini, masih lestari sebagai spirit primordialisme hingga kini.
Identitas paling melekat dari masyarakat Bojonegoro, adalah kuatnya ikatan primordialisme — cenderung bahagia dan bangga, saat berjumpa sesama di tempat perantauan. Melalui romantisme kampung halaman, sentimen kedaerahan kerap kali jadi pembangkit solidaritas persaudaraan.
Bagi masyarakat Bojonegoro (di perantauan), sentimen kedaerahan berada di atas kepentingan golongan, baik itu politik, aliran, ataupun sekte. Spirit kedaerahan menjadi konsensus tak tertulis yang telah diajarkan para leluhur, dan disepakati alam bawah sadar, selama berabad-abad silam.
KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Bojonegoro sebagai kawasan prototype toleransi. Sebab, wilayah ini menjadi bukti bahwa Islam masuk, tumbuh, dan berkembang pesat, tanpa pernah melewati satupun pertumpahan darah. Tulisan Gus Dur ini, tentu berbasis data dan argumentasi yang kuat.
Dalam konteks lebih luas, masyarakat Bojonegoro dikenal sangat menjunjung tinggi sikap harmoni — cenderung memprioritaskan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian hidup. Baik harmoni sesama manusia (hablu mina al-nas), ataupun harmoni dengan alam (hablu mina al-alam). Kecenderungan ini bukan tanpa bukti.

Dalam harmoni sesama manusia, tercatat setajam apapun gejolak politik di Nusantara (Indonesia), Bojonegoro selalu berada dalam atmosfer kondusif. Sementara dalam harmoni dengan alam; digempur banjir sedahsyat apapun, tak butuh waktu lama bagi masyarakat Bojonegoro untuk kembali bertani, berladang, dan bekerja di pinggir Bengawan.
Karakter masyarakat Bojonegoro yang luwes, adaptatif, memiliki tingkat primordial kuat, hingga menjunjung tinggi prinsip harmoni dan toleransi, bukanlah sesuatu yang baru. Sebab, ia falsafah yang diwariskan para leluhur secara turun-temurun. Sebuah falsafah yang dikenal dengan istilah Bhinnasrantaloka.
Sejarah Bhinnasrantaloka
Secara harfiah, Bhinnasrantaloka (Bhinnasrantalokapalaka) memiliki arti Penyatuan wilayah Nusantara. Istilah Jawa Kuno ini muncul pada baris ke-5 Prasasti Maribong (1264 M) yang dikeluarkan Raja Wisnuwardhana, sebagai hadiah untuk para Begawan Jipang (Bojonegoro), atas jasa mereka yang telah membantu para leluhurnya dalam menyatukan Nusantara.
Penyatuan Nusantara, dalam hal ini, adalah penyatuan Jenggala (Utara Jawa) dan Panjalu (Selatan Jawa), yang atas nama perdamaian — pada masa pemerintahan Raja Erlangga Medang Kahuripan (1019 – 1043 M) — sempat dipisah untuk menghindari perang saudara. Dan atas nama perdamaian pula, Para Begawan Bojonegoro menyatukan kembali dua wilayah itu.
Berkat bantuan Para Begawan Bojonegoro dalam “menyatukan” Jenggala dan Panjalu, leluhur Wisnuwardhana (Raja Ken Arok), mampu mendirikan Tumapel (Kerajaan Singhasari). Ini alasan Wisnuwardhana sangat hormat pada para Begawan Bojonegoro. Penghormatan itu diwujudkan dengan ditulisnya Prasasti Maribong (1264 M).
Sejarawan lain menyebut, keistimewaan tanah Maribong sebagai titik Bhinnasrantaloka, sudah terbangun jauh-jauh hari sejak zaman Raja Airlangga (990 -1049 M). Sebab, di tempat itulah Sang Raja “menyatukan” Medang Jawa Tengah dan Medang Jawa Timur (Pucangan, 1041 M); hingga kemudian melahirkan Medang Kahuripan (1019 – 1049 M).
Maribong — tempat di mana prasasti itu ditancapkan Raja Wisnuwardhana pada 1264 M — saat ini berada di Dusun Merbong, Ngraho, Bojonegoro. Di lokasi inilah, status Bhinnasrantaloka itu ditetapkan Raja Wisnuwardhana, sebagai tempat khusus yang dihuni dan didiami Para Begawan.
Istilah Bhinnasrantaloka yang tertulis pada Prasasti Maribong, merupakan status “endemik” Bumi Bojonegoro. Bhinnasrantaloka menjadi identitas Para Begawan Bojonegoro yang berkontribusi besar atas penyatuan Nusantara dan berdirinya Kerajaan Singhasari.
Bhinnasrantaloka mirip Bhinneka Tunggal Ika. Bedanya, Bhinnasrantaloka jauh lebih tua dibanding Bhinneka Tunggal Ika. Bhinneka Tunggal Ika baru ditulis Mpu Tantular pada 1389 M, pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk Majapahit. Sementara status Bhinnasrantaloka sudah ditetapkan Raja Wisnuwardhana untuk wilayah Bojonegoro pada 1264 M.
Spirit Bhinnasrantaloka
Secara geografis, Bhinnasrantaloka adalah titik penyatuan, tanah penyimpul, dan bumi pemersatu Nusantara. Bhinnasrantaloka dikenal sebagai tanah yang mampu menyatukan Utara Jawa dan Selatan Jawa. Bhinasrantaloka menjadi bukti empiris bahwa Bojonegoro merupakan kawah wasathiyah (penengah). Poros penengah peradaban sekaligus titik penyatuan.
Secara makna dan nilai hidup, Bhinnasrantaloka memuat norma-norma tentang penyatuan, harmoni, toleransi, hingga sikap primordialisme tinggi. Nilai-nilai di atas menjadi konsensus turun temurun yang menjadi DNA masyarakat Bojonegoro dalam hidup bersosial.








