Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Identifikasi Lokasi Prasasti Pamintihan dari Bauwerna Menjadi Brawar(dha)na

Muhammad Andrea by Muhammad Andrea
04/09/2024
in Cecurhatan
Identifikasi Lokasi Prasasti Pamintihan dari Bauwerna Menjadi Brawar(dha)na

Lempeng Tembaga Pamintihan

Prasasti Pamintihan merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Majapahit yang dikeluarkan oleh Sri Maharaja Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa yang memerintah Majapahit antara 1466-1474.

Prasasti Pamintihan 1473M tercatat dalam Universitas Bibliotheken Leiden yang diterbitkan secara digital antara 1863 dan 1956, ditemukan di Baureno, Bodjonegoro, Jawa Timur.

Menurut Totok Supriyanto, Sejarawan dari Komunitas Bumi Budaya, nama Pamintihan sendiri berasal dari bahasa kawi “Intiha”, yang artinya batas atau perbatasan. Oleh karena itu, posisi prasasti Pamintihan harusnya berlokasi di perbatasan wilayah antara Jenggala dan Panjalu (Kediri).

Dengan asumsi tersebut, maka prasasti yang ditemukan di Lereng Gunung Pandan atau di ujung wilayah Bowerno (1863) ini adalah juga sebagai tanda peran penting Gunung Pandan bagi keutuhan kerajaan.

Secara toponim sangat logis, bahwa Prasasti Pamintihan ditemukan di Baureno (sekarang), karena Bauwerna (dulu) adalah sebutan tanah lungguh dari keluarga Raja Sri Wardhana, yang secara toponim berubah menjadi Brawar(dha)na, dan terakhir menjadi Bowerno hingga Baureno.

Prasasti yang dikeluarkan oleh Sri maharaja Raja Dyah Suraprabhāwa Śri Singhawikramawarddhana kepada Sang Aryya Surung, berupa sebidang tanah sima di desa Pamintihan dengan segala haknya akan dimiliki turun temurun tanpa batas. Anugerah tersebut diberikan karena Sang Aryya Surung memperlihatkan kesetiaan tak terhingga kepada raja.

Peradaban di sepanjang Gunung Pegat hingga Gunung Pandan sangat menarik untuk ditelusuri sebagaimana para ilmuwan Belanda pernah juga menerbitkan sebuah laporan tentang hasil penelitian terutama toponim yang ada di Prasasti Pamintihan.

Seperti yang dilakukan oleh Dr. Frederik David Kan Bosch seorang ilmuwan dan arekolog dari Belanda, ia menulis “DE OORKONDE VAN SENDANG SEDATI” (Prasasti Sendang Sedati) dalam buku Dinas Arkeologi di Hindia Belanda, Laporan Benda-Benda Kuno, 1922.

Hasil dari laporannya memuat tentang penemuan prasasti di Sendang Sedati (Oro-ora Sedati), atas bantuan dari Altona seorang Ahli dari Dinas Kehutanan Bodjonegoro masa itu membuahkan hasil.

Ia mencatat terdapat tiga lempeng prasasti yang ditemukan, pada lembar pertama, prasasti dibuat pada tahun 1385 Saka oleh Raja Sri Singhawikrama Wardhana yang nama kecilnya Dyah Suraprabhwa. Sayangnya, lempengan kedua hilang, ia menduga berisi tentang daftar orang-orang kerajaan yang ikut menandatangani prasasti tersebut.

Menurut Totok Supriyanto, Sejarawan Blora, Pada Lempeng pertama Prasasti terdapat ukiran seekor burung sedang terbang mengembangkan sayapnya, ada dua kemungkinan untuk menafsirkan itu, pertama sebagai simbol pawukon (tanggal pembuatan prasasti), kedua sebagai Kalpataru, bahwa prasasti Pamintihan seharusnya tidak jauh dari pentasbihan tanah “simaswatantra” atau tanah dama (suaka).

Dr. Bosch tidak memberikan tafsiran sangat serius terhadap lempeng pertama prasasti yang terdapat ukiran seekor burung sedang terbang mengembangkan sayapnya. Karena ia fokus menelusuri toponim tentang Desa Pamintihan yang diberikan oleh Sang Aryya Surung waktu itu.

Dalam lempeng ketiga prasasti bagian belakang memuat secara detail mengenai dengan batas-batas Desa Pamintihan, lempeng inilah yang menjadi dasar penelitian Bosch untuk mengetahui lebih lanjut.

