Alih-alih bicara tentang hal-hal abstrak atau sebuah angan utopis tentang masyarakat tanpa kelas, filosofi teras justru memandu manusia pada hidup yang praktis dan selaras dengan alam.
Tahun 2020 resmi berumur dua minggu hari ini, tapi saya tak bisa berhenti menjalani hidup dengan sumringah. Hati saya riang seketika. Dan aura dalam diri saya tidak menunjukan gelagat mencurigakan layaknya seseorang yang tengah stress karena skripsi atau seorang lelaki yang tersandung masalah percintaan.
Meski di awal sempat takut luar biasa akibat rentetan peristiwa yang mengerikan, tetapi toh kini saya tengah siap dengan hal-hal tak terduga lagi. Pendek kata, jika kelak akan hadir kabar lebih buruk, menyebalkan, atau tak sesuai hati, saya telah siap. Karena, jika tidak begitu, mau apa lagi?
Dengan menyiapkan diri pada hal-hal buruk yang akan menimpa, hati saya terasa lebih lega. Karena, rasa sakit yang akan dirasa tidak terlalu mengejutkan, dan andai kata ada kabar bagus, itu terasa seperti sebuah keberkahan tersendiri.
Setelah menerapkannya sejauh ini, metode itu ternyata efektif. Kini saya merasa lebih leluasa dan bergairah dalam menjalani hidup dan bersiap dengan kejutan-kejutan lainnya.
Namun seolah belum cukup, kawan saya, Muhdany Yusuf Laksono menggenapinya pagi ini. Jurnalis progresif itu menikah kemarin dengan seorang yang amat dicintainya, yang berprofesi di bidang literasi juga. Ia tampak bahagia dengan jas dan ornamen bunga bersama sang istri. (Oh, samawa ya lur!)
Yang bikin istimewa sebenarnya adalah: ia menjadi bukti konkret bahwa pada saatnya, keinginan-keinginan di masa lalu akan terlewati juga. Salah satunya keinginan menikah.
Soalnya, ketika awal 2018 lalu menjalani tugas kerja bersamanya, saya melihat sosok yang mirip Marcel Siahaan itu tak menunjukan tanda-tanda sedang jatuh cinta kepada perempuan. Ia lelaki yang, alih-alih romantis, tapi amat apatis pada perempuan.
Malahan, saya pikir ia akan meneruskan kepiawaiannya di urusan sepakbola, seperti mengusulkan strategi moncer buat Persibo Bojonegoro, membantu mencari bibit-bibit pemain muda, atau menjadi pemandu sorak untuk Boro Mania.
Tapi toh, akhirnya saya keliru. Ia menikah juga tahun ini, dan itu makin menebalkan kebungahan dalam diri saya hari ini.
**
Dalam karyanya yang laris belakangan ini, Henry Manampiring menulis sebuah ajaran masa silam yang cukup berharga dari para filsuf Romawi. Itu adalah filsafat stoa (stoicism), yang dibahasakan Henry dengan Filosofi Teras.
Alih-alih bicara tentang hal-hal abstrak atau sebuah angan utopis tentang masyarakat tanpa kelas, filosofi teras justru memandu manusia pada hidup yang praktis dan selaras dengan alam.
Maksudnya, hidup dengan menyadari bahwa di alam, segala hal akan terjadi, baik buruk, bagus, jelek, membahagiakan, atau menyedihkan. Dan kita, rentan bisa terpengaruh oleh hal-hal tersebut.
Hanya saja, Epictetus, salah seorang pelopor stoisisme di Romawi Kuno, bilang bahwa dalam hidup ada hal-hal yang bisa dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan. Dan agar beban kita ringan, sebaiknya fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan.
Misal saja di lingkungan kerja, kita dikaruniai bos yang amat galak seperti singa. Setiap hari, kita selalu kena amarah oleh berbagai sebab. Kita tentu saja punya pilihan untuk memberikan beragam respon: memarahi balik, protes, mengikat tangannya pada tiang listrik, atau justru menahan diri dan fokus pada perbaikan diri.
Kemarahan bos tersebut adalah hal di luar kendali kita. Dan berangkat ke kantor sedini mungkin, mengerjakan proyek tepat waktu secara maksimal, atau bersikap ramah kepada client adalah hal yang bisa kita kendalikan.
Jika kita bersandar pada hal-hal di bawah kendali, kita tertolong oleh kehabisan energi akibat membenci. Karena tentu saja, membenci berkali-kali tak pernah melegakan dan cenderung menghasilkan luka berkali-kali.
**
Tidak terasa, ajaran berharga filosofi teras berguna betul hari-hari ini. Saya menjadi lega dan riang dalam menghadapi hidup. Saya merasa bisa menerima apa saja yang akan datang. Meski tak bisa dipungkiri, hal-hal yang tak mengenakkan tetap saja terjadi. Tapi toh, bukankah itu di luar kendali saya?
Pelajaran stoa adalah kekuatan menerima dan menjalani apa saja yang dikaruniakan kepada kita. Tentu bukan dalam arti sebagai pasrah, namun lebih pada mengupayakan apa saja yang bisa dilakukan secara maksimal.
Pada mulanya, saya mencoba mengelak dari anjuran ini dan berusaha memberontak pada hal-hal yang menyebalkan. Namun, lama-lama terasa melelahkan juga. Akhirnya saya menerapkannya sejak awal tahun ini, dan coba tebak: ya, saya tak pernah merasa tidak lebih bahagia dari hari-hari ini.








