Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Aroma Kembang dan Arah Jalan Pulang

Imron Nasir by Imron Nasir
14/12/2023
in Cecurhatan
Aroma Kembang dan Arah Jalan Pulang

Sumber dapat kita artikan asal mula sesuatu. Sumber adalah kata yang saya pilih untuk mengawali tulisan ini. Seperti mencari sumber rujukan tulisan, sumber mata air, sumber kekayaan, sumber suara, dan sumber aroma.

Aroma kembang atau wewangian biasanya tanpa sengaja terhirup oleh penciuman kita. Penciuman yang tidak siap dengan sebuah aroma yang mendadak muncul akan membuat kita mencari dari mana sumber aroma itu.

Karena sesuatu yang mistis, bisa jadi kita urungkan pencarian tersebut karena sebuah alasan “rasa takut”. Bisa saja itu sebuah arwah orang yang lebih dahulu pulang ke samping Tuhan atau setan yang gentayangan, keduanya akrab dengan malam Jumat.

Aroma kembang dan arah jalan pulang adalah sebuah catatan yang dilatarbelakangi oleh tulisan di atas dan pulang adalah keputusan terakhir yang harus kita ambil atau bahkan jika kita tak menghendakinya. Pulang akan tetap pulang.

Kota mendung, selepas adzan magrib. Sesekali air telah jatuh juga memecah ke tanah. Setelah melahap Siomay Bandung, saya membelokkan motor ke arah pasar kota “gawang etan” Jalan Imam Bonjol. Ada sekitar tujuh lapak pedagang kembang, semuanya ibu tua seumuran ibu saya. Mereka anggun dan penuh ketenangan menjajakan kembang.

Saya menghampiri satu lapak yang begitu saya tanyai siapa namanya, kedua ibu itu menjawab namanya Bu Zulikah dan Bu Supi. Saya mengakrabi mereka dengan memanggil “Mak”. Umur mereka kurang lebih 60 tahun.

Jawaban yang gamang, karena tanggal dan tahun lahir bagi orang terdahulu jauh lebih penting “tiron”. Tak ada perayaan ulang tahun tapi akan sering tironan dengan membagikan “berkat” atau jajanan tradisional kepada tetangga.

Mak Zulikah dan Supi sudah berjualan kurang lebih 4 tahun di sini. Hanya di atas meja kayu yang terlihat lapuk mereka menata bunga menjadi tiga “ondok”, ada Kenanga, Mawar, dan Gading. Untuk prosesi kelahiran jabang bayi mereka juga menjual kembang pandan dan minyak wangi.

Mereka akan berganti jam kerja setiap sore dan pagi hari. Jam malam mulai jam 4 sore hingga 6 pagi, dan sift pagi mulai jam 6 hingga 4 sore. Rupanya mereka datang dari desa-desa di barat kota Bojonegoro seperti Mak Zulikah yang berasal dari Wotan Ngare, Mak Supi dari Tobo, dan beberapa lainnya dari Ngasem hingga Parengan, Tuban.

Hujan berhenti sejenak ketika saya menyalakan sebatang rokok. Mak Zulikah mengalungkan sarung ketubuhnya, dan Mak Supi sedikit bicara karena repot menata kembang ke tempat semula setelah dipindahkan sejenak karena hujan.

Seperti lumrahnya seseorang yang baru saja bertemu, Mak Zulikah berbicara hati-hati namun mencoba menceritakan sesuatu. Kembang-kembang yang dijual oleh para pedagang itu ternyata berasal dari Gunung Anyar, Tuban yang setiap pagi akan dikirim langsung oleh petaninya.

Saya mengeluarkan asap pelan, Mak Zulikah kembali melanjutkan cerita-ceritanya. Ia bekerja serabutan selain jualan kembang. Biasanya ia membeli kembang “kulakan” dengan harga 200 hingga 300 ribu. Harga jualnya adalah 10 ribu per “ondokan”.

Saya menanyakan apakah kembang juga mengalami harga naik-turun seperti barang lainnya? Mak Zulikah menjawab bahwa harga kembang akan naik di hari Jum’at Pahing karena di hari itu akan banyak orang berziarah, harganya bisa sampai 500 ribu.

Di akhir perbincangan kami, saya menanyakan “kapan Mak akan pulang ke Wotan Ngare?”. Mak menjawab, jika uang sudah terkumpul pasti dia akan pulang. Pasti! Masih ada keluarga di sana, suaminya baru saja meninggal setahun yang lalu.

Setiap hari, para pedagang itu akan tidur di emperan toko yang mereka tempati juga untuk berjualan. Mereka berteman akrab dengan debu kemarau dan dingin musim penghujan. Akrab, akrab sekali.

Bungkuskan untuk saya bunga sepuluh ribu ya Mak! Besok, saya akan menziarahi mereka yang telah lebih dahulu pulang. Biar aroma kembang diantara hujan menjadi petunjuk kemana arah jalan itu.

Tags: Aroma KembangKembang Jurnaba
Previous Post

Kampung Mbarangan, Tradisi Penjaring Ikan di Bengawan Solo

Next Post

Bapenda Bojonegoro Beri Apresiasi Warga Agen Pajak Berprestasi

BERITA MENARIK LAINNYA

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)
Cecurhatan

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan
Cecurhatan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum
Cecurhatan

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

Ajian Panyirepan dan Peran Hidup: Hikmah Humor dan Pencurian (14)

25/04/2026
Di Antara Piring dan Kekuasaan

Di Antara Piring dan Kekuasaan

24/04/2026
Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

Perkuat Legalitas, 8 SSB di Bojonegoro Resmi Berbadan Hukum

23/04/2026
‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 

‎Menaklukkan Lembah Para Genius: Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (3) 

22/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: