Dan sejarah, seperti biasa, akan menunggu dengan sabar—mencatat siapa yang belajar darinya, dan siapa yang memilih melupakannya.
Di aula megah Munich Security Conference, 14 Februari 2026, seorang Menteri Luar Negeri Amerika berdiri dan berbicara tentang sejarah yang panjang. Marco Rubio menyebut aliansi yang “menyelamatkan dan mengubah dunia.” Kata-kata itu mengalun seperti gema dari abad-abad lampau—gema kapal-kapal yang berlayar meninggalkan pelabuhan, membawa kitab suci, meriam, dan peta.
Ia mengingatkan bahwa selama lima abad sebelum berakhirnya Perang Dunia II, Barat “mengembang”: misionaris, peziarah, serdadu, penjelajah—semua menyeberangi samudra, membangun imperium. Kita tahu kisah itu. Dalam buku-buku sejarah, nama-nama pelabuhan berubah menjadi koloni, lalu menjadi negara. Dalam arsip-arsip, ekspansi disebut penemuan; dalam ingatan yang lain, ia adalah perampasan.
Pidato itu tak menyebut darah, tak menyebut gula dan rempah yang dibayar dengan kerja paksa. Sejarah memang sering tampil sebagai parade pemenang. Seperti ditulis oleh Edward Said, Orientalisme bukan sekadar cara melihat Timur, melainkan cara membenarkan kekuasaan atasnya. Di Munich, yang terdengar adalah kebanggaan atas “peradaban agung dan mulia” yang diwarisi bersama. Kebanggaan itu diminta untuk dilepaskan dari rasa bersalah dan malu.
Ada kalimat yang terasa seperti seruan pembebasan: jangan terbelenggu oleh rasa bersalah. Di sana terselip satu gagasan—bahwa sejarah bisa dilepas dari beban moralnya, bahwa masa lalu cukup dikenang sebagai kejayaan, bukan sebagai pertanyaan. Namun, seperti diingatkan Hannah Arendt, politik selalu berurusan dengan tanggung jawab; ia tak pernah netral terhadap akibat.
“Decline was a choice,” katanya.
Kemunduran adalah pilihan yang ditolak para pendahulu. Maka kini, bersama Donald Trump, Amerika menapaki jalan untuk “membangun abad Barat yang baru.” Kalimat itu mengandung tekad, juga nostalgia. Seolah abad adalah benda yang bisa dirakit ulang, seperti mesin tua yang diperbarui.
Tapi abad tak pernah berdiri sendiri. Ia terbentuk oleh yang lain: oleh mereka yang dulu disebut pinggiran, dunia ketiga, selatan global. Jika Barat hendak “membebaskan kecerdikannya,” dunia lain pun telah lama membebaskan dirinya dari definisi yang dipaksakan. Cina, India, Afrika, Amerika Latin—nama-nama itu bukan lagi latar belakang. Mereka adalah subjek yang menulis sejarahnya sendiri.
Pidato di Munich adalah panggilan untuk kesatuan—untuk berjalan bersama lagi. Tetapi kesatuan selalu menuntut batas: siapa yang termasuk, siapa yang tidak. Setiap peradaban yang mengukuhkan dirinya sebagai “agung” berisiko lupa bahwa keagungan sering lahir dari perjumpaan, bukan dari penaklukan.
Barangkali yang paling menarik bukanlah seruan tentang abad baru, melainkan nada keyakinan bahwa sejarah dapat diarahkan oleh kehendak. Sejarah, seperti kata penyair, adalah sungai yang tak pernah sepenuhnya tunduk pada peta. Ia mengalir dengan ingatan dan luka, dengan harapan dan ironi.
Di Munich, tepuk tangan mungkin terdengar mantap. Tetapi di luar aula, dunia tetap majemuk, retak, dan tak selalu sejalan dengan satu pusat. Sebuah “abad Barat” mungkin bisa dicanangkan. Namun abad yang sesungguhnya—jika ia datang—akan ditentukan bukan hanya oleh mereka yang merasa sebagai pewaris peradaban, melainkan juga oleh mereka yang dulu diwarisi sebagai tanah jajahan. Dan sejarah, seperti biasa, akan menunggu dengan sabar—mencatat siapa yang belajar darinya, dan siapa yang memilih melupakannya.