Isi Lempeng ketiga bagian belakang: “Batas desa Pamintihan (adalah sebagai berikut): di sebelah timur berbatasan dengan Plang puncu; di Tenggara di Gigidah; di selatan di Dampak; di Barat Daya di Dampak dan Madewih; di Barat di Gempol; di Barat Laut di Gempol dan Babanger; ke arah timur (lisigarada) ke arah Utara; wilayahnya berbatasan dengan Babanger dan Kabalan (di sana); Ke arah Timur ke Timur Laut sampai Kabalan; Ke arah selatan dari Timur Laut ke Timur di Plang Puncu”.

Dari hasil penelusuran Dr. Bosch yang dibantu oleh Altona untuk mencari keberadaan desa-desa yang tertulis dalam prasasti tersebut. Ia menemukan bahwa Plang Puncu berada di kaki Gunung Puncu di sebelah timur Gunung Pandan. Dari Puncu, ada jalan ke arah barat daya menuju Glidah (Gigidah nama dalam prasasti) sebelah Timur Sedati. Sedangkan Desa Dampak dan Madewih belum teridentifikasi.

Menurut Altona, Kawasan Desa Gempol sebagian besar hutan yang berada sebelah barat Dodol. Lokasi tersebut dulunya teridentifikasi sebagai lahan pertanian, ia juga menunjukkan beberapa sisa pipa tua. Kawasan sebelah utara Gempol adalah Banger (Babanger nama dalam Prasasti) yang kini terbelah dua oleh Dusun Betek. Bahkan, Kabalan dapat ditemukan di salah suatu bagian hutan yang masih dikenal dengan nama tersebut, dan utaranya ada Desa Sekidang sekaligus Gunung Sekidang.

Dengan demikian, apabila sudut tenggara berada di Kawasan Glidah (Gigidah), maka batas wilayah bebas berada di bagian barat, utara dan timur berhasil ditentukan cukup akurat. Bahkan batas selatan memungkinkan memanjang dari titik tersebut ke arah barat sampai Gempol yang sama tingginya. Pun, terdapat daerah bersih berupa sebidang tanah memanjang 12 K. M arah barat, sekitar 4 K. M. Arah N-S, namun nama Pamintihan juga belum dikenal di wilayah itu.

Begitulah luas sawah Pamintihan, yang merupakan daerah kantong-kantong di tanah Plang puncu dan tanah Kabalan. Sekarang ini semua demi kepentingan Pamintihan, tanpa perubahan. Ada sawah Plang Puncu yang digabungkan di perbatasan Pamintihan, tiga gambut yang ditumbuhi berbagai jenis kayu sekaligus tumbuhan di perbatasan barat.

Altona juga memberikan informasi kepada Dr. Bosch tentang banyaknya peninggalan kuno yang berada di tempat ditemukannya Prasasti, di antaranya bekas pemukiman kuno, seperti pecahan tembikar, batu bata, lumpang, uang logam, dan lain-lain. Khususnya ditemukan di sekitar Betek, Gumpol, Soemberpoh, Bringin, Ngotok, Grapak, Kali Mati, Glingsem, Sekonang, Soemberlo, Wotan, Goejangan, Padjeng, Grebjegan, Boetoeng, Bedji, dan Sendang Sedati.

Selain itu, di daerah Gempol juga ditemukan Kepala Patung Emas, juga ada dua patung di dekat pohon Beringin Suci Selatan Betek. Kemudian, di daerah Kranggan ditemukan sisa-sisa dinding batu alam panjangnya 200 Μ.

Demikian hasil laporan tentang batasan-batasan toponim yang sebagian sudah bisa teridentifikasi dengan baik, jika menafsirkan Pamintihan sebagai Desa-desa Pembatas, dari beberapa lokasi masih bisa ditemukan dalam Peta Bodjonegoro Residen Rembang 1866.

Tags: BrawardhanaMakin Tahu IndonesiaPrasasti Pamintihan
Previous Post

Arya Surung dari Jipang

Next Post

Ulama Baureno Bojonegoro Dukung dan Doakan Mas Wahono

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri
Cecurhatan

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)
Cecurhatan

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal
Cecurhatan

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026

Anyar Nabs

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

Diaspora Iran sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (1)

18/04/2026
‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

‎Outing Class, Membangun Tradisi Belajar yang Kontekstual

17/04/2026
Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: