Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mesin Pembunuh Harapan

A. Farid Fakih by A. Farid Fakih
01/08/2019
in Cecurhatan
Mesin Pembunuh Harapan

“Kamu boleh kehilangan segalanya, tapi jangan dengan harapan” – Anonim.

Persis seminggu lalu, di sebuah Kamis yang cerah, saya merenungi kembali kutipan itu. Membacanya berulang-ulang seperti adegan sewaktu menjelang sidang skripsi, setahun lalu di sebuah kampus di Surabaya.

Semula, kata-kata itu saya peroleh dari sebuah tulisan yang diunggah seseorang di laman facebook entah beberapa masa silam. Kutipan itu memang ampuh, dan kerap menjadi pemicu agar lentera impian saya terus menyala.

Pada episode yang tengah saya hadapi saat ini, telah melimpah jumlah manusia yang lalu lalang dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka akan bangun sebelum pukul tujuh pagi, sarapan, lalu berangkat ke tempat kerja. Sore harinya mereka akan bergegas kembali untuk pulang, rebahan sebentar, lalu istirahat. Siklus itu akan selalu berulang, hingga masa libur tiba.

Yang sering terjadi, karena rutinitas yang padat itu, beberapa teman juga mengalami depresi dan kecemasan. Itu karena apa yang diekspektasikan di masa sebelum lulus kuliah, barangkali berbeda sama sekali dengan yang dijalani saat ini. Alias, kok malah jadi begini ya hidup kami?

Tetapi, di sudut yang lain, ada juga yang menyambutnya dengan suka cita. Setidaknya ada hal baru yang didapat menjelang fase usia berikutnya. Soal ini saya melihat dengan jelas raut muka seorang teman.

Di karirnya sekarang, sebagai salah satu pimpinan farm di Jombang, dia akan begitu antusias manakala saya mengajaknya ngobrol tentang peternakan.

Padahal di masa kami SMA, yang saya tahu, bahasan paling mungkin untuk kami bicarakan adalah soal playstation, Eny Sagita, dan sepakbola. Sungguh, empat tahun menggeluti dunia peternakan di UMM telah menjadikannya berbeda 180 derajat. Semoga selalu bahagia dengan karirmu, ya Bro!

Seirama dengan kehidupan baru yang terus berjalan, sialnya, tidak sedikit juga yang kelewat bahagia. Maksud saya, ada yang terlalu berlebihan dalam menyambut euforia ini. Misalnya dengan menyebar racun busuk berlabel “saran” dan “sekadar mengingatkan”.

Saya mungkin masih terlalu amatir dalam bab ini. Tapi, sependek yang saya ketahui, menjadi orang-orang yang menggurui atau menasehati tidak selamanya baik. Rasa-rasanya harus ada maqom tersendiri, agar konteks dan niat baik itu tersampaikan dengan baik dan seksama.

Sebab, jika nyaris semua orang bertindak sebagai hakim, yang ada hanyalah pemaksaan standar moral terhadap orang lain juga. Padahal kita tahu, setiap orang memiliki jalan ceritanya masing-masing.

Ada yang berangkat menuju yang dicapai sekarang dengan jalan berliku penuh darah dan keringat basah. Ada yang mencapainya bahkan dengan jalur vvip, yang nyaris tanpa tenaga.

Lalu, dengan dasar kemanusiaan seperti apa, hingga seseorang rela menyela pencapaian orang lain, “Kok kamu cuma menjadi guru, ya? Kemarin tetanggaku ijazahnya sarjana sekarang menjadi pegawai bank”.

Disadari atau tidak, ujaran yang seringkali diucapkan dengan dalih basa-basi tersebut, senyatanya menjadi mesin pembunuh segala harapan. Kita tidak pernah tahu, rasa cemas dan depresi seperti apa yang harus ditanggung, manakala pencapaian yang memiliki ceritanya sendiri itu, dihancurkan oleh pemaksaan standar moral.

Kita mungkin bisa memperdebatkan kasus ini dengan klaim tujuan mulia: menjadikan seseorang lebih baik. Tetapi, barangkali pula ada babak yang terlewatkan bahwa segala hal yang menurut kita baik, belum tentu relevan dengan konteks dan kebutuhan seseorang.

Lantas, ketimbang menjadi hakim dengan vonis-vonis mengerikan itu, bukankah sebaiknya kita memperlebar daya dengar telinga untuk merangkum kisah-kisah menakjubkan tadi?

Kita tidak pernah tahu, mungkin dengan menjadi guru, seseorang telah mempertebal keberaniannya untuk mendedikasikan diri demi orang lain, menebus masa lalu yang suram, atau sekadar mewakafkan diri untuk kehidupan.

Dan kita juga tidak pernah mengerti, barangkali dengan menjadi penjual online shop, ternyata mampu menjadikan seseorang melatih mental bisnis sekaligus menajamkan kepekaan membuka lapangan kerja.

***

Di layar kaca, kita tahu, seorang tersangka yang mengenakan rompi kuning bertuliskan tahanan kpk adalah penjahat. Dan saya pikir, dengan menjadi penghancur harapan seperti tadi, kita tidak jauh lebih baik dari penjahat itu. *

Tags: Harapankehidupan
Previous Post

Melewati Badai Patah Hati Pasca Putus Cinta

Next Post

Zen RS dan Hidup yang Beralih dari Suasana ke Suasana

BERITA MENARIK LAINNYA

Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan
Cecurhatan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
Di Antara Embargo dan Martabat
Cecurhatan

Di Antara Embargo dan Martabat

07/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: