Riak-riak kecil perlawanan terus berputar hingga menjadi pusaran air yang terus mengombak-menyalak menyuarakan keadilan.
Pergolakan aksi mahasiswa menggema di seluruh penjuru negeri. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bergerak menuntut dibatalkannya Revisi Undang-undang Kitab Hukum Pidana dan beberapa Undang-undang yang dianggap tak pro terhadap rakyat.
Tak hanya di Ibu Kota Jakarta saja. Contohnya gerakan aksi mahasiswa dan masyarakat di Surakarta dengan tajuk Bengawan Melawan. Aksi turun ke jalan muncul di beberapa daerah di Indonesia.
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi ketika Denny Adisa terbangun dari tidurnya. Mahasiswa asal Bojonegoro yang kuliah di salah satu Universitas Kota Solo tersebut memang berencana ikut aksi Bengawan Melawan turun ke jalan pada Selasa (24/9/2019).
Meski telat bangun, semangat Denny untuk ikut aksi tetap berapi-api. Setelah mandi dan membawa perlengkapan yang memadai, Denny bergegas menuju kawasan Manahan. Dengan jaket denim dan topi trucker miliknya, Denny siap menyatu bersama ribuan mahasiswa dan peserta aksi Bengawan Melawan lainnya di Kota Solo.
Sampai di Manahan, pemuda berusia 23 tahun tersebut langsung memarkirkan motor dan segera menyusul rombongan yang sudah berjalan lebih dulu menuju DPRD Kota Surakarta di Jalan Adi Sucipto. Poster bergambar satir yang disiapkan sehari sebelumnya juga sudah ada di tangannya.
Dengan bergegas, Denny bersama beberapa peserta aksi lain yang terlambat, berjalan menyusul rombongan besar menuju DPRD Kota Surakarta. Ia juga sempat bertemu dengan beberapa teman yang dikenalnya lewat aksi Kamisan di Solo.
Dengan langkah pasti, dia mampu menyusul rombongan besar dan akhirnya sampai di halaman depan Gedung DPRD Kota Surakarta. Ribuan mahasiswa dari berbagai Universitas di Kota Surakarta berkumpul jadi satu di sana.
“Manahan jadi titik kumpul. Kami jalan kaki sekitar 2 kilometer dari titik kumpul sampai kawasan DPRD Surakarta,” ujar Denny.
Aksi pun dimulai. Tuntutan dan orasi dari gabungan mahasiswa yang ada di Kota Solo pun dibacakan. Yel-yel dan lagu perjuangan juga terus dikumandangkan. Terik matahari yang menyengat diabaikan.
Gabungan Aliansi Mahasiswa se-Solo Raya dengan Aliansi Bengawan Melawan menolak Rancangan Undang-undang bermasalah. Mulai dari RKUHP, RUU Minerba, RUU Pertanahan, RUU Permasyarakatan, dan RUU Ketenagakerjaan. Mahasiswa secara spesifik juga menuntut agar RUU PKS segera disahkan.
Ada aksi teatrikal yang dipertunjukkan. Aksi yang menunjukkan kesengsaraan rakyat akibat dari segala macam rancangan undang-undang yang dianggap bakal membatasi gerak-gerik masyarakat.
Suara lantang terdengar di aksi Bengawan Melawan. Poster satir yang dibawa Denny pun tak lupa diangkat tinggi-tinggi.
Peserta aksi kemudian meminta masuk ke Gedung DPRD Surakarta untuk bertemu dengan anggota dewan. Lewat negosiasi, semua mahasiswa awalnya diperbolehkan masuk ke Gedung DPRD Surakarta. Namun tiba-tiba keputusan berubah. Hanya perwakilan saja yang boleh masuk.
Perubahan keputusan tentang siapa yang boleh masuk tersebut membuat mahasiswa tak puas. Silang pendapat antar mahasiswa dengan aparat keamanan kemudian terjadi sekira pukul 2 siang. Keributan pun pecah. Aparat keamanan sampai menggunakan gas air mata untuk menghalau para mahasiswa.
“Tiba-tiba gas air mata ditembakkan. Teman-teman langsung berhamburan menjauhi halaman depan DPRD Surakata,”
Denny yang berada di barisan mahasiswa ikut terkena efek dari gas air mata tersebut. Rasa perih luar biasa menyerang matanya. Bersama dengan rekan-rekannya yang lain, Denny mengamankan diri dan menjauh dari area keributan.
Akibat keributan tersebut, aksi Bengawan Melawan hari itu terhenti. Keributan ini mengakibatkan mobil komando polisi rusak. Sedangkan sound system dan genset yang digunakan mahasiswa disita oleh pihak kepolisian.
Bersama dengan teman dan koleganya, Denny kemudian menuju titik kumpul awal di sekitaran Manahan. Usai melakukan konsolidasi singkat, mereka sepakat untuk kembali ke kediaman masing-masing. Denny pun memilih untuk segera kembali ke kostnya.
Rasa lelah tak bisa dihilangkan begitu saja dari badan Denny. Terpaan gas air mata juga masih terasa. Namun semua hal itu tak akan menyurutkan langkah mahasiswa kelahiran 1996 ini untuk tetap bersuara lantang terhadap segala upaya penindasan. Denny tentu tidak kapok untuk ikut aksi turun ke jalan lagi.
“Nggak kapok. Kalau bukan kita yang berjuang, siapa lagi? Karena kritis itu perlu kalau bicara tentang pemerintah. Apalagi yang sudah sepenak udele. Kan katanya negara demokrasi,” tutup Denny.
Baginya, menyuarakan keadilan adalah tanggung jawab pentingnya sebagai seorang agen perubahan. Turun ke jalan adalah keniscayaan ketika pemerintah dirasa sudah sewenang-wenang.
Riak-riak kecil ini, perlawanan ini, akan terus berputar hingga menjadi pusaran air yang terus mengombak-menyalak, tak henti menyuarakan keadilan. Jika ombak tak diperhatikan, jangan salahkan banjir rob yang akan berdatangan.








