Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Api yang Tak Pernah Padam

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
04/03/2026
in Cecurhatan
Api yang Tak Pernah Padam

Kepentingan Dunia

Apakah dunia sungguh belajar? Atau kita hanya mengulang tragedi dengan aktor berbeda, dengan pidato yang diperbarui, dengan janji perdamaian yang selalu tertunda?

Kematian selalu terasa sunyi. Bahkan ketika ia meledak di layar kaca, dipecah oleh analisis, diseret ke meja-meja pembicaraan—dipakai sebagai pembenaran strategi. Dengan terbunuhnya Ali Khamenei—jika benar itu terjadi—kita seperti menyaksikan babak baru yang sudah lama ditulis, tapi tak pernah benar-benar dibaca sampai tuntas.

Sejarah Timur Tengah adalah sejarah tentang luka yang diwariskan. Sejak Perang Enam Hari, sejak perkampungan-perkampungan di Gaza menjadi puing, sejak nama-nama kota—Haifa, Tel Aviv, Jerusalem—lebih sering disebut sebagai target daripada tempat tinggal, kawasan itu tak pernah benar-benar berhenti bergetar.

Di layar, orang-orang berbicara tentang “eskalasi”. Kata yang dingin. Seolah perang hanya grafik yang naik-turun. Tapi di baliknya ada ibu yang kehilangan anak, ada bandara yang mendadak sepi, ada pekerja migran yang tak tahu harus pulang ke mana.

Retorika tentang “menumbangkan rezim” bukan hal baru. Donald Trump pernah menyebutnya dengan nada tegas. Benjamin Netanyahu mengulangnya dengan kesabaran yang ganjil—“beberapa minggu lagi”. Kita pernah mendengar nada yang sama di Baghdad, di Tripoli. Seolah mengganti rezim identik dengan mengganti nasib.

Kepentingan Dunia

Tapi rezim bukan hanya struktur kekuasaan. Ia juga ingatan kolektif, rasa terhina, dan kebanggaan yang terancam. Di Teheran, jutaan orang turun ke jalan bukan semata karena seorang pemimpin gugur, melainkan karena narasi tentang “perlawanan” telah menjadi bagian dari identitas. Seperti kata Benedict Anderson, bangsa adalah komunitas terbayang. Di sana, perlawanan pun adalah imajinasi bersama.

Barat kerap menyebut Iran sebagai teokrasi—sebuah kata yang diucapkan dengan nada waspada. Namun istilah itu sering diperlakukan seperti vonis, bukan deskripsi. Kita lupa bahwa demokrasi sendiri tak pernah steril dari mitos. Ia juga punya dogma: pasar bebas, hak individu, intervensi atas nama kebebasan. Kita menertawakan propaganda Uni Soviet dahulu, tapi jarang menyadari propaganda kita hari ini.

Sementara itu, di Washington, survei menunjukkan simpati publik Amerika terhadap Palestina meningkat—sesuatu yang dulu nyaris mustahil. Kampus-kampus bergolak. Demonstrasi muncul lagi. Seolah generasi muda ingin mengatakan: ada yang salah dalam peta moral kita.

Ironisnya, dalam setiap perang selalu ada ilusi tentang “perdamaian”. Kita mendengar tawaran gencatan senjata, forum perdamaian, dewan mediasi. Namun bagaimana mungkin sebuah bangsa yang merasa dijajah diajak berdamai tanpa terlebih dahulu diakui lukanya? Perdamaian tanpa keadilan hanya jeda sebelum dentuman berikutnya.

Indonesia—yang pernah menyebut dirinya bagian dari dunia yang tertindas—kini berdiri di persimpangan. Kita ingin menjadi penengah. Kita ingin percaya bahwa diplomasi masih punya ruang. Tapi menjadi penengah bukan sekadar duduk di meja bundar; ia menuntut keberanian menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan.

Dalam politik global, tak ada yang benar-benar suci. Kepentingan selalu berbisik lebih keras daripada moralitas. Pangkalan militer di Teluk, kilang minyak, jalur suplai energi—semua itu lebih sering menentukan arah misil daripada doa di rumah ibadah.

Dan kita, yang jauh dari dentuman itu, menonton dengan perasaan campur aduk: simpati, curiga, kadang sinis. Seolah perang adalah tontonan yang tak menyentuh dapur kita. Padahal harga minyak naik, ekonomi goyah, dan dunia kembali terbelah.

Barangkali yang paling mengerikan dari perang bukanlah ledakannya, melainkan kebiasaannya. Ia menjadi rutinitas. Kita belajar menerima bahwa kota bisa hancur, bahwa seorang pemimpin bisa dibunuh, bahwa anak-anak bisa tumbuh tanpa langit yang tenang.

Api itu, kata Heraclitus, adalah unsur dasar segala sesuatu—ia membakar sekaligus memperbarui. Tapi api perang jarang memperbarui nurani. Ia lebih sering menyisakan abu.

Dan di antara abu itu, kita bertanya: apakah dunia sungguh belajar? Atau kita hanya mengulang tragedi dengan aktor berbeda, dengan pidato yang diperbarui, dengan janji perdamaian yang selalu tertunda?.

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu IndonesiaPerang Iran Israel
Previous Post

Masjid Suleymaniyeh Turki, Karya Puncak Sang Arsitek Agung

Next Post

‎Komisi C Bahas Dukungan Kebijakan untuk Pendidikan Madrasah

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: