Di balik riuh yang datang silih berganti, selalu ada kesunyian yang tak pernah terucapkan. Gen z hidup didunia yang seolah semuanya terhubung, tapi selalu merasa jauh dari keintiman dan kehangatan.
Setiap membuka mata di pagi hari disuguhi layar yang penuh dengan notifikasi, menunggu orang menyukai postingan yang seakan menjadi penantian yang berharga, komentar yang ingin segera dijawab, sampai satu pesan dibalas seribu kabar sudah menunggu.
Di permukaan, kehidupan gen z terlihat begitu ramai, timeline yang memenuhi tawa, story penuh dengan warna hingga notifikasi yang selalu berdenting serasa mereka telah dikelilingi banyak orang di sekeliling mereka.
Dunia maya seperti menghadirkan ribuan interaksi dalam sehari, seakan tak memberi ruang untuk hening. Terlihat seperti mereka selalu terhubung, tak pernah benar-benar sendiri.
Namun, notifikasi kerap hadir seperti ketukan lembut pada pintu yang kesepian. Seakan membawa informasi bahwa kita akan selalu diingat. Tapi sering kali ia hanya menjelma gema yang hampa; suara yang datang tanpa jiwa, yang hadir tanpa menemani. Riuh bunyinya tak selalu berarti ada seseorang yang benar-benar ingin mendengar kita.
Ada pesan yang hanya sekedar mampir lalu hilang, ada komentar yang hanya lahir karena kewajiban bukan karena perhatian, sampai ada like secepat jadi menyentuh layar namun tak menyentuh perasaan.
Semua tampak bising tapi sungguh itu hanya seperti selimut tipis yang menutupi dingin nya kesepian. Notifikasi yang kadang hadir seperti hujan deras di musim kemarau; ramai, deras hanya meninggalkan petrikor bukan kesejukan. Tak pernah menyentuh akar yang haus akan kasih sayang.
Gen z belajar tersenyum dari ramainya layar yang penuh meski dalam hatinya ada ruang kosong yang tak pernah terisi. Di setiap getar yang membuat hati berdegup, sering menjadikan rasa asing yang pelan-pelan mengikis.
Betapa mudahnya kita terbawa perasaan oleh tanda merah kecil dilayar, padahal itu hanya angka yang dingin, tak berjiwa, tak pernah benar-benar peduli.
Ada saat di malam hari di mana ponsel tak berhenti berdentum, tapi keheningan tak benar-benar berlalu. Ada siang-siang ketika dunia maya terasa penuh akan tetapi dunia nyata terasa begitu lengang.
Dari sinilah kesadaran paling pahit muncul; keterhubungan yang dijanjikan teknologi hanya menjadi topeng dari kesendirian yang semakin sunyi. Dari sini overthinking mulai bermunculan.
Overthinking datang seperti gelombang yang menghantam pada setiap sudut pikiran. Malam yang seharusnya tenang malah menjadi arena yang memberikan beribu pertanyaan tanpa satu pun jawaban.
Gen z sering terjebak overthingking dalam menganalisis setiap kata, menimbang setiap tatapan bahkan sampai mencurigai setiap diam. Notifikasi semakin ramai akan tetapi dibalik itu tersimpan ketresahan dan kesunyian yang tak memiliki ujung.
Dunia tampak penuh warna, namun di dalam hati gelisah itu semakin menghitam.
Burnout pun datang menjelma api yang menyala pelan tapi pasti. Menghanguskan semangat hingga menjadi abu.
Digantikan oleh rasa jenuh yang menempel di setiap aktivitas. Bahkan hal-hal yang dulu terasa menyenangkan sekarang menjadi berat, seakan tenaga hanya menjadi uap yang akan hilang dalam waktu dekat begitu saja.
Mungkin jalan pertama untuk keluar dari sunyi dengan area digital adalah mengambil langkah tegas, yakni berani menutup layar sejenak dan menyalakan percakapan dengan diri sendiri.
Begitu banyak notifikasi yang menjerat, seakan setiap bunyinya adalah panggilan yang tak bisa ditolak. Padahal justru dalam keheningan dalam setiap detik tanpa distraksi jiwa akan menemukan nafas baru yang sejuk.
Solusinya bukan hanya “detoks digital” yang sesaat, melainkan keberanian untuk menata ulang relasi dengan dunia maya. Menempatkannya sebagai alat saja bukan sebagai tuan. Saat belajar menolak beberapa suara yang hadir, kita memaksa suara hati kita untuk bersuara lebih jujur dan jernih.
Sungguh suara yang didambakan setiap manusia! Manusia tak bisa hidup hanya pada ruang batin saja. Ada kebutuhan yang harus dirangkul, di dengar dan merasakan tentang penerimaan diri kita tanpa syarat.
Di sinilah pentingnya hubungan nyata; percakapan tak dibatasi oleh layar, sorot tatapan mata yang tulus, bahkan sekedar duduk bersama meskipun tanpa kata. Kita memang tumbuh pada derasnya arus digital,
Namun bukan serta merta digitalisasi yang mengatur kita, namun kita harus bisa menjadikannya alat, bukan digital yang menjadikan kita sebagai alat.
Pada akhirnya solusi dari keresahan tersebut bukanlah pelarian, namun pertemuan.
Sunyi bukanlah musuh
Sunyi hanyalah jelmaan
Menjelma arah yang salah
Maka temukanlah sunyi yang lembut
Menjelma ruang yang memberi pulih
Sejenak beristirahatlah…
Kehadiran tak harus dari notifikasi
Melainkan kehadiran dari keberanian
Yang benar-benar hadir
Dalam euforia yang menyenangkan dan sederhana.
Sehat-sehat generasiku
Penulis adalah Mahasiswa Semester 7 Prodi Pendidikan Matematika Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri








