Ketika tumpukan jerami tak lagi sekadar sisa, melainkan awal dari sebuah langggam cerita.
Aroma jerami kering bercampur serat bambu tercium kuat ketika memasuki lorong Ndalem Art Space Bojonegoro. Di tempat inilah, Fatoerachman Jacob (Ayik) menyulam harapan tentang nasib pertanian, melalui medium wayang kontemporer dari jerami.
Ayik melihat dunia pertanian kian jauh dari generasi muda. Terpinggirkan modernitas. Dianggap usang. Bahkan tak lagi menjanjikan. Dari keresahan itulah, ia mencari cara agar pertanian kembali populer — tidak melalui ceramah, kotbah, atau kampanye: tapi lewat boneka wayang kontemporer.
Ayik menjadikan wayang sebagai bagian dari upaya mengembalikan marwah dunia pertanian. Bukan wayang biasa. Tapi wayang customize — tidak kolot dan punya daya fleksibilitas untuk bisa digunakan di berbagai seni pertunjukan kontemporer.
Selama ini, wayang identik dalang dan gamelan. Ayik berupaya mendekonstruksi bahwa wayang tak melulu begitu. Wayang, menurut Ayik, harus punya fleksibilitas dan resiliensi untuk mampu hidup di dunia kontemporer.
“Wayang harus bisa hidup di dunia masa kini, namun tetap berhubungan dengan para petani” ucap Ayik menjelaskan.
Keinginannya untuk menghidupkan wayang dengan kemasan hari ini — namun tetap berhubungan dengan para petani — mengantarkan Ayik pada sebuah jalan setapak: mengolah kembali limbah jerami, yang baginya cukup mudah dijumpai.

Jerami, selama ini, memang limbah panen yang kerap dibakar, dilupakan, atau sekadar dibiarkan membusuk di pematang sawah — mirip nasib kearifan lokal. Karena itu, ia mencari sisa limbah jerami di dekat rumahnya, untuk dikemas lagi menjadi sebuah karya.
Di tangan Ayik, limbah jerami itu tak dibiarkan membusuk begitu saja. Dia menyusun batang demi batang, mengencangkan lilitan, hingga terbentuk figur yang tak hanya utuh secara rupa, tetapi juga sarat makna. Sebuah boneka wayang artistik berukuran 80 x 35 cm.
“Wayang tani, wayang yang mengingatkan kita pada para petani” ucapnya bahagia, serupa Geppetto yang baru saja berjumpa Pinocchio.
Wayang Tani, demikian Ayik menyebut karya boneka terbuat dari limbah jerami tersebut. Sebuah karya yang lahir bukan sekadar dari keterampilan tangan, tetapi dari kegelisahan yang teramat lama dipendam atas masa depan dunia pertanian.
Seperti Eiichiro Oda yang menjadikan jerami sebagai simbol kemuliaan pelaut, Ayik memaknai jerami sebagai lambang kebangkitan petani. Bedanya, jerami Oda berada di laut petualangan, jerami Ayik berakar di tanah pertanian— sawah, petani, dan siklus agraris.
Namun yang menarik, Wayang Tani tidak berhenti sebagai artefak visual. Tapi medium hidup — bukan untuk pertunjukan wayang dengan dalang dan gamelan, tapi panggung yang lebih cair: medium tari kontemporer. Di titik ini, Wayang Tani seperti sedang membangun sebuah definisi.
Ia meretas batas antara tradisi dan kontemporer, antara kerajinan dan pertunjukan, antara limbah dan makna, antara masa lalu dan kemungkinan masa depan. Wayang tidak lagi sekadar cerita yang dipentaskan, melainkan tubuh yang bergerak, menari, dan berinteraksi dengan ruang.
Melalui Wayang Tani, ada semacam upaya “menghidupkan” kembali. Bukan hanya jerami, melainkan ingatan kolektif tentang tanah dan relasi manusia dengan alam. Sehingga di setiap batang jerami, seperti ada jejak musim yang pernah dilalui.
Sebagai sebuah karya seni, lilitan jerami Ayik ini juga mulai banyak diminati. Sejumlah lembaga pendidikan yang sedang mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2026 misalnya, juga mulai memesan karya Ayik ini sebagai media lomba tari.
“Beberapa juga mulai memesan sebagai medium kesenian tari” ujar Ayik.
Ayik tak mematok harga secara kaku. Karena bersifat customize, harga bergantung pada seberapa sulit model permintaan bisa dikerjakan. Dalam satu karya boneka Wayang Tani yang dia bikin ini misalnya, Ayik menjualnya Rp 50 ribu per boneka.
Di tengah dunia yang kian menjauh dari akarnya, Wayang Tani hadir sebagai pengingat yang sunyi namun tegas: bahwa pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, tapi juga sumber kebudayaan. Dan lewat tangan-tangan seperti Ayik, jerami tak lagi sekadar sisa, melainkan awal dari sebuah langggam cerita.








