Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Melihat Karl Marx sebagai Manusia Biasa yang Romantis dan Pekerja Keras

Chusnul Chotimmah by Chusnul Chotimmah
22/09/2022
in Figur
Melihat Karl Marx sebagai Manusia Biasa yang Romantis dan Pekerja Keras

Namanya sering membikin orang takut kesurupan ideologi setan. Padahal, Karl Marx adalah manusia biasa. Pernah kecil, remaja dan jatuh cinta. 

Karl Heinrich Marx, lahir di Jerman, dari keluarga kelas menengah pada 5 Mei 1818. Hari ini 201 tahun lalu. la merupakan anak pertama dan satu-satunya yang bertahan dari kesembilan saudaranya.

Bapaknya, seorang advokat yang mengagumi pemikiran Kant dan Voltaire. Dari sini, kita agaknya bisa mengetahui dari mana idealisme dan pemahaman Marx akan filsafat dibentuk.

Marx kecil adalah seorang yang biasa saja, anak berkemampuan rata-rata yang mengenyam pendidikan di rumah. Ia baru mengenyam pendidikan di sekolah saat usianya menginjak 12, yakni berada di Jesuit High School, salah satu sekolah di Trier.

Lima tahun kemudian, setelah latar belakang keluarganya sebagai orang Yahudi ramai diperbincangkan, membuatnya mengalami diskriminasi, Marx pindah dan melanjutkan studinya di Bonn.

Di situlah ia menjalani masa remajanya seperti halnya anak remaja lain, bertengkar memperebutkan perempuan, mabuk-mabukan, dan menghabiskan beberapa waktu di penjara.

Meski liar dan kurang kondusif, sesekali Marx adalah pemuda romantis yang mampu membikin hati gadis pujaannya meleleh dengan puisi.

Marx bahkan tergabung dalam klub puisi dan membuat sejumlah puisi untuk gadis pujaannya, Jenny Von Westphalen. Mereka menjalin hubungan jarak jauh karena Jenny bertempat di Trier. Salah satu puisinya berbunyi:

Sonnets to Jenny

Take all, take all these songs from me
That love at your feet humbly lays
Where, in the Lyre’s full melody,
Soul freely nears in shining rays.
Oh! If song’s echo potent be
To stir to longing with sweet lays,
To make the pulse throb passionately
That your heart sublimely sways,
Then shall i witness from afar
How victory bears you light along,
Then shall i fight, more bold by far,
Then shall my music soar the higher;
Transformed, more free shall ring my song,
And in sweet woe shall weep my Lyre

Puisi di atas ditulis pada 1836, yang kemudian dibukukan menjadi 3 bagian dengan judul “Book of Love” bagian pertama, bagian kedua, dan bagian ketiga.

Dari puisi di atas, kita tahu bahwa se-filsuf-filsuf-nya Marx, ia juga manusia biasa. Dan seperti kata pepatah, “Semua akan bodoh di hadapan cinta”, sama halnya dengan Marx.

Dari baris pertama saja bisa kita bayangkan ketidakberdayaan Marx di hadapan cinta. “Ambillah, ambil semua lagu dariku, cinta yang ada di kakimu dengan rendah hati terungkap.”

Meletakkan cintanya di bawah kaki seorang perempuan, dan memelas untuk kemudian diambil yang dicintai. Luar biasa dahsyat ya, Nabs?

Dua insan yang saling jatuh cinta itu kemudian menikah dan pindah ke Paris, setelah beberapa insiden yang menimpa Marx. Termasuk salah satunya adalah tekanan yang diberikan pemerintah pada koran tempatnya bekerja, Rheinische Zeitung.

Namanya sering membikin orang takut kesurupan ideologi setan. Padahal, Karl Marx adalah manusia biasa. Pernah kecil, remaja dan jatuh cinta. Ia juga sosok suami dan bapak yang baik pada anak dan istrinya.

Kepindahannya ke Paris adalah karena saat itu, Paris merupakan jantung dari perpolitikan Eropa. Marx memulai jurnal politik dengan Arnold Ruge, namun hanya sempat menerbitkan satu karya karena perbedaan pandangan di antara mereka.

Meski begitu Jurnal tersebut yang mengantarkan Marx bertemu dengan Friedrich Engels, orang yang kemudian menjadi sahabat karibnya sepanjang hidup.

Tidak terhitung berapa kali Marx berpindah tempat karena pemikirannya yang radikal. Dari Paris, ia kembali berpindah ke Belgia, namun kembali lagi ke Perancis setelah didepak dari Belgia.

Kembalinya ke Perancis adalah karena mengantisipasi revolusi sosialis, tapi kemudian dideportasi juga dari sana.

Karena di Prussia ia juga mengalami penolakan, Marx pergi ke London. Tepatnya di Dean Street London. Meski tidak diakui sebagai warga resmi Britania, ia tetap tinggal di sana sampai kematiannya.

Marx suami dan bapak yang santun dan pekerja keras

Di Dean Street, Marx memang jatuh dalam kemiskinan. Di tempat ini pula, 3 anak Marx meninggal karena sakit dan tak mampu mengobati. “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Marx mengesampingkan tragedi, kesukaran dan penyakit keluarga, ia memaksakan diri memenuhi jadwal studi harian selama delapan jam di British Museum. Di sini, terlihat betapa ia sangat pekerja keras.

Pergi pukul sembilan pagi dan pulang pukul tujuh tiga puluh malam. Disusul tiga hingga lima jam lagi studi pribadi di kamarnya. Sambil menemani anak-anaknya bermain dan berlarian mengitari meja, ia menulis catatan pertamanya utuk Kapital.

Di sana, Marx mulai fokus pada kapitalisme dan teori-teori ekonomi. Dan di sana pula, ia bersama Engels merampungkan  ‘Das Kapital’, buku yang tebalnya melebihi batu bata dan menginspirasi banyak pemikir hingga lahirlah istilah Marxisme dan Marxist, orang-orang yang mengamini sejumlah pemikiran Marx.

Jalan hidup seorang revolusioner memang tidak pernah mudah ya, Nabs. Dikucilkan, diasingkan, bahkan dideportasi dan kehilangan hak politiknya. Sepanjang hidupnya, selain berpindah-pindah tempat, Marx juga kerap mengubah nama agar susah dilacak keberadaannya oleh penguasa setempat.

Ini semua karena pemikirannya yang radikal, yang kerap bertentangan dengan penguasa setempat. Untung saja ada sahabatnya yang setia menampung Marx selama sisa hidup, yakni Engels.

Terlepas pemikirannya yang radikal, Karl Marx adalah sosok suami dan bapak yang sangat baik dan santun. Saat tinggal di Dean Street London, polisi pernah menyelidiki kehidupan Marx. Penyebabnya, ada seorang tetangga yang mencurigai Marx melakukan pencurian.

Polisi tersebut tak hanya menyelidiki, tapi juga menulis laporan tentang seluk-beluk Marx, istrinya, dan kehidupan di dalam rumah tersebut. Polisi tersebut menulis sebuah laporan yang sungguh menggetarkan:

“Sebagai seorang suami dan ayah, terlepas dari wataknya yang resah dan liar, Marx adalah lelaki paling baik dan santun.” 

Selamat ulang tahun, Marx!

Tags: Karl MarxKomunisRomantis
Previous Post

5 Grup Facebook Paling Berpengaruh di Bojonegoro

Next Post

Benarkah Sifat Malas Hanya Mitos?

BERITA MENARIK LAINNYA

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah
Figur

Fazlur Rahman Khan, Sosok di Balik Lahirnya Terminal Haji Jeddah

20/03/2026
Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman
Figur

Bruno Guiderdoni: Keseimbangan Sains, Quran, dan Iman

18/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: