Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bangga Bojonegoro: Visi Kebudayaan Setyo Wahono

Hasan Abdurrokhim by Hasan Abdurrokhim
05/10/2024
in Figur
Bangga Bojonegoro: Visi Kebudayaan Setyo Wahono

Visi Kebudayaan Setyo Wahono

Bojonegoro dikenal kabupaten tua berperadaban panjang. Dibuktikan banyak literatur dan situs cagar budaya. Namun sampai saat ini, Bojonegoro belum memiliki Pusat Kebudayaan. Keberadaan Pusat Budaya inilah, yang ingin diwujudkan Calon Bupati Setyo Wahono.

Dalam Pilkada 2024 ini, salah satu visi utama yang diusung Setyo Wahono adalah “Bojonegoro Membanggakan”. Meski terkesan klise, kebanggan pada sebuah daerah (Local Pride) adalah kunci dari bermacam kemajuan. Local Pride inilah, yang selama ini, tampaknya mulai hilang dari Bojonegoro.

Bojonegoro kota yang lengkap. Baik sisi SDA (gunung, hutan, dan sungai), Sumber Daya Kebudayaan, atau bahkan Sumber Daya Energi. Namun, rendahnya Local Pride membuat semua seperti tak pernah kita miliki. Padahal, Bojonegoro punya rekam jejak kebesaran yang tak dimiliki kota-kota lain di Indonesia.

Kebesaran dan kejayaan Bojonegoro tak hanya bersumber dari dongeng. Tapi terpahat pada sejumlah prasasti, dan tercatat pada berbagai literatur klasik. Namun karena sikap inferioritas (rendah diri), kebesaran dan kejayaan itu tak pernah diteliti. Bahkan seperti dibiarkan saat di-klaim kota lain.

Dialektika Maha Raja

Hampir semua Maha Raja Jawa berhubungan dengan Bojonegoro. Dari Raja Dyah Baletung (Medang), Pu Sindok (Medang), Erlangga (Medang Kahuripan), Ken Arok (Pendiri Singashari), Wisnuwardhana (Keemasan Singashari), Raden Wijaya (Pendiri Majapahit), Hayam Wuruk (Keemasan Majapahit), hingga Dyah Suprabhawa (Akhir Majapahit).

Nama-nama di atas bukan sekadar Raja reguler, tapi pemimpin kemaharajaan (Maha Raja). Mereka tak hanya berhubungan dengan Bojonegoro, tapi juga menceritakan Bojonegoro, melalui peninggalan berupa bukti literatur dan cagar budaya yang hingga kini masih ada di wilayah Bojonegoro.

Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) yang dirilis Raja Dyah Baletung, secara tegas menceritakan sumber daya alam Bojonegoro. Khususnya sumber daya minyak bumi, kapur, hingga transportasi sungai. Raja Dyah Baletung bahkan mengistimewakan kawasan ini dengan istilah: Devata Lumah ing Sotasrungga (tempat persemayaman para Dewa). 

Tak heran jika banyak peninggalan prasasti di Bojonegoro. Prasasti Pelem (929-947 M), Prasasti Jono, Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Maribong (1246 M), Prasasti Adan-adan (1301 M), Prasasti Canggu (1358 M), Prasasti Sekar /Lawang (1365 M), hingga Prasasti Pamintihan (1473 M), menyinggung dan menceritakan kebesaran Bojonegoro.

Itu belum termasuk prasasti era Pu Sindok (929-947 M) lain yang belum diteliti. Jumlahnya puluhan. Bojonegoro memang istimewa. Ia disebut dan diceritakan prasasti secara urut, di hampir tiap era Kemaharajaan. Tak banyak kota Nusantara yang dipahat prasasti secara urut, seperti yang terjadi di Bojonegoro.

Dialektika Para Aulia

Bojonegoro juga wilayah Islam sepuh. Informasi dari sejumlah literatur, Bojonegoro merupakan kawasan yang diislamkan secara langsung oleh Syekh Jumadil Kubro pada abad 14 M dan Sunan Ngudung pada abad 15 M. Data ini sesuai informasi tertera dari kitab Tarikh Aulia dan History of Java.

Maka tidak heran jika pada abad 19 M, Bojonegoro sudah mampu membangun poros intelektual Bojonegoro – Hijaz. Poros intelektual ini dibuktikan dengan banyaknya kitab-kitab karya ulama Bojonegoro yang ada di Mesir dan Asia Selatan. Bojonegoro juga  jadi pusat naskah kuno dan manuskrip yang sampai saat ini masih bisa dibaca.

Namun, sikap inferioritas (rendah diri) yang amat kuat, membuat kita seperti tak percaya bahwa semua data di atas milik Bojonegoro. Bahkan, terkesan abai ketika di-klaim kota lain. Karena itu, spirit “Bojonegoro Membanggakan” yang diusung Setyo Wahono harus mulai digelorakan.

Visi Kebudayaan

Ada banyak program dicanangkan Setyo Wahono untuk memperkuat aset budaya Bojonegoro di atas. Di antaranya; Pembangunan Gedung Kebudayaan, Program Dana Kebudayaan, Kartu Kebudayaan, dan Pengembangan Wisata. Empat poin penting ini masuk ke dalam Program Unggulan Setyo Wahono.

Pembangunan Gedung Kebudayaan menjadi prioritas Setyo Wahono, mengingat banyaknya jumlah cagar budaya dan simbol-simbol kebudayaan di Bojonegoro yang rentan hilang jika tak diamankan. Gedung Kebudayaan dibangun sebagai pusat edukasi dan museum data kebudayaan di Bojonegoro.

Program Dana Kebudayaan Daerah merupakan bantuan pengembangan budaya untuk komunitas/ kelompok/ organisasi masyarakat yang berkontribusi dalam pembangunan moral dan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Bojonegoro.

Kartu Kebudayaan adalah kartu sakti sekaligus ageman bagi seniman atau budayawan di Bojonegoro. Di mana, pemegang Kartu Kebudayaan akan diberi kemudahan akses dan insentif bulanan, khususnya bagi budayawan atau seniman yang punya kontribusi karya bagi Bojonegoro.

Pengembangan Wisata akan dilakukan melalui Tour de Bojonegoro. Sebuah agenda memperkenalkan sudut-sudut potensi wisata Bojonegoro berbasis literatur sejarah. Melalui Tour de Bojonegoro, diharap mampu membuka akses riset dan kebudayaan Bojonegoro yang selama ini tertutup.

Tags: Bangga BojonegoroBupati BojonegoroMakin Tahu IndonesiaSetyo Wahono
Previous Post

Bagaimana Ini, Rambut Saya Kok Dielus Cewek Mesir?

Next Post

Tim Pengabdian Masyarakat FISIP Universitas Brawijaya Fasilitasi Pengembangan Ekowisata Lembah Gunung Semeru

BERITA MENARIK LAINNYA

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme
Figur

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno
Figur

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia
Figur

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026

Anyar Nabs

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

Festival Wastra Batik Bojonegoro 2026 jadi Panggung Sejarah, Budaya, dan Ekonomi Kreatif Bojonegoro

13/06/2026
Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

Kuda, Pohon, dan Laut yang Terbakar: Hikmah Humor dan Pencurian (19)

12/06/2026
Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: