Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Presiden yang Kemana-mana Mengenakan Sandal!

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
25/04/2025
in Cecurhatan
Presiden yang Kemana-mana Mengenakan Sandal!

APJ. Abdul Kalam

Ketika terpilih sebagai presiden, banyak orang mengira gaya hidupnya akan berubah: akan melepas sandalnya. Ternyata, tidak! Ia tetap memasuki Istana Kepresidenan dengan mengenakan sandal! Meski kemana-mana mengenakan sandal, ia adalah ilmuwan Muslim cemerlang. Malahan, putra nelayan miskin ini mendapat gelar sebagai “Bapak Nuklir India”.

Malam itu, langit Rameshwaram, sebuah kota pelabuhan di ujung selatan anak benua India, dihiasi bintang-bintang yang berkelap-kelip, seakan menyaksikan sebuah pelajaran hidup sederhana yang akan terukir abadi dalam sanubari seorang anak kecil.

Di sudut sebuah rumah sederhana, Ashiamma-seorang perempuan dengan tangan-tangan yang kasar oleh waktu-meletakkan sepiring sabzi dan sepotong roti yang sedikit gosong di hadapan suaminya, Jainulabdeen. Napasnya tertahan. Matanya menyipit menatap reaksi sang suami.

Namun, sang suami hanya tersenyum. Tanpa sepatah kata keluhan, ia menikmati dengan lahap roti gosong itu. Ya, dengan nikmat. Seolah, roti itu adalah hidangan termewah di dunia. Lalu, dengan suara hangat, ia bertanya kepada anak lelakinya yang duduk di sampingnya, “Bagaimana harimu di sekolah, Kalam?”
“Baik, Ayah,” jawab sang anak.

Malam itu, sebelum tidur, Avul Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam, sang anak yang kelak mengguncang dunia, berbisik kepada ayahnya, “Ayah. Benarkah Ayah suka roti gosong?”
“Nak. Ibumu bekerja dari fajar hingga senja,” jawab sang ayah sambil memeluk Abdul Kalam belia. “Tubuhnya lelah. Namun, hatinya selalu berusaha memberikan yang terbaik. Roti gosong tak pernah melukai siapa pun. Beda dengan kata-kata kasar. Kata-kata kasar dapat menghancurkan hati.”

Sang Ayah lantas berhenti berucap sejenak. Lalu, ia melanjutkannya dengan suara yang dalam, “Abdul Kalam. Hidup ini penuh ketidaksempurnaan. Ayah pun tak sempurna. Namun, kita belajar menerimanya.”

Kalimat itu mengendap dalam jiwa Abdul Kalam belia-sebuah benih kebijaksanaan yang kelak tumbuh menjadi pohon keagungan. Betapa indah ucapan sang ayah kepada putranya tersebut yang kelak menjadi seorang ilmuwan cemerlang. Dalam ucapan tersebut terkandung pesan: seyogyanya kita menjadi manusia bijak yang lapang dada, bertindak tidak grusa-grusu, pemaaf, dan memaklumi orang-orang di sekitar kita.

Kini, bagaimana kisah hidup ilmuwan yang tampilannya nyleneh dan nyentrik ini?

Lahir pada Kamis, 3 Jumada Al-Tsaniyyah 1350 H/15 Oktober 1931 M, Avul Pakir Jainulabdeen (APJ) Abdul Kalam tumbuh dalam lingkungan sebuah keluarga kelas menengah di Dhanushkodi, Rameshwaram. Di kota pelabuhan itulah sosok yang pemakan sayur-sayuran (vegetarian) ini mengawali pendidikannya. Di sebuah sekolah desa: Sekolah “Samiyar”.

Di sisi lain, Abdul Kalam belia juga seorang anak penjual koran yang harus bangun sebelum matahari terbit, berjalan kaki menyusuri jalanan berdebu, dan berteriak, “The Hindu! The Hindu!” Hal itu ia lakukan untuk membantu ekonomi keluarganya. Kelak, ketika menuturkan tentang episode kehidupannya sebagai penjaja koran itu, ia membuktikan bahwa kemiskinan bukan kutukan, namun merupakan batu loncatan. “Mereka bilang, anak penjual koran tak akan bisa membaca laporan sains. Namun, saya yang dulu berteriak ‘The Hindu!’ di jalanan, akhirnya menulis laporan roket untuk India!”

Meski hidup pas-pasan, namun kemudian Abdul Kalam berhasil meraih gelar sarjana di bidang teknik penerbangan dari Madras Institute of Technology. Lantas, pada tahun 1960-an, ia mulai bekerja pada Pusat Antariksa Vikram Sarabhai di Negara Bagian Kerala, tetangga Tamil Nadu dan menjadi salah seorang dari tiga tenaga insinyurnya yang pertama. Kemudian, pada suatu hari pada tahun 1960-an itu, di Pusat Antariksa Vikram Sarabhai, seorang insinyur berambut gondrong dengan kemeja lengan pendek dan sandal jepit itu berdiri di depan papan tulis, mencoret-coret persamaan aerodinamika. “Ini tidak mungkin!” gumam beberapa rekannya. Namun, Abdul Kalam hanya tersenyum. “Ketidakmungkinan hanyalah tantangan yang belum terjawab.”

Ketika dunia meragukannya, Abdul Kalam kemudian membuktikannya: Pokhran-II, 1998. Lima uji coba nuklir bawah tanah mengguncang gurun pasir Rajasthan. Dengan uji coba itu, kini India memiliki senjata nuklir. Ya, kini memiliki senjata nuklir. Dan di balik ledakan itu, ada seorang ilmuwan Muslim Tamil sederhana yang berkata, “Pokhran-II (uji coba nuklir India) ini bukan kebanggaan karena kita kuasa menghancurkan musuh. Namun, karena kita kuasa membela diri tanpa takut dijajah lagi. Lebih dari itu, ilmu pengetahuan harus membebaskan manusia. Bukan memperbudak!”

Tidak aneh jika akhirnya hal itu menjadikan Abdul Kalam seorang tokoh peraih ‘Bharat Ratna’ atau Bintang India, tanda penghargaan tertinggi Pemerintah India bagi warga sipil. Sumbangannya yang besar pada program ruang angkasa India, termasuk program satelit, peluru kendali, senjata nuklir, dan proyek pesawat tempur ringan, membuat para ilmuwan India memberi ia penghormatan. Ya, penghormatan dengan menyebutnya sebagai “Bapak Bom Nuklir India”. Luar biasa!

Kemudian, empat tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2002, parlemen India bergemuruh. “APJ Abdul Kalam terpilih sebagai Presiden India!” 4.152 suara dari 4.785. Sebuah kemenangan telak. Namun, ketika ia memasuki Istana Kepresidenan, ia tetap mengenakan sandalnya. “Aku tidak ingin menjadi raja. Aku hanya ingin mengabdi.”

Selama lima tahun, Abdul Kalam mengubah Rashtrapati Bhavan, tempat kediaman resmi Presiden India di Rajpath, Raisina Hill, New Delhi menjadi tempat belajar. Setiap minggu, ia mengundang anak-anak sekolah untuk sarapan bersama, bercerita tentang sains, dan menulis puisi. “Nak. Kau bisa menjadi apa pun,” katanya kepada seorang anak miskin dari desa. “Asalkan kau mau bermimpi.”

Selepas tidak menjadi orang nomor satu India, ilmuwan yang menerima tidak kurang dari 40 gelar doctor honoris causa dari berbagai universitas di berbagai penjuru dunia ini tetap aktif di dunia ilmu pengetahuan yang ia tekuni. Meski sibuk, ilmuwan yang berpulang pada 27 Juli 2015 di Shillong, India itu menerima penghargaan doctor of science dari Universitas Edinburg, Inggris ini masih sempat menyusun karya-karya tulis.

Antara lain Developments in Fluid Mechanics and Space Technology, India 2020: A Vision for the New Millennium, Wings of Fire: An Autobiography, Ignited Minds: Unleashing the Power Within India, The Luminous Sparks, Mission India, Inspiring Thoughts, Indomitable, Envisioning an Empowered Nation, You Are Born To Blossom: Take My Journey Beyond, Turning Points: A journey through challenges, Target 3 Billion, My Journey: Transforming Dreams into Actions, A Manifesto for Change: A Sequel to India.

Delapan tahun selepas Abdul Kalam tidak lagi menjadi presiden, tepatnya pada 27 Juli 2015, dunia kehilangan seorang manusia langka. Namun, kata-katanya penuh keyakinan menjelang berpulang, di sebuah aula kecil di Institut Manajemen Shillong, tetap hidup, “Kalian tahu, saya lahir di sebuah pulau kecil di ujung India. Ayah saya seorang nelayan. Ibu saya memasak di dinding yang bocor ketika hujan. Namun, mereka mengajarkan saya satu hal: hidup bukan tentang seberapa besar rumahmu, tapi seberapa besar mimpimu.”

Abdul Kalam kemudian terdiam sejenak, lalu tersenyum dan berucap. “Lihatlah tangan kalian. Di telapak tangan inilah Tuhan menulis takdir. Bukan takdir sebagai korban keadaan, tapi takdir sebagai pencipta perubahan!”

Abdul Kalam kini telah berpulang. Namun, ia bukan hanya pahlawan India. Namun, ia juga simbol harapan bagi siapa pun yang bermimpi besar dari latar belakang sederhana. “Jangan berhenti berjuang hingga kau menjadi versi terbaik dari dirimu!” demikian pesan Abdul Kalam yang selalu dikenang orang. Bahut bahut dhanyavaad, Prof. Dr. APJ Abdul Kalam. Terima kasih banyak, Prof. Dr. APJ Abdul Kalam. Kiranya, muncul anak-anak muda yang mengikuti jejak langkahnya: meski nyentrik dan nyleneh, namun sangat bermanfaat untuk sesama.

Kiranya demikian!

Tags: Abdul KalamCatatan Rofi' UsmaniPresiden Pakai Sandal
Previous Post

Refleksi Hari Buku: Jangan Hanya Berhenti di Buku 

Next Post

SAPA Bupati: Inovasi Luhur dari Tradisi Para Leluhur

BERITA MENARIK LAINNYA

Batu Bara dan Piring Kosong
Cecurhatan

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 
Cecurhatan

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026

Anyar Nabs

Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

Salat, Ritual Sunyi di Tengah Hiruk Pikuk Zaman 

27/04/2026
Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

Konser Musik Lintas Generasi bersama Ari Lasso dan Nostalgia dengan Bojonegoro

26/04/2026
Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: