Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bagaimana Reputasi Batik Bojonegoro di Mata Dunia?

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
27/03/2020
in Destinasi
Bagaimana Reputasi Batik Bojonegoro di Mata Dunia?

Ada yang tak tahu di mana lokasi Bojonegoro berada, tapi dia kagum dan mengakui keindahan Batik Bojonegoro? Ada. 

United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menetapkan batik sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, maka kamu yang berasal dari Bojonegoro harus bangga ketika mengenakan batik, apalagi batik Bojonegoro.

Yogyakarta, 2018. Saya yang memiliki kemampuan ngoceh dalam bahasa Inggris pas-pasan memberanikan diri mengikuti event Internasional diselenggarakan Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 27 Agustus – 7 September 2018.

Bermodal nekat alias bonek, mengirimkan beberapa persyaratan seperti Curriculum Vitae (CV), Motivation Letter, perasaan cinta dan sejumlah persyaratan lainnya.

Setelah persyaratan terkirim melalui e-mail, tak ada ambisi untuk menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. Intine pasrah ngunu iku lah, Nabs. Keterimo dadi peserta yo alhamdulillah, ora yo tetep disyukuri, hehehe.

Ndilalah, mari maghrib ketika berada di kampung halaman. Ada e-mail yang masuk. Rasa syukur dan senang dibarengi dengan penuh tanda tanya, antara budal opo ora, bercampur menjadi satu.

Tidak lupa meminta saran dari orang tua, kawan-kawan, dan lain-lain. Dengan bondo modal cinta nekat, saya melangkahkan kaki menuju Kota Pelajar (Yogyakarta).

Saya ingat, waktu itu, sampai di UGM malam hari. Tak ada tempat lain selain masjid kampus (maskam) untuk merebahkan badan.

Sebelum itu, tentu saya melakukan ritual sekaligus hobi berupa ngopi di sebuah angkringan setelah turun dari bis. Sak seruputan kopi.., ndilalah kelingan tas seng isine pakaian keri nak bis..hmmm..asemog.

Kulanjutkan menikmati suasana Yogya walau gundah gulana menyelimuti.

Kembali ke Masjid Kampus untuk menginap. Keesokan harinya, agenda ngaji sejarah Asia Tenggara dengan sejarawan (muda) dari berbagai kampus di dunia.

Ada yang dari Australia, Thailand, Filipina, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Vietnam, dan lain-lain.

Fokus kajiannya pun beragam. Ada yang mengkaji dari sudut pandang sosiologi, antropologi, organisasi keagamaan global, dan hal-hal lain.

Setelah hari pertama berlalu. Saya menghubungi pihak bis dan janjian di Terminal Giwangan. Alhamdulillah, barang masih ada dan tidak tertukar.

Lanjut ke kegiatan. Dalam kegitan itu, hadir narasumber kompeten di bidangnya, terutama yang membahas sejarah Asia Tenggara dari beragam sudut pandang.

Ada yang memberi pemaparan mengenai dinamika buruh dan tenaga kerja di Asia Tenggara, organisasi keagamaan, dan tak ketinggalan, begawan sejarah Indonesia, Dr. Sri Margana juga jadi pembicara pada forum itu.

Pada suatu kesempatan, kawan yang berasal dari Thailand (saya lupa namanya), memberikan komentar pada batik yang penulis pakai di sebuah sesi.

Dia berkata, “wow..your cloth is beautiful”. Saya jawab, “Oh..Thank you very mmuaaach. This is Batik from Bojonegoro, East Java. Do you know Bojonegoro?”

Dengan senyuman, doi menjawab, “I don’t know.” sesungguhnya saya sudah menduga kalau dia tak tahu kabupaten unik bernama Bojonegoro, itu hanya basa-basi saja sih, Nabs. Wkwk.

Tapi dari situ, bisa dilihat kalau memang batik yang telah ditetapkan PBB (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia, memang keren dan memiliki makna filosofis yang unik dan mendalam tentang suatu daerah di mana batik itu berasal.

Misal kalau di Cirebon ada batik Mega Mendung. Kalau di Bojonegoro? Apakah Nabsky tahu nama-nama motif batiknya?

Beberapa nama-nama motif batik Bojonegoro seperti: Mliwis Mukti, Sekarjati, Gatra Rinonce, Jagung Miji Emas, Pari Sumilak, Rancak Thengul, Pelem-Pelem Sumilar, dan bergam motif yang lain.

Nah, kebetulan dalam sebuah sesi pada acara tersebut, saya mengenakan batik khas Bojonegoro bermotif Pelem-Pelem Sumilar. Hayo… kira-kira, saya berada di posisi yang mana pada foto header di atas? Wkwkwk

Demi pertanyaan lebay nan eksistensialistis itu, konten yang membahas khasanah batik ini sengaja diberi header foto kegiatan baris berbaris.

Kemudian di sesi akhir acara tersebut, beberapa kawan dari mancanegara ada yang mengenakan batik loh, Nabs. Pastinya keren..apalagi Nabsky dari Indonesia.

Nah, itu merupakan sedikit cara bagaimana kita mengenalkan budaya (daerah) ke beberapa kalangan. Baik segi regional, nasional, maupun global. Oke, cukup sekian laporan dari Jurnabiyyin yang galau akibat terpenjara kesendirian phisycal distancing ini.

Tags: Batik BojonegoroPBBUnicef
Previous Post

Tetap Optimistis, Badai Pasti Berlalu

Next Post

Curhat Cinta dalam Ketertindasan Asmara

BERITA MENARIK LAINNYA

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol
Destinasi

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

09/04/2026
‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka
Destinasi

‎Baabus Shofa, Masjid dengan Pintu yang Selalu Terbuka

06/04/2026
‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro
Destinasi

‎Waduk Norjo, Wisata Nggawan Kembar di Bojonegoro

29/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: