Saya berkunjung ke salah satu toko buku paling besar dan cukup legendaris di Bojonegoro. Melihat sendiri, bagaimana situasinya sekarang yang mulai tampak kepayahan, di bawah kedigdayaan rezim digital dan toko online.
Setelah memarkir motor, saya lantas cepat-cepat masuk ke dalam toko buku Togamas, salah satu toko buku terbesar di Bojonegoro. Matahari siang bersinar terik waktu itu, seolah ingin memanggang Bojonegoro beserta penghuninya dengan sengaja.
Tepat saat kaki melewati pintu toko, yang terpikir adalah momen pertama kali saya mengunjungi toko ini, sepuluh tahun lalu. Saya masih ingat, waktu itu membeli satu buah buku dengan sampul berwarna kuning menyala, saking kuningnya, saya jarang menjumpai buku dengan sampul berwarna kuning yang seperti itu.
Buku itu menjelaskan latihan dan metode mengingat yang efektif, ditulis oleh ahli mengingat, yang sudah sering juara lomba mengingat dan banyak tampil di TV asal Amerika. Saya membelinya atas dasar buku itu best seller, dan cukup yakin, kalau ia akan membantu mengasah ingatan saya agar berguna di sekolah. Meski saya tahu, jarang ada bocah kelas dua SMA, sudah dihampiri penyakit pikun.
Saya senang memiliki buku itu dan berhasil membacanya sampai selesai. Tapi sekarang, buku itu sudah hilang, entah kemana. Saya juga lupa judul bukunya dan tak mengingat siapa penulisnya.
Setelah nostalgia singkat itu, saya mulai menyusuri setiap sudut di dalam toko. Buku-buku terlihat berjejer dan disusun cukup rapi. Di rak paling depan, ada sebuah papan dengan keterangan “Buku Terlaris”, di bawahnya berjejer buku-buku, di tata di atas rak setinggi lutut, ditumpuk horizontal dengan judul menghadap ke atas.
Sebagian besar didominasi buku terbitan Gramedia, ada Thinking, Fast and Slow-nya Daniel Kahneman, beberapa buku dari Henry Manampiring, sampai Psychology of Money. Maklum, beberapa buku ini pernah tenar di media sosial.
Di belakang bagian buku “terlaris”, ada rak lemari besar yang memisah buku berdasarkan kategori buku. Ada buku tentang motivasi (dari rak ini saya dulu mengambil buku kuning pertama saya).
Ada juga rak Novel yang didominasi karya Tere Liye, mata saya juga menangkap ada Animal Farm-nya George Orwell, juga novel dari peraih nobel sastra asal Mesir; Naguib Mahfouz, dan puisi-puisi Mahmoud Darwish.
Tak ketinggalan, buku dari penulis lokal, ada Mahfud Ikhwan, Agus Noor, Sujiwo Tejo, sampai puisi-puisi Gus Mus. Sebagian besar buku tersebut terbitan Diva dan Basa-Basi.
Saya mengambil satu judul buku untuk membaca keterangan singkat di belakangnya, kemudian menaruhnya kembali, mengulangi beberapa kali kegiatan tersebut, pada buku yang berbeda.
Di depan rak buku, tidak jauh dari tempat saya, ada seorang penjaga, perempuan berjilbab dengan postur tidak terlalu tinggi, yang sejak tadi berdiri agak canggung mengawasi saya, seolah ingin bertanya “buku apa yang saya cari” agar dia bisa bantu menemukannya, atau mungkin dia hanya berdiri disana untuk bersiap, jika sewaktu-waktu saya menginginkan bantuan.
Tapi saya tidak bertanya, penjaga itu pun pergi untuk kesibukan lain, menghadap monitor yang lazim ada di toko buku untuk mencari letak buku. Disini jumlahnya cuma ada satu.
Beberapa saat kemudian, ada satu keluarga masuk ke dalam toko, seorang bocah laki-laki sekitar tiga tahun yang tubuhnya kelihatan bulat, dan bocah perempuan lebih besar, di belakang mereka ada perempuan berusia sekitar 40 an tahun, pastinya itu ibu mereka.
Bocah laki-laki itu berjalan sendiri dengan semangat, diikuti kakaknya, lalu tiba-tiba menuju ke depan rak tempat saya berdiri. Dia melihat dan memegang beberapa buku, sesekali mencuri pandang ke saya, dengan tatapan polos dan menggelikan, seperti mata bocah kecil pada umumnya.
Saya senang, ada orang tua mengajak anak kecilnya ke toko buku, meski bisa jadi mereka datang tidak untuk membeli buku, tapi untuk membeli alat mewarnai atau peralatan sekolah, yang juga dijual di sini. Beberapa pengunjung berikutnya yang saya amati juga datang untuk membeli peralatan sekolah, tidak membeli buku.
Sebagian besar buku di toko ini tua dan agak berdebu, di rak bagian atas dekat langit-langit, ada buku-buku yang ditumpuk menyamping, disusun seperti tumpukan peti mati di kuburan umum.
Tempat itu menyedihkan, sebab di tempat setinggi itu, sangat jarang ada tangan manusia mau menjamah. Satu-satunya kesempatan buku itu diperhatikan mungkin saat toko direnovasi atau ingin mengecat ulang tembok, sebab terpaksa harus menggeser lemari..
Di luar jendela, cuaca cerah dan panas, tapi di dalam toko terasa agak gelap dan lembab. Tidak ada lampu dinyalakan, mesin pendingin juga tidak ada. Cahaya matahari siang sedikit masuk samar-samar, menembus pohon besar di luar jendela.
Di bagian lebih dalam toko, suasananya bahkan lebih gelap. Disana, bubu-buku juga disusun dengan cara yang sama, sebagian besar buku kategori teori atau buku untuk tujuan pendidikan. Selama saya berada di dalam toko, saya tidak melihat ada pengunjung masuk kesana.
Sudah hampir sembilan tahun sejak terakhir kali saya mengunjungi toko ini, saya ingat betul kalau tata letak rak tidak banyak berubah, buku kategori motivasi tetap berada di bagian depan, dekat dengan kasir, di sampingnya ada buku latihan tes CPNS dan ujian masuk perguruan tinggi, dan tumpukan sepatu, dan beragam alat tulis dan keperluan sekolah. Satu-satunya hal yang saya sadari telah berubah adalah, koleksi buku di sini menyusut drastis, jika ada tumpukan buku, hampir semuanya dari penerbit yang sama, tidak banyak pilihan penerbit tersedia. Sayang sekali.
Di kota-kota besar, toko buku barangkali masih menyediakan banyak pilihan buku, dengan segala macam genre, dari berbagai penerbit, sebab masih banyak didatangi pengunjung.
Tetapi di Bojonegoro, kota kecil yang berjarak ratusan kilometer dari Jakarta, membeli buku ke toko buku langsung sepertinya kian menyusut — tapi belum sepenuhnya mati total — dilibas gelombang toko online, yang menyediakan pilihan buku tidak terbatas, kadang harganya juga lebih murah.
Rasanya, situasi toko buku ini mirip dengan nasib toko kaset dua dekade lalu, saat gelombang digital menyapu banyak toko kaset. Meskipun sekarang masih ada toko kaset, tetapi gaungnya tidak sebesar sebelumnya, dan jika memaksa ingin bertahan, butuh inovasi dan adaptasi baru.
Jumlah dan pengunjungnya pun juga pada kalangan yang memang memiliki kebiasaan aneh datang ke toko. Sebab internet telah mereformasi dan merubah perilaku sebagian besar konsumen dari kedua jenis industri tersebut sekarang.
Banyak Toko Buku Tumbang Sebab Nihil Inovasi
Toko buku yang saya kunjungi, pernah menjadi toko yang berjaya di masanya, mungkin juga menjadi toko buku yang cukup legendaris di Bojonegoro, yang menemani generasi sebelumnya saat ingin membeli buku, membantu banyak pelajar atau mahasiswa untuk memperoleh buku yang mereka butuhkan untuk menghadapi ujian. Tapi sekarang, era ketika internet menggeser orbit kebudayaan manusia, semua lekas berubah.
Di tahun 2022, salah satu gerai buku legendaris di Indonesia, Gunung Agung, menyatakan tidak mampu bertahan, dan menutup seluruh gerai bukunya, sekaligus merumahkan ribuan pegawainya. Sebab keuntungan penjualan buku, tidak lagi mampu memenuhi biaya operasional gerai.
Menurut Wien Muldian, seorang pegiat literasi sekaligus CEO Indonesian Writers Inc, yang terjadi pada Gunung Agung seharusnya sudah diprediksi, sebab selama beberapa tahun sebelum perusahaan ini gulung tikar, mereka tidak melakukan inovasi yang cukup untuk dapat mempertahankan para pelanggan agar tetap mau datang ke gerai mereka.
Akhirnya pelanggan semakin jarang menginjakkan kaki ke toko, padahal di masa jaya Gunung Agung, sang pendiri Tjio Wie Tay — yang juga seorang pemilik kongsi dagang bernama Tay San Kongsie yang menjual rokok sejak 1945, mengungkapkan bahwa penjualan buku lebih menjanjikan ketimbang keuntungan dari hasil jualan rokok dan bir.
Nasib yang sama juga terjadi pada Book & beyond, yang menutup seluruh cabangnya di Indonesia di tahun 2023, mereka memilih fokus berjualan secara daring. Juga pada toko buku lokal di Solo, Togamas, yang berhenti beroperasi sejak juli 2022.
Memang, toko buku lokal yang berada di daerah dengan tingkat ketertarikan membaca yang cukup rendah, yang jarang ada event buku besar atau kampanye membaca, pastinya akan menghadapi tantangan lebih. Pun jika ingin bertahan, harus melakukan inovasi dan adaptasi yang lebih berat, ketimbang toko buku di kota besar.
Inovasi dan adaptasi terhadap perilaku baru konsumen mesti dilakukan, bisa di mulai dengan merubah desain toko agar tetap kelihatan segar, membuat pengunjung betah, menambah beberapa hal yang bisa mengikat pelanggan; seperti membuat kelompok membaca, rajin mengadakan diskusi buku, atau apapun yang mengikat pelanggan dengan obrolan seputar buku agar tertarik datang ke toko dan membeli buku.
Sebab, buku bisa tetap ‘hidup’ dan bertahan, jika dibicarakan. Tanpa adanya perubahan tersebut, saya sangsi, bahwa toko buku yang pernah berjaya di Bojonegoro ini mampu bertahan.








