Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi di mana hati gundah gulana sebab dibombardir persoalan bertubi-tubi? Sambung menyambung seakan tiada habis-habisnya. Problematika yang membuat jiwa goncang. Kegundahan yang mendorong untuk putus asa.
Perjalanan hidup seakan-akan menjumpai jalan buntu. Dunia terasa gelap. Titik terang tidak kunjung tiba. Saya rasa, setiap manusia, selama masih bernafas, pasti mengalami hal semacam itu.
Hanya saja, perihal strategi merespons problem, kontrol dan manajemen emosi, setiap dari kita tak mesti seragam. Pun demikian dengan ke mana arah “pelarian”-nya, kepada apa dan siapa kita melampiaskannya, itu juga bisa jadi tidak serupa.
Ada yang sengaja menceburkan diri dalam kubangan minuman keras (miras), narkotika, judi online (judol), dan lain-lain. Mencari ketenangan hati pada kesenangan semu yang menjerumuskan dan sekaligus mengundang murka Al-Khalik.
Padahal, hati kita akan tenang hanya dengan mengingat Allah (QS Ar-Ra’d: 28). Dan mukmin sejati itu, semisal sedang ditimpa ujian;baik ekonomi, keluarga, politik, sosial, dan semacamnya, senantiasa dan menjadikan satu-satunya tempat mengadu yaitu hanya kepada Al-Malik.
Salah satu caranya dengan salat. Sebab salat sendiri adalah zikrullah. Dalam salat kita mengingat Allah. Dengan lisan yang melafalkan bacaan, hati yang mengangungkan, dan tubuh yang melakukan gerakan; mulai dari takbiratul ihram hingga salam.
Salat, pada dasarnya tidak sebatas ritual rutin tanpa makna. Salat, bukan hanya, ibadah yang syarat dan rukunnya wajib dipenuhi. Bukan sekadar ibadah yang tata caranya, mulai dari lafal yang dibaca hingga arah yang harus dituju itu diatur sedemikian rupa.
Lebih dari itu, salat, juga menggambarkan relasi yang sangat personal antara seorang hambat dan Rabb-nya. Sebagai berkomunikasi, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Tuhannya. Tidak hanya itu, dalam salat juga terdapat fadilah bermacam-macam. Salah satunya bahwa salat itu menenangkan atau menyejukkan jiwa yang sedang bergemuruh.
Menyitir pandangan Hamdani (2006), jiwa yang tenang atau muthmainnah adalah jiwa yang senantiasa mengajak kembali pada fitrah Ilahiyah Tuhannya. Indikasi hadirnya jiwa yang tenang pada diri seseorang terlihat dari perilaku, sikap, dan gerak-geriknya yang tenang, tidak tergesa-gesa, penuh pertimbangan dan perhitungan yang matang, tepat, dan benar. Tidak terburu-buru untuk bersikap apriori dan berprasangka negatif serta menelusuri hikmah yang terkandung dari setiap peristiwa, kejadian, dan eksistensi yang terjadi.
Termasuk juga ketika kita sedang bingung dan khawatir dengan atau tanpa alasan. Juga ketika terlalu khawatir dan takut menghadapi masa depan. Bisa jadi jiwa kita memang betul-betul sedang bergejolak.
Setali tiga uang, Aidh al-Qarni dalam bukunya, La Tahzan Jangan Bersedih, juga mengemukakan bahwa ketenangan adalah ketertambatan hati kepada Rabb, kepercayaan hati yang sangat kuat kepada Yang Maha Pengasih, atau ketenangan nurani karena bertawakal kepada yang mampu.
Sehingga boleh diartikan ketenangan jiwa adalah kondisi jiwa yang terbebas dari rasa takut, panik, khawatir, gelisah, overthinking, dan semacamnya atas beragam kejadian atau problematika hidup sebab selalu menambatkan hati kepada Sang Pencipta. Dan sekali lagi, salah satu jalannya yaitu dengan menegakkan salat.
Bagaimanapun juga, keyakinan kita mesti diperkokoh bahwa salat dapat menghilangkan perasaan terhimpit, menghalau perasaan tidak berdaya, menghilangkan keraguan, membangkitkan harapan, menangkal kekhawatiran, menghalau rasa takut, menjaga keseimbangan jiwa, dan menepis kegundahan. Salat juga menguatkan dan melapangkan jiwa kita.
Allah Swt dalam Al-Quran Surah Al-Ma’arij ayat 19-23 berfirman: “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila mendapatkan kebaikan ia kikir. Kecuali orang-orang yang melaksanakan salat, yang mereka itu tetap setiap melaksanakan salatnya.”
Terkait ayat tersebut, Prof. Dr. Quraish Shihab, cendekiawan muslim, dalam kitab karangannya, Tafsir Al-Misbah, halaman 245 jilid 15, menafsirkan bahwa manusia memiliki potensi alami untuk tidak stabil secara emosional, namun salat yang dikerjakan secara terus-menerus membantu mengarahkan dan menstabilkan respons emosional tersebut. Kontinuitas dalam salat membentuk pola disiplin spritual yang memperkuat ketahanan psikologis individu.
Kemudian pertanyaannya sekarang adalah salat seperti apakah yang mampu menyirami gersangnya jiwa dengan air yang penuh kesejukan? 5 kali dalam sehari, 35 kali dalam sepekan, 150 kali dalam sebulan, dan akan terus menerus sepanjang hayat kita tegakkan salat fardhu, tapi kenapa jiwa sebagian dari kita masih gusar?
Jangan-jangan memang selama ini, kita, terutama saya selaku penulis, salat seperti halnya supir bus yang ngebut di tjalan tol sebab ngejar setoran. Atau jangan-jangan salat kita seperti halnya maling lari terbirit-birit sebab dikejar warga karena ketahuan mencuri ayam.
Setiap waktu, berulang-ulang salat dengan tergesa-gesa. Lalu, dengan entengnya bertanya: “Kenapa batin saya risau hanya karena masalah sepele? Padahal saya salat terus?” Silakan renungi sendiri perihal pertanyaan itu.
Memungkasi catatan ini, kiranya kita bergegas untuk memperbaiki kualitas salat kita dari segala sisinya untuk meraih kesejukan jiwa. Dan pondasi utamanya adalah dengan ilmu. Sehingga, mempelejari ilmu tentang salat itu sebenarnya tidak ada habisnya.
Lebih-lebih yang menyangkut tata cara agar salat kita semakin khusyu. Terutama agar salat yang kita kerjakan penuh dengan kesadaran, penghayatan, dan pengangungan kepada Allah.
Sampailah pada ujung pembahasan. Memungkasi catatan ini, kiranya kira belajar untuk berkomitmen dan bersungguh-sungguh menjadikan salat sebagai jembatan penghubung atau konektor antara kita dan Sang Pencipta dalam rangka mengadukan keluh kesah hidup.
Menjadikan salat sebagai ruang untuk berkomunikasi, mengingat, dan mendekat kepada Allah. Lewat salat, kita mendambakan dan mengharap penuh rahmat dan ridha Allah.
Dengan begitu, jiwa menjadi tenang, bisa bebas dari pasung-pasung dunia yang sangat bising dan gemerlap. Percayalah dan yakinilah bahwa ketenangan jiwa merupakan sumber kebahagiaan dan kedamaian hidup. Jadi mari sejukkan jiwa dengan salat!








