Perasaan cinta yang berlebih ternyata memicu hadirnya neo imperialisme psikologis berupa ketertindasan asmara.
Beberapa hari terakhir, kedua telinga saya dibisikin salah seorang teman yang lama bergelut di dunia Pengangguran Penuh Acara (Pengacara).
Dia mencurahkan isi hatinya yang lagi diserang gelapnya langit ketika malam dan runtuhnya bunga di musim gugur.
Seperti keguguran harapannya pada dia — seorang perempuan yang disayangi.
Di sebuah warung kopi, tempat kami nongkrong dan ngobrol seperti biasanya, kawan ini mencurahkan isi hatinya yang sedang tidak baik-baik saja, tentang perempuan yang tak lagi menaruh harapan untuk dirinya.
Alasannya remeh: arena perempuan itu mengira, lelaki yang dicintainya sudah berpaling darinya dengan adanya kedekatan teman-teman perempuan di sekitar kehidupannya.
Teman saya tak kuasa memberi penjelasan terkait sensitivitas tuduhan pertemanan yang ditafsiri sebagai peluang memberi harapan pada teman-teman perempuan.
Padahal tuduhan-tuduhan itu tak pernah terbukti, bahkan perempuan yang dituduh, berstatus pacaran dengan orang lain.
Dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, teman saya ini sedang dalam pantauan-control kekasihnya. Dia sudah tak bisa berbuat lebih atas hak dan martabat sebagaimana pada umumnya seorang lelaki.
Buktinya, sekadar berkomunikasi dengan teman perempuan saja sudah dapat dampratan begitu besar. Ya, mungkin karena kekasihnya itu berlebihan dalam mencintai.
Sehingga sifat cemburuan cenderung muncul dalam situasi dan kondisi apa pun, atau jika terdengar nama perempuan sedang berkomunikasi dengannya, sangat ingin mengganyang jarinya sendiri.
Padahal, kawan saya ini sudah bercerita lebih tentang apa yang terjadi pada dirinya. Bahwa kesetiaan adalah perihal perih.
Dan lebih perih, ketika kesetiaan diuji dengan prasangka keburukan atas ketidak-benaran subjektivitas dalam keadaan dan situasi yang tertekan.
Jatuhnyapada saling menyalahkan, dan menyakitkan, kadang ketidakpercayaan tumbuh atas dasar sikap penyelesaian masalah secara tidak sederhana.
Namun sebaliknya, membesar-besarkan masalah hingga menambah masalah baru, sampai tak pernah terurai jumlah masalahnya.
Ya, dari cecurhatan kawan saya itu, akhirnya saya tahu bahwa perasaan cinta yang berlebih ternyata memicu hadirnya neo imperialisme psikologis berupa ketertindasan asmara.








