Di antara gundah yang terasa, menyepilah dan coba dengarkan perkara apa yang hendak sunyi ceritakan kepadamu.
Pagi ini Pak Sapardi, tokoh besar dunia sastra Indonesia telah kembali ke haribaan ilahi. Beliau pergi ketika aku masih sedang patah hati.
Rasanya aku ingin menulis sesuatu yang puitis. Tapi jelas itu sulit. Karena detik-detik terus meleleh di hadapan muka rindu.
Tiktok jam pecah bergelinding membuyarkan masa yang dijeda sudah sampai jam segini, tapi yang lampau belum juga kembali.
Detik pergi melintasi peristiwa dan sampai ke semesta gulita layaknya jiwa yang terbentur luka, tak ada lagi yang ia kenal termasuk jiwa yang terluka. Karena meski banyak yang membuatmu terluka, tapi kau tak pernah mau melepas penyebabnya.
Hari-hari selalu menjadi basah setiap kali resah mengubah wujudnya dalam bentuk hujan bulan Juli. Angkasa dalam hati tidak cukup kuat untuk terus menampung luka yang menggumpal hitam.
Lalu tiap kali basah, terdengar sayup-sayup hati yg menggigil “Apa sudah saatnya berhenti?”
Kini, isi kepala kembali diobrak-abrik, di dalamnya ada kekisruhan. Chaos. Aku sebagai pemimpin demonstran menuntut keadilan, untuk sekadar tidur malam atau menghabiskan malam yang merdeka tanpa cemas tergeletak di mana-mana.
Aku melihat tak henti-hentinya manusia terus menerus lari dari kehidupannya. Tangis makin terabaikan, tawa dianggap fana dan sisanya hanya ketiadaan. Karena yang fana tak hanya waktu. Pada akhirnya, kita dan segala yang ada akan fana pada waktunya.
Aku mendengar, di ujung waktu menuju pagi, ada cinta yang siap mendengar apa saja. Tentang racau di kepala yang sedang merdu-merdunya merangkai kesedihan. “Mungkinkah kicau ini akan sampai di telingamu?”
Sudahlah, Puan. Mari kita lanjut perjalanan ini esok hari. Entah, apakah esok petualangan ini akan selesai dan menjadikan dirimu sebagai rumah tempatku menidurkan jasad.
Ketika sampai waktunya tiba, kau akan paham kalau yang pasti hanyalah mati. Jadi belajarlah mencintai ketidakpastian. Sudah tak usah kau risaukan, kau tak perlu tahu bahwa “puan” dalan puisiku berarti kamu.
Dan pagi ini, Pak Sapardi, tokoh besar dunia sastra Indonesia telah kembali ke haribaan ilahi. Beliau pergi ketika aku masih sedang patah hati.








