Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bertambah Jadi 21 Lokasi, Achmad Gunawan: Titik Geosite Bojonegoro Masih Bisa Bertambah Lagi

Redaksi by Redaksi
30/01/2026
in JURNAKULTURA
Bertambah Jadi 21 Lokasi, Achmad Gunawan: Titik Geosite Bojonegoro Masih Bisa Bertambah Lagi

Achmad Gunawan

Titik geosite dalam Geopark Bojonegoro bertambah. Dari semula 16, kini berubah menjadi 21 lokasi. Kepala Bappeda Bojonegoro menyebut: jumlah itu masih berpotensi bisa bertambah lagi. 

Di Bojonegoro, lapisan batuan tidak pernah benar-benar bisu. Dari lipatan antiklin hingga sumur minyak tua, dari jejak sungai purba hingga api abadi yang terus menyala, cerita bumi terus dibaca dan ditafsir ulang. Kini, titik cerita itu bertambah jumlah.

Jumlah geosite dalam Geopark Bojonegoro resmi bertambah. Dari semula 16 lokasi, kini menjadi 21 lokasi geosite. Penambahan ini bukan sekadar angka, melainkan penegasan bahwa Bojonegoro adalah ruang hidup geologi, keanekaragaman hayati, dan budaya masyarakat yang bertaut erat sejak ratusan tahun silam.

Baca Juga: Geopark Bojonegoro Dicatat Prasasti Sejak Ribuan Tahun Silam 

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro, Achmad Gunawan menyebut, penambahan geosite sebagai bagian dari penguatan dokumen dan substansi geopark Bojonegoro agar semakin memenuhi standar nasional hingga internasional.

“Dari evaluasi dan pengembangan kawasan, kini Geopark Bojonegoro memiliki 21 geosite. Penambahan ini dilakukan untuk menegaskan kekhasan Bojonegoro, khususnya pada aspek sejarah geologi migas, bentang alam, dan keterkaitannya dengan kehidupan masyarakat,” ujar Gunawan (30/1/2026).

Saat ini, ke-21 titik geosite dalam Geopark Bojonegoro itu di antaranya adalah:

Formasi Wonocolo, Antiklin Kawengan, Kedung Lantung, Kayangan Api, Teksas Wonocolo, Goa Macan, Goa Susur, Air Terjun Krondonan, Bengawan Purba, Kedung Maor, Bukit Tidar Migas, Struktur Lipatan Sekar, Tebing Batuan Sedah, Sumur Minyak Tua Ledok, Fosil Kayu Purwosari, Geosite Kali Gandong, Struktur Patahan Malo, Bukit Kapur Dander, Lembah Antiklin Nglobo, Endapan Sungai Purba Baureno, dan Formasi Beji. 

Gunawan mengatakan, geosite bukan  entitas berdiri sendiri. Setiap lokasi saling terhubung, membentuk jejaring narasi panjang tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan bumi. Sejak ribuan tahun silam, aktivitas minyak dan gas bumi di Bojonegoro telah menjadi bagian dari denyut keseharian masyarakat, jauh sebelum istilah geopark dikenal luas.

“Jumlah geosite masih bisa bertambah. Sebab, ada mekanisme revalidasi. Di mana, jumlah tersebut masih bisa dievaluasi untuk bertambah atau berkurang. Dalam geosite, pastinya ada edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat” imbuh dia.

Geopark Bojonegoro

Dengan bertambahnya jumlah geosite, Pemkab Bojonegoro menilai kawasan ini semakin siap melangkah menuju pengakuan lebih luas. Geopark Bojonegoro diproyeksikan bukan hanya sebagai destinasi wisata, tapi sebagai lokomotif pariwisata berbasis edukasi dan konservasi nan berkelanjutan.

Pandangan serupa disampaikan Vice President Global Geopark Network, Profesor Emeritus Dato’ Dr. Ibrahim Komoo. Dalam kunjungannya ke Universitas Bojonegoro (Unigoro) pada (20/1/2026) silam, ia menekankan pentingnya peran institusi pemerintah dan pendidikan dalam menjaga warisan geologi. Sebab, kata dia, geopark adalah integrated heritage—warisan terintegrasi yang harus dipelihara bersama.

“Tidak ada geopark yang berarti jika tidak memberi manfaat bagi masyarakat lokal,” tegasnya.

Profesor Ibrahim menyinggung pengalaman Asia Tenggara, termasuk Langkawi yang meraih status UNESCO Global Geopark pada 2007. Menurutnya, pengakuan internasional tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan koordinasi lintas pemangku kepentingan.

Ia mencontohkan Antiklin Kawengan di kawasan Wonocolo. Sekilas hanya tampak sebagai bukit kecil, namun menyimpan nilai besar bagi sejarah bangsa. Sejak lama, masyarakat telah memanfaatkannya untuk mengambil minyak mentah.

“Tempat seperti ini perlu rencana konservasi yang jelas demi keberlanjutan,” tegasnya.

Kini, dengan 21 geosite resmi, geopark Bojonegoro kian menegaskan dirinya sebagai ruang belajar terbuka. Sebuah lanskap tempat masa lalu geologis, ingatan sosial, dan harapan masa depan dirajut dalam satu bentang yang utuh. Di Bojonegoro, bumi bukan hanya diwarisi. Ia dirawat, dibaca, dan diceritakan kembali—untuk generasi yang akan datang.

Tags: Achmad GunawanGeopark BojonegoroGeosite BojonegoroMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Pohon Ficus: Poros Spiritualitas dan Pondasi Masa Depan Berkelanjutan

Next Post

Hormuz, Selat yang Bernyanyi dengan Suara Peluru

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Anyar Nabs

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026
Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

27/05/2026
Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

Percakapan di Tepi Kolam Bersama Mbah Moedjair

27/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: