Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
09/04/2026
in Destinasi
Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

Masjid Agung Madrid

Mezquita de la M-30 adalah burung phoenix yang membawa pesan bahwa peradaban tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali!

BAYANGKAN kini Anda sedang menaiki mobil yang melaju di M-30, jalan lingkar terpadat di kota Madrid. Ribuan kendaraan berpacu di sebelah kiri dan kanan. Hiruk-pikuk kota besar menyapa dari segala arah.

Lalu, tanpa diduga, di sela-sela beton dan aspal itu, muncul sebuah pemandangan yang membuat Anda terkesiap: istana putih megah dengan menara menjulang. Istana putih itu seakan jatuh dari langit Seribu Satu Malam dan mendarat dengan anggunnya di tengah kota modern Eropa.

Inilah dia, Mezquita de la M-30: sebuah nama akrab yang diberikan warga Madrid kepada Pusat Budaya Islam Madrid (Centro Cultural Islámico de Madrid). Itulah mahakarya arsitektur Islam yang berdiri tegap di nomor 4 Calle Salvador de Madariaga, Distrik Ciudad Lineal. Namun, janganlah Anda terpedaya oleh julukannya yang sederhana.

Di balik tembok marmer putih seluas 12.000 meter persegi, yang membentang dalam enam lantai, tersembunyi sebuah kota kecil yang hidup: masjid, sekolah, perpustakaan, museum, auditorium, gimnasium, restoran, dan malah tempat tinggal para imam.

Masjid Agung Madrid

Jika istana putih itu Anda dekati, ternyata di Lokasi itu tegak sebuah masjid terbesar di Spanyol, sebuah mercu suar Islam yang menyala terang di negeri yang dulu menjadi pusat peradaban Islam selama hampir delapan abad.

Karena itu, mari kita melangkah masuk dan menyusuri lorong-lorongnya yang penuh kisah. Juga, merenungkan bagaimana sebuah bangunan dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara Timur dan Barat, antara iman dan peradaban.

Impian Selama 11 Tahun

Kini, kita berada pada tahun 1976. Pada tahun itu, Spanyol baru saja keluar dari isolasi panjang dari era Franco. Negara matador itu mulai membuka diri pada dunia dan angin perubahan bertiup dari segala penjuru. Di tengah semangat baru itulah, sebuah pertemuan bersejarah terjadi di Madrid: delapan belas negara Muslim yang memiliki perwakilan diplomatik di Spanyol duduk bersama. Mereka menandatangani sebuah kesepakatan yang akan mengubah wajah ibu kota Spanyol selamanya: mendirikan sebuah masjid besar di Madrid.

Namun, seperti banyak mimpi besar lainnya, realisasinya harus menanti. Ya, harus menanti sealama 11 tahun. Selama sebelas tahun, proposal itu teronggok dalam tumpukan dokumen, menanti keajaiban. Dan, keajaiban itu akhirnya datang dari Tanah Suci. Pada tahun 1987, Raja Fahd bin Abdulaziz dari Arab Saudi mengambil keputusan yang akan mengubah segalanya. Sang raja memutuskan untuk mendanai sendiri proyek ambisius ini. Nilainya? Sekitar 2.000 juta peseta: nilai yang jika dikonversi kini mencapai 12 juta euro lebih.

Dengan dana yang mengalir deras, proyek yang “tertidur” selama sebelas tahun itu langsung terbangun. Arsitek-arsitek terbaik ditunjuk. Pembangunannya pun dimulai. Selama lima tahun, ribuan pekerja dan pengrajin bahu-membahu mewujudkan istana putih di tepi M-30.

Akhirnya, proyek itu rampung pada tahun 1992. Mereka pun kemudian menetapkan tanggal 21 September 1992 untuk meresmikan proyek itu. Tanggal itu pun kemudian tercatat dalam sejarah Spanyol modern: dua orang penting berdiri berdampingan di lokasi yang masih asing bagi sebagian besar warga Madrid: Raja Juan Carlos I dari Spanyol dan Pangeran Salman bin Abdulaziz (yang kini menjadi Raja Arab Saudi) yang mewakili Raja Fahd. Sebuah upacara megah digelar. Pita dipotong, doa dipanjatkan. Dan, kemudian, Pusat Budaya Islam Madrid pun resmi membuka pintunya untuk umum.

Pemilihan tahun tahun 1992 itu, sejatinya, bukanlah kebetulan. Spanyol saat itu sedang gempar-gemparnya: Olimpiade Barcelona, Expo Sevilla, dan peringatan 500 tahun “penemuan’ Amerika oleh Columbus. Namun, di tahun yang sama, sejarah mencatat juga peristiwa kelam: pengusiran terakhir kaum Muslim dari Granada pada tahun 1492. Dengan meresmikan pusat Islam ini, Spanyol seolah ingin menulis ulang narasinya: era baru telah tiba, era di mana Islam kembali mendapat tempat terhormat di negeri yang pernah menjadi rumahnya. Selama berabad-abad.

Menariknya, sebelum peresmian itu, masjid ini sebenarnya sudah lebih dulu bernafas. Pada Maret 1992, bertepatan dengan bulan Ramadhan, sekitar 500 jamaah telah berdatangan setiap Jumat untuk menunaikan salat di bangunan yang baru setengah jadi.

Dari Majrith ke Madrid: Jejak Islam Abad ke-9 M

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam masjid, mari sejenak kita mundur ke masa lalu. Sebab, kehadiran Islam di Madrid bukanlah sesuatu yang baru. Justru, kota ini lahir dari rahim peradaban Islam.

Pada abad ke-9, Muhammad I dari Cordoba, seorang emir dari Dinasti Umawiyah, memerintahkan pembangunan sebuah benteng kecil di tepi Sungai Manzanares. Benteng itu diberi nama Majrith: kata yang kelak berevolusi menjadi “Madrid”. Para ahli bahasa percaya bahwa nama Majrith berasal dari kata Arab yang berarti “saluran air” atau “abundancia de agua” (limpahan air), merujuk pada banyaknya aliran bawah tanah di kawasan itu. Air yang melimpah itulah yang menarik manusia untuk bermukim di sana sejak ribuan tahun lalu.

Di dalam Benteng Majrith itu dibangun sebuah masjid. Tepatnya di lokasi yang kini menjadi persimpangan Calle Mayor dan Calle Bailén, di area yang kini ditempati oleh sebuah rumah susun. Kemudian, ketika pasukan Kristen merebut Madrid pada abad ke-11, masjid itu tak dihancurkan. Seperti banyak masjid di Spanyol, masjid dalam Benteng Majrith itu dikonversi menjadi gereja: Gereja Santa María de la Almudena. Nama Almudena sendiri diyakini berasal dari kata Arab al-mudayna (benteng kecil), mengacu pada asal-usul bangunan itu sebagai masjid di dalam Benteng Majrith.

Selama berabad-abad, bangunan itu berdiri, direnovasi berkali-kali, dan menjadi saksi bisu pergantian zaman. Namun, pada tahun 1869, ketik akota Madrid “harus tumbuh” dan jalan-jalan baru harus dibangun, gereja tua itu dirobohkan. Lenyap sudah masjid pertama Madrid Terkubur di bawah aspal dan beton. Dan, selama lebih dari satu abad, tak ada masjid besar di Madrid. Baru pada akhir abad ke-20, dengan diresmikannya Pusat Budaya Islam ini, suara azan kembali terdengar di ibu kota Spanyol. Kali ini dari menara setinggi 25 meter yang menjulang di tepi M-30.

Mendekati komplek ini, hal pertama yang tertangkap mata adalah fasad marmer putih yang bersih dan berkilau. Marmer ini bukan impor dari Italia atau Yunani. Namun, marmer lokal: marmer Macael dari Almería, Andalusia. Pilihan material lokal ini bukan kebetulan. Para arsitek ingin menegaskan bahwa pusat Islam ini bukan “enklave asing”, namun bagian dari tanah Spanyol sendiri.

Marmer putih ini melambangkan kesucian dan spiritualitas, sekaligus memancarkan cahaya yang lembut di bawah terik matahari Madrid. Kontras dengan marmer putih, atapnya menggunakan genteng merah yang langsung membangkitkan ingatan pada Alhambr, Granada: istana megah peninggalan Islam terakhir di Spanyol .

Masjid di Madrid tersebut dilengkapi menara (alminar) yang menjulang setinggi 25 meter. Menara itu sendiri merupakan salah satu dari hanya sedikit menara masjid yang ada di Madrid. Namun, meski menara itu berdiri kokoh, suara azan jarang sekali berkumandang darinya.

Ini adalah kompromi dengan lingkungan perkotaan Spanyol yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Sang muazin lebih kerap mengumandangkan panggilan shalat di dalam ruangan. Para jamaah telah mengetahui jadwalnya.

Meski demikian, keberadaan menara tersebut tetap penting. Menara itu menjadi penanda dan pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kota modern ada ruang spiritual yang terjaga. Dan, menara itu menjadi ikon baru Distrik Ciudad Lineal, dilihat setiap hari oleh ribuan pengendara yang melintas di M-30.

Selain menara, masjid dan pusat budaya Islam di Madrid tersebut dihiasi dengan pintu gerbang bergaya lengkung, ruang shalat, sekolah, perpustakaan, museum dan ruang pameran, auditorium, gimnasium, restoran, dan tempat tinggal Imam dan Direktur.

Wajah Baru Islam di Spanyol

Ketika matahari mulai terbenam di ufuk barat Madrid, marmer putih masjid ini berubah warna menjadi jingga keemasan. Di dalam masjid, ribuan jamaah tengah bersimpuh dengan dahi menyentuh lantai, berbisik dalam bahasa yang sama, “Allahu Akbar, Allah Maha Besar.”

Di luar, ribuan kendaraan terus melintas di M-30. Para pengemudi mungkin tak menyadari keberadaan istana putih ini Atau mungkin meliriknya sekilas sambil menunggu lampu merah berganti. Namun, bagi yang mau berhenti sejenak dan bagi yang mau meluangkan waktu masuk ke dalam, tempat ini menawarkan pengalaman yang tak terlupakan: sebuah perjumpaan dengan sejarah panjang Islam di Spanyol, dengan arsitektur yang memadukan keindahan Córdoba dan kemegahan Alhambra. Dan yang terpenting, dengan wajah Islam yang damai, terbuka, dan ramah.

Selain itu, di negeri yang dulu menjadi pusat peradaban Islam selama delapan abad, kini berdiri sebuah mercu suar baru. Ia bukan pengganti Masjid Agung Córdoba atau Alhambra Granada yang telah berubah fungsi. Ia adalah wajah baru Islam di Spanyol: modern, percaya diri, dan ingin berdialog.

Ini sebagaimana pernah ditulis España Fascinante, “Dengan pelarangan Islam pada pertengahan abad ke-16 dan pengusiran orang Moor tidak lama setelahnya, peradaban Islak secara resmi dihapus dari Semenanjung Iberia. Sebuah budaya yang berakar selama berabad-abad dan menghasilkan buah yang hingga kini masih memukau kita, direduksi menjadi reruntuhan. Namun, pada akhir abad ke-20, Islam bangkit kembali di Spanyol bagaikan burung phoenix.”

Mezquita de la M-30 adalah burung phoenix itu. Ia terbang tinggi di atas Madrid, membawa pesan bahwa peradaban tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali!

Tags: Catatan Rofi' UsmaniMakin Tahu IndonesiaMasjid Agung MadridMezquita de la M-30
Previous Post

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

Next Post

Bojonegoro Matangkan Porkab II 2026, Target Lebih dari 20 Cabor

BERITA MENARIK LAINNYA

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka
Destinasi

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

06/04/2026
‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro
Destinasi

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

29/03/2026
Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro
Destinasi

Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro

05/12/2025

Anyar Nabs

Hukum atau Senjata?

Hukum atau Senjata?

02/05/2026
May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

29/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: