Malin Kundang Lirih merupakan sajian monolog yang memberi interpretasi baru dari cerita Malin Kundang.
Malin Kundang menjadi simbol anak durhaka. Malin Kundang adalah legenda asal Minangkabau, Sumatra Barat. Sebuah legenda yang menjadi cerita moral bagi masyarakat Indonesia. Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang dikutuk ibu menjadi batu.
Namun, Malin Kundang Lirih menyuguhkan dimensi cerita yang berbeda. “Malin Kundang Lirih” merupakan sebuah naskah karya akademisi pemerhati seni pertunjukkan, Pandu Birowo. Karya ini dipentaskan saat Pagelaran Seni Lintas Daerah Bojonegoro X Padang Panjang. Tepatnya di Hall Suyitno Universitas Bojonegoro (Unigoro) pada Sabtu malam (14/12/2025).
“Maling Kundang anak durhaka! Maling Kundang anak durhaka!”
Kumandang suara lirih berulang-ulang memenuhi seluruh sudut ruang. Kilatan cahaya disertai suara ledakan muncul di salah satu sudut ruangan. Tak berselang lama, cahaya muncul perlahan menerangi sudut itu. Tampak sebuah panggung, tanda pementasan Maling Kundang Lirih dimulai.
Suara ledakan berasal dari sebongkah batu di area pantai (panggung). Sesosok manusia muncul di antara puing-puing batu yang terus bergerak. Dia adalah Malin Kundang yang dikisahkan. Tokoh legenda anak durhaka yang dikutuk ibu menjadi batu.
Menurut Malin, hukuman menjadi batu bukanlah suatu hal berat yang harus dihadapi. Justru, stigma masyarakat dan ‘stempel’ sebagai anak durhaka itulah yang berat. Malin Kundang terbangun dari batu untuk menggugat.
“Kalian yang selalu menyebutku anak durhaka, aku tidak sedurhaka yang kalian katakan!”
Kalimat tersebut diucapkan Malin sebagai bentuk protes. Protes yang dia layangkan kepada masyarakat (penonton). Dengan perasaan sedih dan suara lirih menahan pedih, potongan naskah itu berhasil menekan ‘saklar’ kesadaran penonton. Penonton pun terdiam tanpa suara, seolah berpikir ‘Benarkah itu?’.

Malin Kundang merekonstruksi ulang legenda. Khususnya sudut pandang cerita dari Malin sendiri. Mulai dari hidup sebagai masyarakat Minangkabau, segala pengalaman di tanah rantau, hingga menginjakkan kaki ke kampung halaman bersama istri. Hingga dia bertemu dengan ibunya sendiri.
“Ibu macam apa yang mengutuk anaknya menjadi batu?”
Satu kalimat tanya dari Malin yang paling nge-hook. Pertanyaan ini tentu mempengaruhi penonton yang mendengarnya. Sebuah pertimbangan penting terkait peran seorang ibu. Khusunya di dalam cerita Malin Kundang sendiri. Ibu Malin Kundang, Mande Rubayah juga seorang manusia yang tak luput dari kesalahan.
Pertanyaan demi pertanyaan, gugatan demi gugatan, keluh demi kesah, seluruh isi kepala dan hati Malin curahkan. Termasuk yang tak sempat dia sampaikan sebab lebih dulu mendapat kutukan. Kutukan menjadi batu keras pun tak mampu menahannya. Pada akhirnya, dia meledak dan kata-kata semburat dari mulutnya. Terus-menerus seperti air mancur.
Fajar Eka Putra berhasil memainkan perannya sebagai sosok Malin Kundang. Pengolahan suara yang intens berhasil menyampaikan pesan Malin. Khusunya pengalaman Malin yang merasa berada pada titik dilematis. Perasaan yang dia dapatkan sebagai perantau yang berjuang keras di negeri orang.
“Tidakkah ada kisah lain? Haruskah Malin Kundang selamanya menjadi simbol anak durhaka?”
Malin Kundang Lirih bercerita melalui konsep monolog untuk menyajikan interpretasi baru. Tentu dengan narasi yang bersifat kritis dan reflektif. Bahwasanya legenda Malin Kundang tidak sederhana, tetapi memiliki kompleksitas. Ada kerumitan di dalamnya. Misalnya, benturan budaya dan nilai masyarakat yang berbeda.
Pementasan teater monolog Malin Kundang Lirih merupakan puncak acara Pagelaran Seni Lintas Daerah Bojonegoro X Padang Panjang. Komunitas seni Akataraksa bersama Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kesenian Unigoro bekerjasama dengan ActorIdea.
Sebelumnya, kolaborasi ini mengadakan workshop keaktoran dengan tajuk “Menemukan Kebenaran Melalui Fisik”. Tepatnya pada pagi di hari yang sama sebelum pementasan teater. Workshop diikuti 15 peserta dai berbagai kalangan seperti mahasiswa dan masyarakat umum Bojonegoro.
Selain pementasan teater monolog Malin Kundang Lirih, penampilan seni lain turut menjadi pendukung acara. Ada Teater Lintang Giri yang menampilkan pementasan sandur khas Bojonegoro. Ada UKM Pencak Silat Unigoro yang menampilkan jurus-jurus silat. Juga, ada penampilan Tari Maheswari UKM Kesenian Unigoro.
Demikianlah keseruan Pagelaran Seni Lintas Daerah di Bojonegoro berlangsung meriah. Tidak hanya sebatas hiburan, tetapi juga bisa menjadi bahan belajar dan perenungan. Tentu bagi mereka yang suka berpikir dan berdiskusi.








