Di paruh kedua abad-15 M, terdapat tokoh asli Jipang (Bojonegoro) yang cukup terkenal di Kerajaan Majapahit, namun namanya kini jarang dikenal, baik di kalangan akademisi maupun sejarawan.
Nama Arya memang mengingatkan kita kepada tokoh Arya Jipang, tokoh legenda Jipang yang terkenal itu, tetapi Arya di sini adalah Arya Surung. Bukan Arya Penangsang, yang gugur dalam legenda atau cerita tutur itu.
Faktanya, Arya Surung disebut dan tercatat secara jelas di lempeng tembaga (lencana prasasti) berisi anugerah wilayah bertahun 1385 Saka atau 1473 Masehi yang ditemukan di Sendang Sedati, lereng Gunung Pandan.
Alasan dikeluarkannya anugerah itu adalah karena bentuk “Darmabhakti” atau “kesetiaan yang teguh” dari rakyat, sehingga diberi balasan berupa hadiah ribuan kali lipat oleh Sang Raja; Sri Singhawikrama Wardhana atau Dyah Suraprabhawa.
Nama penerima anugerah itu adalah sang Arya Surung, berupa hibah wilayah yang bernama Pamintihan, yang menurut Dr. Bosch dan rimbawan Altona (1922), dari sisi geografis dan dari sisi penamaan batas-batas Pamintihan, diyakini tidak jauh dari lokasi penemuan prasasti (Sendang Sedati).
Prasasti atau lempeng perunggu yang ditemukan di awal abad ke-20 ini, dan rupanya telah diteliti oleh sarjanawan Belanda yaitu Krom dan Van Stein Callenfels melalui rilis jurnalnya tahun 1919, sebelum karya besar berjudul “Sejarah pra-Islam Jawa” dibuatnya di tahun 1931 dan mempengaruhi sudut pandang sejarawan Jawa sampai dengan sekarang.
Bahwa Bre Tumapel, adalah Dyah Suraprabhawa yang hidup di akhir masa kejayaan Majapahit, dan bertahta di Tumapel (atau sekarang dikenal sebagai kota Malang). Namun, menurut keterangan dari prasasti Waringin Pitu (yang tidak dimasukkan dalam daftar pustaka Krom) dan juga naskah Pararaton, Dyah Suraprabhawa adalah Bhre Pandan Salas (Gunung Pandan?) penerus dari Ranamanggala.
Dyah Suraprabhawa merupakan putra dari Dyah Kertawijaya (Tumapel) dan Jayeswari (Daha), yang kemudian bertahta di Tumapel tahun 1466 Masehi (Noordyun, 1978). Dari keterangan prasasti Waringin Pitu dapat diasumsikan secara kuat bahwa wilayah Pandan Salas kemudian menjadi wilayah Rajadharma (wilayah pusat keagamaan) Sri Singhawikrama Wardhana.
Abad ke-15 memang menyimpan sejarah yang penuh teka-teki, termasuk apakah tokoh Pandan Salas ini yang kemudian dikenal sebagai tokoh suci Islam bernama Pandan Arang? Apakah nama Bhra Wardhana yang kemudian berubah menjadi toponim dari Bowerno sekarang? Dan bagaimana pula kondisi Jipang waktu itu dan siapa tokoh-tokohnya?
Arya Surung menjadi bukti bahwa seorang tokoh dari kalangan masyarakat Jipang menjadi sangat diperhitungkan oleh para Bhre (dari Lasem sampai Pajang) karena jasanya sebagai seorang yang sangat setia dengan peran pendamai dan penyatu bagi negara di masa transisi.
Peran itu tentu sejalan dengan apa yang ingin disampaikan oleh prasasti Pamintihan bahwa besarnya Majapahit adalah kesatuan dua entitas; Tumapel dan Daha, sebagaimana leluhur Majapahit, atau Sri Wisnuwardhana, yang memposisikan wilayah Jipang sebagai bagian paling penting dari penyatu dua entitas (Jenggala dan Panjalu) itu dengan mengambil simbol Dwipangga, Benawa atau Gajah.








