Bahtera Hukum Tanpa Kompas dan Nakhoda, terombang-ambing di Samudra Ketidakadilan.
Entah apa yang hendak kutuliskan di sini. Kata-kata berlarian di benakku, tapi maknanya masih kabur seperti kabut di cakrawala. Aku sendiri gamang, terjebak dalam pusaran rasa yang tak bernama. Pening, tapi bukan sakit kepala. Mual, namun perutku baik-baik saja.
Berani, tapi gemetar. Takut, tapi tetap melangkah. Tenang, tapi sekaligus muak. Segalanya bercampur, berpilin seperti ombak yang menelan arah. Aku ibarat awak sebuah kapal yang hanyut di tengah lautan tak bertepi, tanpa peta, tanpa bintang penunjuk jalan, tanpa nahkoda sejati yang mengendalikan layar. Ke mana aku akan berlabuh?
Adakah pelabuhan yang menanti, ataukah hanya badai yang merangkul? Sementara itu, para pembajak tak pernah lelah menghampiri, merampas sisa-sisa keyakinan yang tersisa, meninggalkanku dengan kehampaan yang lebih luas dari samudra itu sendiri.
Sadar atau tidak, kini aku berdiri di atas sebuah bahtera hukum yang megah, sebuah bahtera yang selalu kuagungkan, kusebut-sebut dengan penuh kebanggaan. Ia menjulang gagah, lebih megah dari bahtera Nuh yang menyelamatkan peradaban, lebih megah dari Titanic yang pernah dielu-elukan dunia sebelum akhirnya karam di dasar samudra.
Namanya menggema ke seluruh penjuru negeri, dielu-elukan seolah menjadi simbol keadilan yang tegak. Namun, di balik kemegahannya, ia tak memiliki kompas penunjuk arah, tak punya nahkoda sejati yang mampu mengemudikannya dengan bijak. Bahtera ini berlayar tanpa tujuan, terombang-ambing dalam lautan ketidakpastian.
Aku dan para awak lainnya hanya bisa terpaku, kelelahan oleh absurditas yang terus berulang. Muak melihat jalannya yang kian tak tentu. Bingung mencari pegangan di antara gelombang kebingungan. Geram melihat keadilan yang semakin jauh dari harapan.
Marah, sebab yang semestinya kokoh justru semakin rapuh. Emosi yang berjejal di dada, menyaksikan bahtera ini berlayar tanpa kepastian, menuju entah ke mana atau barangkali menuju kehancurannya sendiri.
Entahlah… siapa sesungguhnya nahkoda hukum yang sejati? Aku dan para awak lainnya masih terombang-ambing dalam kebingungan, menanti sosok yang benar-benar hadir untuk menegakkan keadilan di bahtera hukum ini. Namun, dari sekian banyak yang datang dan berlagak sebagai penyelamat, tak satu pun yang benar-benar murni.
Mereka bertopeng, menyelubungi wajahnya dengan jubah kebajikan, menyerukan keadilan dengan suara lantang, namun di baliknya, mereka tak lebih dari perompak licik yang rakus dan tamak. Dengan tangan berlumur kepentingan, mereka menguasai kemudi, bukan untuk menyelematkan bahtera, tetapi untuk mengeruk apa yang bisa mereka ambil.
Tak ada bedanya dengan perompak yang pernah singgah sebelumnya, mereka hanya datang silih berganti, membawa janji yang tak pernah ditepati, lalu pergi dengan perut kenyang, meninggalkan bahtera ini semakin rapuh, semakin jauh dari pelabuhan keadilan yang seharusnya dituju.
Pertanyaan yang terus mengusik aku dan para awak lainnya, di manakah para bijak bestari hukum? Ke mana para cendekiawan yang dulu dikenal kritis dan penuh empati? Apakah mereka benar-benar tak mengetahui bagaimana bahtera hukum ini nyaris karam? Ataukah mereka telah lama sadar, namun memilih bungkam, membiarkan angin ketidakadilan berlalu begitu saja?
Ah, entahlah… Aku pun semakin bingung. Namun satu hal yang pasti, keadaan ini tak boleh dibiarkan terus berlarut. Jika tak ada yang bersuara, maka bahtera ini akan tenggelam tanpa perlawanan.
Biarlah tulisan kecil ini menjadi lentera, meski redup, semoga cukup untuk membangunkan mereka yang masih terlelap, menyadarkan mereka bahwa bahtera hukum ini sedang sekarat, dan jika tak segera diselamatkan, ia akan karam ke dalam lautan ketidakpastian yang tak berujung dan tak bertepi.
Penulis adalah Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syari’ah Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (UNUGIRI) Bojonegoro








