“Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga.”
Sebuah kalimat yang begitu romantis bila dibaca secara polos. Namun, akan sangat menyedihkan kala diberi nada dalam membacanya. Ya, kedua kalimat itu sebenarnya penggalan lirik dari lagu ikonik berjudul “Harta Berharga”. Sebuah lagu yang menjadi soundtrack serial televisi Keluarga Cemara (1996).
Siapa yang tidak tahu dengan drama Keluarga Cemara? Generasi X dan Milenial pasti akrab betul. Sebuah lagu yang mampu menghadirkan ingatan tentang sosok Abah tukang becak beserta keluarga kecilnya. Sebuah keluarga yang awalnya hidup di kota besar, kemudian didera kebangkrutan hingga jatuh miskin dan dipaksa pindah ke desa tanpa pilihan.
Keluarga Cemara menawarkan cerita yang melodramatis hingga mampu menyentuh emosi. Tak jarang pula muncul adegan-adegan menyayat hati hingga mampu hadirkan air mata. Abah yang menjadi nahkoda keluarga dipaksa berhadapan dengan berbagai konflik. Terutama konflik internal yang menuntut Abah untuk adaptif dan bijaksana demi menjaga keutuhan rumah tangga.
Sebenarnya, Keluarga Cemara bukan sekadar tontonan drama keluarga miskin yang harmonis. Tidak perlu adanya romantisasi yang berlebihan akan ceritanya. Kemiskinan dan penderitaan bukan sesuatu yang layak untuk diekploitasi. Terlebih hanya untuk menggugah rasa iba dan simpati para penonton. Bahkan, menjadikannya sebagai pembenaran bahwa kemiskinan bukan problem bagi keluarga untuk tetap harmonis. Justru sebaliknya.
Sinema yang diangkat dari karya Arswendo Atmowiloto terebut adalah kritik terhadap penguasa kala itu. Keluarga Cemara merupakan antitesis dari Keluarga Cendana. Sebuah keluarga yang menggenggam hegemoni pemerintahan era Orde Baru. Era yang penuh dengan tindakan KKN. Era di mana bilah hukum terasa tumpul, tidak mampu menjangkau kroni-kroni penguasa.
Kemiskinan Keluarga Cemara bukanlah sesuatu yang diglorifikasi sedari awal. Abah yang diperankan Adi Kurdi tersebut dulunya pengusaha sukses. Namun, dia mengalami kebangkrutan akibat penipuan yang dilakukan rekan bisnisnya, yang juga adalah saudara iparnya sendiri.
Pengkhiatanan tersebut membuat Abah kehilangan harta benda dan membawa serta keluarganya ke titik nol. Abah merupakan sosok penggambaran kelas menengah yang begitu rapuh. Dia adalah korban struktural dari sistem yang korup kala itu. Kelas menengah yang turun kasta, baik perlahan ataupun seketika, bukanlah perkara takdir yang perlu diromantisasi.
Penamanaan Keluarga Cemara tentu tidak dipilih secara asal-asalan. Pasti dibutuhkan alasan bagi Arswendo memilih nama tersebut. Setidaknya terdapat makna dibalik nama Cemara. Cemara merupakan nama pohon yang akrab bagi masyarakat umum.
Secara umum, Cemara merupakan pohon yang tidak menggugurkan daun di musim dingin. Ketahanannya kuat seolah tidak ada matinya. Cemara memiliki daun yang tajam berbentuk jarum. Akar yang kuat membuat pohon ini dapat bertahan dihantam badai. Cemara juga mampu tumbuh di tanah pinggiran yang tandus. Selain itu, batangnya kuat dan menjulang tinggi. Bentuk pohon kerucut seperti ujung tombak yang menjulang ke atas menusuk langit.
Pohon Cemara adalah simbol dari masyarakat kelas menengah (working class). Masyarakat pada kelas ini didominasi oleh para pekerja produktif. Pekerja yang tidak akan pernah hilang semangat di cuaca apapun dan di musim manapun. Daun cemara seperti jarum itu adalah kemampunan kelas pekerja dalam menjalani kehidupan.
Seorang pekerja harus kuat dalam menghadapi segala badai. Semua itu dilakukan untuk menjamin kehidupan diri sendiri dan keluarga. Pekerja dituntut kuat dan mandiri seperti pohon cemara. Bentuknya yang kerucut seperti ujung tombak menghujam langit adalah simbol kekuatan para pekerja di kala hukum tak lagi tajam ke atas.
Sebaliknya, cendana adalah pohon asli Indonesia yang bersifat eklusif. Cendana memiliki aroma wangi dan nilai ekonomi yang tinggi. Meski begitu, pohon ini memiliki sifat hidup semi-parasit. Ia harus tumbuh dan hidup dengan inang sejak kecambah. Sebuah analogi absolut terhadap sistem oligarki di sebuah negara kala itu.
Sosok Abah di Keluarga Cemara bukanlah sosok lemah dan mau terima nasib begitu saja. Justru sebaliknya, Abah memiliki sikap yang sangat radikal di bawah langit Orde Baru kala itu. Sebagai pengusaha, dia memiliki kesempatan untuk memanfaatkan jaringan dan kenalan, melakukan lobi, menjilat sana-sini dan kembali pada tataran ekonomi semula. Namun itu semua tidak dia lakukan.
Abah lebih memilih untuk melanjutkan takdirnya. Turun kelas menjadi tukang becak. Takdir itu dia jalani bukan karena tidak ada pilihan lain. Malahan, Abah secara sadar menolak untuk melakukan budaya KKN yang mandarah daging di tubuh Orde Baru. Abah tidak ingin melibatkan dirinya dalam sistem korup bersama kapital rakus yang nir-moral. Kemiskinan finansial lebih dipilih Abah daripada harus menyembelih integritasnya.
Melalui sosok Abah di Keluarga Cemara, Arswendo mendekonstruksi bahwa kewarasan manusia tidak bisa dibeli bahkan oleh negara sekalipun. Martabat seseorang lebih berharga dari nilai mata uang. Abah bukan hanya berperan sebagai tokoh di serial Keluarga Cemara saja. Dia juga menjadi perpanjangan tangan seorang penulis untuk menampar Keluarga Cendana secara ideologis.
Serial Keluarga Cemara bukan tayangan hiburan untuk asupan pelipur lara masyarakat miskin saja. Atau sebagai propaganda agar masyarakat miskin pasrah akan nasib dan nrimo ing pandum. Keluarga Cemara adalah manifestasi kultural tentang perlawanan terhadap sistem yang bobrok dan karatan.








