“Matur nuwun, Gusti.”
Demikian ungkap rasa syukur saya. Dini hari tadi. Ya, dini hari: ketika saya membuka kembali file terjemah Kitab Alfiyyah yang dilakukan kakek buyut saya, K.H. Hasyim Padangan, Bojonegoro, Jawa Timur.
Bersyukur? Tentu, pada usia yang sudah lanjut, saya masih dikaruniai kesempatan belajar kembali bahasa Arab. Kali ini, saya belajar langsung kepada buyut saya, seorang kyai yang pakar gramatika Arab (1980-1942), guru sederet kyai. Antara lain K.H. Baidhowi Lasem dan K.H. Bisri Mustofa (ayah Gus Mus).
Seperti pernah saya kemukakan, selama sekitar dua tahun lamanya, saya melakukan “perburuan” terjemah sebuah karya di bidang gramatika Arab kondang, Kitab Alfiyyah Ibn Malik, karya kakek buyut itu.
Alhamdulillah, dua versi karya terjemah tersebut berhasil saya dapatkan: versi Singapura dan versi Kairo. Kini, dua karya asli terjemah itu ada di tangan saya.
Kini, seusai mengedit sebuah karya seorang sahabat di Amerika Serikat dan menerjemahkan sebuah novel sufisme karya Prof. Dr. Reem Bassiouny (kini sudah di tangan sebuah penerbit), fokus saya terarah pada terjemah Kitab Alfiyyah Ibn Malik kakek buyut saya. Harapan saya, saya dapat “menyegarkan kembali” karya terjemah tersebut, sehingga dapat dinikmati kembali oleh masyarakat dalam bentuk yang lebih segar dan enak dimengerti.
“Oh, karya terjemah kakek ini terbit pertama kali pada 1905 di Singapura. Sedangkan versi Kairo terbit pertama kali pada 1920. Dengan kata lain, terjemah kakek terbit ketika beliau berusia 75 tahun. Tidak beda jauh dengan umur saya sekarang,” gumam gaya ketika menyimak kembali dua versi terjemahan Kitab Alfiyyah Ibn Malik itu.
Segera, saya membongkar kembali “khazanah” karya-karya di bidang gramatika Arab, dengan tujuan untuk menyajikan kembali terjemahan itu dalam bentuk sebuah karya kontemporer yang enak dicerna dan dibaca.
Sebenarnya, saya ragu untuk “menyegarkan kembali” karya terjemah itu. Sebab, kakek memiliki anak keturunan banyak. Di antara mereka ada (maaf) 11 cucu dan cicit yang bergelar PhD. Dari dalam maupun luar negeri. Sedangkan saya hanya seorang guru ngaji ndeso saja. Sayang, tidak ada yang turun tangan untuk menyajikan kembali karya berharga itu.
Entah kenapa, ketika sedang menyimak kembali karya itu, tiba-tiba benak saya “melayang-melayang” ke Kairo, Mesir pada medio 1979.
Saat itu, saya diminta Prof. Dr. Ahmed Shalaby, pembimbing saya di Universitas Kairo, untuk ikut kuliah bahasa Arab modern di program s-1, dengan tujuan agar saya benar-benar dapat merasakan dan menikmati bahasa Arab modern. Saat itu sendiri, saya sedang ambil program pascasarjana.
Apa yang terjadi kemudian?
Mungkin, karena di Universitas Kairo saat itu tidak banyak mahasiswa asing, seusai mengikuti kuliah, beberapa mahasiswi Mesir mengerubungi saya. Tiba-tiba salah seorang di antara para mahasiswi itu memegang dan kemudian mengelus-elus rambut saya dan berucap, “Dzi heluh awi, awi, awi. (Rambut) ini halus sekali.”
Eh, teman-temannya ikut-ikutan mengelus-elus rambut saya yang lurus. Beda dengan rambut mereka yang kriwil. Tentu saja saya gemetar, wong saya masih muda usia dan masih jomblo (baru berumur 25 tahun).
Khawatir mereka kian tak terkendali dan saya juga makin gemetar, saya pun berkata kepada mereka, “Saya ini mahasiswa pascasarjana. Saya asisten Prof. Dr. Ahmed Shalaby!”
Begitu mereka tahu saya seorang mahasiswa pascasarjana (tapi tampangnya dalam pandangan mereka seperti mahasiswa baru s-1), mereka pun gak berani lagi memegang dan mengelus-elus rambut saya, hehehe.
Apapun, mohon doa panjenengan semua, semoga jejak langkah saya untuk “menyegarkan kembali” terjemah Kitab Alfiyyah itu lancar hingga rampung, amin.








