Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Coworking Space: Keberadaan, Kebutuhan dan Riset Tentangnya

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
12/08/2019
in JURNAKULTURA
Coworking Space: Keberadaan, Kebutuhan dan Riset Tentangnya

Coworking Space dibutuhkan atas dasar banyak variabel. Sedang di Bojonegoro, sementara ini, semua  variabel itu bisa dirangkum dalam satu tempat yang sama: warung kopi.

Oktober 2013, Gus Setyono menelpon saya. Dia bercerita jika baru saja main ke Bandung dan punya cerita yang ingin dia sampaikan pada saya, tentang sebuah tempat yang dia istilahkan sebagai Tempat Nyangkruk Produktif.

Kawan yang akrab saya sapa Tyo itu menjelaskan, tempat itu serupa cafe, tapi ada banyak buku dan berbagai macam kegiatan komunitas. Di saat bersamaan, banyak pula para pekerja yang menghabiskan waktu di sana. Dia memastikan jika saya bakal senang berkunjung ke tempat itu.

“Apa distro-mu masih eksis?” tiba-tiba dia bertanya demikian di sela-sela proses bercerita.

“Sudah tutup.”

Tiga tahun sebelumnya, kawan seperjuangan kala hidup di Surabaya itu tahu jika saya membuka sebuah toko pakaian dan aksesoris kecil-kecilan yang ada ruang ngopi dan membaca di dalamnya.

Teman-teman sering menjuluki tempat itu dengan nama Distro Kecil. Tyo satu di antara sejumlah teman yang saya mintai pertimbangan terkait tempat itu.

“Piye nek tempatmu itu dijadikan Tempat Nyangkruk Produktif?”

“Modelnya kayak gimana?” Tanya saya penasaran, “Nek cuma model koyok CBGB wae iso banget, tapi yo siap-siap digrebek tonggo.” kata saya sambil tertawa.

Beberapa tahun belakangan, saya baru ngeh jika apa yang diistilahkan Tyo dengan Tempat Nyangkruk Produktif itu bernama Coworking Space atau ruang kerja bersama — sebuah ruang yang kian populer di tengah gempuran era digital.

Namun, saya langsung sadar jika Coworking Space tak bisa didirikan di sembarang tempat. Ia hanya bisa hadir di sebuah habitat pekerja dengan ritme tertentu yang memang membutuhkan keberadaan tempat tersebut.

Schraubenfabrik adalah Coworking Space pertama yang hadir di Austria pada awal 2002 silam. Sementara di Indonesia, Coworking Space pertama adalah Hackerspace Bandung, yang dibikin Forum Web Anak Bandung (FOWAB) pada 2010.

Seiring berkembangnya waktu dan kian mekarnya industri start-up, Coworking Space kian merayap di sejumlah kota besar. Tak hanya di Bandung. Tapi juga kota lain seperti Jakarta, Jogja, Surabaya, Medan hingga Denpasar.

Coworking Space hadir sebagai wadah para pekerja kreatif dan freelancer digital. Sekaligus ruang hubung bagi komunitas untuk menggelar even dan berbagai aktivitas.

Daily Sosial mencoba mengeksplorasi persepsi publik tentang Coworking Space (ruang kerja bersama) melalui sebuah riset bertajuk Coworking Space in Indonesia 2018.

Dari sebanyak 1617 responden tersebar di Jawa dan Bali, Daily Sosial melempar tanya tentang seberapa familiar mereka dengan istilah Coworking Space. Dari jumlah itu, 67 persen mengklaim paham dan tahu apa itu Coworking Space. Hanya, jawabannya beragam.

Sebanyak 82 persen menjawab sebagai ruang bekerja, 55 persen memahami sebagai ruang kumpul komunitas, 42 persen menganggap sebagai ruang menggelar aktivitas, dan 19 persen lainnya menganggap sebagai ruang pertemuan.

Melalui pertanyaan dapatkah kamu bekerja di Coworking Space? sebanyak 89,79 persen responden dengan rentang usia (20-35) mengaku cocok bekerja di Coworking Space. Sementara sisanya, 10,21 persen tidak.

Dari responden yang mengaku cocok bekerja di Coworking Space, memang terdiri dari berbagai macam varian pekerja. Namun, mayoritas bekerja di sektor pekerja kreatif yang memanfaatkan fasilitas digital.

14,55 persen (video editor), 13,62 persen (entrepreneur), 12,17 persen (writer), 11, 64 persen (programer), 9,79 persen (designer), 9,66 persen (enginer), 8,86 persen (other option), 7,67 persen (konsultan), 6,61 persen (digital marketing), 5,42 persen (researcher).

Dari data itu, variabel terkait apa yang paling dicari dari Coworking Space pun, sangat beragam. Dari yang hanya mencari koneksi internet hingga menghimpun jaringan. Datanya sebagai berikut:

75,40 persen (internet conection), 65,67 persen (work room), 64,23 persen (meeting room), 31,16 persen (food and beverage), 25,60 persen (networking), 16,47 persen (virtual office), 15,08 persen (self-development event), 2,98 persen (locker).

Konektivitas internet dan kenyamanan tempat menjadi faktor paling menentukan keberadaan Coworking Space. Sebab, itu sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang punya ritme kerja secara digital.

Kesimpulan dari penelitian tersebut, 90 persen responden menjawab jika karakteristik pekerjaan mereka bisa diselesaikan secara baik di Coworking Space. Sedang mereka memilih Coworking Space dipengaruhi sejumlah hal. Di antaranya; lokasi (79 persen), fasilitas (67 persen), biaya (67 persen), dan lingkungan (62 persen).

Data dari Daily Sosial menunjukkan bahwa Coworking Space memang penting dan diperlukan ditengah ritme kerja santai para pekerja Milenial. Namun, tak semua kota memerlukannya. Hanya kota besar yang punya ekosistem kerja digital saja.

Pertanyaannya, apakah Bojonegoro membutuhkan Coworking Space?

Secara lawaran, saya berani menjawab jika kehadiran Coworking Space di Bojonegoro belum menjadi sesuatu yang mendesak. Alasannya sederhana. Selain ritme kerja kreatif belum terbangun sepenuhnya, hampir semua variabel di atas, bisa ditemukan di giras dan warung kopi yang menjamur di Bojonegoro.

Dari data yang dipaparkan Daily Sosial, Coworking Space dibutuhkan masyarakat atas dasar banyak variabel. Sedang di Bojonegoro, semua variabel itu, sementara ini, cukup dirangkum dalam satu tempat yang sama: warung kopi. Namun tenang dan sabar dan jangan emosi, secara data dan penelitian mendalam, tim riset Jurnaba sedang mempersiapkannya.

 

Tags: Coworking SpacePekerja Kreatif
Previous Post

MRT dan Solusi Transportasi Massal Terbaik Ibukota

Next Post

Menghindarkan Diri dari Candu Game Online

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: