Jam dinding menunjuk pukul 9 pagi. Setelah mandi dan memakan beberapa suap nasi, kau bergegas menuju kantor di Jalan Rajekwesi. Belum ada siapapun di sana. Setelah membuka pintu, kau langsung mempertajam keahlian terbesarmu: menunggu.
Sehari sebelumnya, kau merencanakan perjalanan ke Kanor dan Bubulan, bersama tiga orang lain. Perjalanan hari itu memang agak sedikit tertunda. Yoggi yang jadi inisiator perjalanan masih sibuk rapat. Keberangkatan yang semula disepakati pukul 9.30, akhirnya mundur hingga Yoggi selesai rapat.
Untuk mengelabui waktu menunggu, kau sempatkan diri menulis embrio artikel yang akan tayang untuk hari itu. Sementara, Arctic Monkeys dan The Adams mengiang bergantian seperti nyamuk yang melintas di telingamu.
Waktu menunjuk pukul 11 siang. Yoggi berkabar bahwa rapat yang diikutinya sudah kelar. Di saat bersamaan, melalui grup WA, Widya memberitahu jika akan segera menyusul ke kantor. Dinal yang selama masa bujang akan selalu bangun kesiangan, juga siap merapat.
Yoggi dan Dinal datang hampir bersamaan. Dinal datang lebih dulu dengan berjalan kaki. Rumahnya memang tak terlalu jauh dari kantor. Jaraknya hanya sepebandeman kelereng. Yoggi datang dengan mobil SUV hijaunya.
Dinal langsung masuk ke kantor dan meminta maaf kepadamu karena bangun kesiangan. Disusul Yoggi yang datang lengkap dengan seragam melekat pada tubuhnya. Kau, Yoggi, dan Dinal kemudian terlibat perbincangan hangat.
“Baju seragamnya bagus,” ujar Dinal menggoda.
“Mau? Nih ambil aja,” balas Yoggi disambut tawa Dinal.
Tak berapa lama kemudian, Widya datang. Setelah mempersiapkan segala macam keperluan, kalian berangkat. Yoggi duduk di belakang setir kemudi. Dinal berada di samping. Kau dan Widya berada di kursi belakang, bersama sejumlah peralatan “tempur” yang kau bawa dari kantor.
Hari itu, kalian berencana mengambil video dan foto dari kegiatan pembangunan jalan dan aktivitas petani tembakau. Ada dua tempat yang kalian tuju. Kecamatan Kanor dan Kecamatan Bubulan. Peralatan “tempur” berupa 2 kamera DSLR, 1 handycam dan 1 kamera Mirrorless siap menemani perjalanan kalian.
Tempat pertama yang kalian tuju adalah Kecamatan Kanor. Setelah beristirahat sejenak untuk makan siang, kalian langsung menuju Kanor dengan kecepatan cukup tinggi.
Kurang lebih 20 menit perjalanan, kalian sampai di lokasi pertama. Desa Bakung, Kecamatan Kanor. Kau langsung turun bersama dengan yang lain. Mendatangi beberapa pekerja yang sedang memperbaiki gorong-gorong di pinggir jalan.
Dinal menyapa salah seorang petugas lapangan dari Dinas Pekerjaan Umum. Selain bangun kesiangan, mengenal dan dikenali orang adalah bakat berharga yang dimiliki Dinal. Seekor semut pun pasti akan mengenalinya, jika ditanya.
Setelah selesai mengambil gambar atau footage, perjalanan kembali dilanjutkan. Tujuan selanjutnya mengambil video tentang aktivitas petani tembakau. Setelah menimbang-nimbang, kalian sepakat berhenti di depan SDN Simorejo. Ada deretan tembakau yang sedang dijemur berikut jalan yang sedang diperbaiki.
Kalian berempat turun dari mobil. Bau samar-samar tembakau kering langsung menyambut. Dinal yang memegang handycam canggih resolusi 4K dengan monopod langsung bergegas mencari gambar-gambar terbaik. Disusul Yoggi yang menggunakan kamera DSLR Semi-pro. Widya dengan kamera mirrorless miliknya juga turut mencari gambar terbaik.
Kau, tentu turut mengambil beberapa gambar. Kau bingkai beberapa foto tembakau kering yang sedang dijemur di pinggir jalan maupun di depan rumah warga. Kamera DSLR keluaran lama yang dibawa Yoggi, kau atur sedemikian rupa demi menghasilkan gambar yang ramah dengan mata.
Kau, kemudian melangkahkan kaki masuk ke sebuah gang. Di sana kau melihat ada pasangan kakek-nenek yang sedang mengambil tumpukan tembakau kering dari atas wadahnya. Sepintas kau mengingat sesuatu, tapi kau memilih bergegas menuju ke arah Yoggi.
“Di sana ada orang yang lagi angkat-angkat tembakau kering. Bagus kalau diambil gambarnya,” katamu pada Yoggi.
Kau kembali menuju gang yang tadi. Yoggi mengikutimu dari belakang. Setelah sampai, kau memperkenalkan diri dan mengatakan maksud tujuanmu. Kedua orang tadi menyambutmu dengan ramah.
Haji Ali dan Hajah Lestik. Nama dua sosok yang sedang beraktivitas mengangkati tembakau kering itu. Dengan sangat ramah, mereka mempersilakanmu mengambil foto maupun video sebanyak mungkin.
“Ngapunten nggih Pak, Bu.. kulo bade mendet gambar foto kalih video,” katamu dengan bahasa krama inggil yang terbata-bata.
“Iya mas, silahkan. Ini kita sambil aktivitas seperti biasa ya,” balas Hj. Lestik dengan bahasa Indonesia yang lugas dan fasih.
Komunikasi selanjutnya pun dilakukan dengan bahasa Indonesia. Kau terus mengajak bicara dan menggali informasi mengenai tembakau kering yang sedang diolah pasangan suami istri tersebut.
Sedang Yoggi, dengan sigap memotret dan merekam segala aktivitas yang dilakukan pasangan tersebut dengan tembakau keringnya.
Setelah dirasa cukup, kau dan Yoggi pamit. Senyum ramah Haji Ali dan Hajah Lestik mengantar kalian kembali ke mobil SUV hijau yang sedang terparkir di pinggir jalan.
Setelah berkumpul dengan Dinal dan Widya yang sudah menunggu di mobil, kalian kembali memacu mobil. Tujuan selanjutnya adalah Kecamatan Bubulan. Mengambil footage video pembangunan dan perbaikan jalan poros kecamatan.
Yoggi tetap berada di belakang kemudi. Dinal yang duduk di sampingnya, tengah sibuk melihat kembali video yang tadi sempat dia ambil. Widya menghempaskan badan ke kursi mobil. Ia mencoba tidur dengan kacamata hitam yang masih dikenakannya. Dan kau masih asyik memandangi panorama dari balik jendela mobil.
Hutan Jati dan Ranting yang Mengering
Perjalanan menuju Kecamatan Bubulan memang menyita banyak waktu. Kalian sempat berhenti di jalan dekat Dander Park. Di tempat tersebut, kalian semua turun dari mobil dan melihat pemandangan indah di tengah hutan jati yang terlihat gundul pada sore hari.
“Bagus banget, seperti di Nusa Tenggara,” canda Dinal.
“Pemandangannya keren ya, apalagi kalau sore hari seperti ini,” timpal Widya.
Kau pun takjub dengan panorama yang ada. Hutan yang mengering ternyata mampu menunjukkan keindahannya. Tanganmu tak kuasa untuk tak mencoba membingkai pemandangan indah tersebut melalui bidikan kamera. Dinal dan Widya kau minta berpose ria.
Jari-jarimu, dengan lincah memotret pepohonan, Dinal dan Widya. Kombinasi antara panorama istimewa dengan kamera canggih, tak gagal menghasilkan foto yang begitu indah.
Puas berfoto ria, kalian langsung melanjutkan perjalanan. Pohon jati di kanan kiri jadi saksi bisu perjalanan kalian menuju Bubulan. Beberapa jalan berlubang dilibas ban mobil SUV hijau yang kalian tumpangi ini.
Akhirnya, kalian sampai di tujuan. Sebuah tempat terpencil di tengah hutan Kecamatan Bubulan. Di mana sedang dibangun jalan beton untuk memudahkan transportasi antar desa dan kecamatan.
Suasana begitu terasa sepi. Kalian memang agak kesorean. Para pekerja sudah pulang. Hanya ada jalanan sepi tengah hutan yang hanya dilalui sejumlah kendaraan saja. Namun, kalian tetap melaksanakan tugas yang sudah dicanangkan sedari awal. Mengambil footage pembangunan dan perbaikan jalan poros kecamatan.
Dinal kembali sigap mengambil beberapa video di jalan yang sepi tersebut. Setelah dirasa cukup, kalian kembali masuk ke dalam mobil. Semua rencana telah direalisasikan dengan baik. Jarum jam menunjuk pukul 17.10 WIB. Saatnya kembali pulang.
Rasa lelah tak bisa ditutupi dari wajah kalian. Dinal yang paling aktif dari awal terlihat mulai kehabisan energi. Namun, tetap saja dia terus berbicara. Tentang apa saja. Sepertinya kemampuannya berbicara tak membutuhkan energi. Kau tak memungkiri, itu keahlian Dinal yang paling kau sukai.
Hari melelahkan. Juga menyenangkan. Kau bertemu orang-orang baru dan melihat sisi lain Kota Bojonegoro. Dari aroma tembakau hingga ranting pohon jati yang mengering. Dua hal yang belum pernah kau dekati secara seksama. Perihal yang kadang terlewatkan begitu saja, hanya karena ia bagian dari sebuah perjalanan.
Di perjalanan pulang, kau memilih memandangi deretan ranting pohon jati dari balik kaca mobil. Matamu begitu terpesona dengan deretan ranting pohon jati yang menjulang ke atas. Ranting pohon terlihat jelas. Tak ada daun yang terlihat di ranting. Semuanya berguguran penuh keindahan.
Kau percaya jika setiap musim memiliki keindahan masing-masing. Hanya, kadang kita terlalu fokus pada apa yang tampak di mata tanpa menggali apa yang seharusnya hanya bisa dirasa.
Yoggi menahan kantuk namun tetap berupaya mengemudi dengan baik. Dinal, untuk pertama kalinya sejak perjalanan tadi, terlihat benar-benar tak sedang berbicara. Dia terlelap sambil mendekap kamera.
“Bagus banget ya ranting-rantingnya,” pujimu dari balik jendela mobil.
“Pohon jati justru terlihat indah kalau pohonnya kering,” timpal Widya.
Mobil SUV hijau yang dikendarai Yoggi terus melaju menyusuri jalan. Mengantar kalian kembali ke tempat peraduan. Semua tugas dan kewajiban, selesai dilaksanakan. Sore itu, hidup terasa begitu sungguh melegakan dan menyenangkan.








