Pukul 00.15 WIB, di Area Makam Sunan Ampel Surabaya.
Maka keramat tersebut tak pernah benar-benar tidur. Bahkan ketika kegelapan malam telah menyelimuti langit-langit Kota Surabaya dengan kabut hitam dari laut Jawa. Pelatarannya tetap berdenyut pelan—langkah peziarah, desir doa, dan bau wangi yang tertinggal di udara tak pernah berhenti. Lampu-lampu kuning redup menggantung di lorong-lorong sempit pasar menuju makam, memantulkan bayangan tua pada dinding makam yang lembap.
Di sanalah, tepat di area makam Sunan Ampel, Ahmad yang biasa dipanggil Cak Mad, pemuda berusia 38 tahun duduk bersila, menahan dingin batu yang merambat hingga tulang. Ia datang bukan sebagai peziarah pada umumnya. KH. Muhaimin dari Pondok Nurus Salam Berbeg—gurunya—memerintahkannya untuk uzlah, tirakat, dan mujahadah.
“Tinggallah disana Nak. Diam. Dengarkan bisikan Ilahi,” demikian pesan gurunya singkat, saat awal keberangkatan Cak Mad ke Surabaya.
Cak Mad menurut. Ia amat patuh akan perintah dari sosok KH. Muhaimin yang amat dihormatinya. Sudah hampir satu bulan Cak Mad berada di komplek makam penyebar Islam yang mempunyai nama asli Sayyid Ali Rahmatullah tersebut. Kadang ia juga bertirakat sekaligus bermalam di makam Sunan Botoputih yang tak jauh dari Kampung Ampel. Kadang di Kubah Ampel, di makam Habib Idrus Al Habsyi.
Malam itu, lebih sunyi dari biasanya. Angin membawa dan meredam berisik orang-orang yang ngopi sembari menikmati roti Maryam di sepanjang Jl. KH. Mas Mansyur, berbaur dengan bisik-bisik doa para peziarah yang kian menipis. Cak Mad menutup mata, mencoba menata napas. Dalam dadanya, ada rasa gelisah. Ia merasa sudah lama bermunajah, sudah lama belajar. Namun entah mengapa, ada kekosongan yang terus berdenyut.
Ketika matanya terpejam lama, derap-derap langkah kaki terdengar mendekat. Pelan. Pasti. Seperti seseorang yang tahu persis ke mana harus berjalan. Namun, bunyi langkah itu, terasa bukan entitas berwadag jasmani: ruhani. Semacam arwah para leluhur. Perlahan Cak Mad melafalkan bacaan hizib-hizib yang dulu diberikan Kiainya di Pesantren. Sejurus kemudian ia membuka kedua bola matanya. Njenggirat.
Sosok entitas lelaki berjubah dan bersorban putih berdiri tak jauh darinya. Sekitar setengah depa. Wajahnya asing, ke-Arab-araban sedikit bercampur ras Cina Hokkian. Wajah itu tampak teduh, tenang, namun sangat berwibawa. Sorot matanya tajam, namun menembus kedalaman dada.
Lelaki itu tidak menegur dengan salam. Tidak pula tersenyum.
“Maliiiing…” katanya keras.
Cak Mad terhentak. Jantungnya berdegup keras. Ia menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tak ada orang lain. “Saya?” tanyanya, hampir berbisik.
“Maliiiing…” ulang suara itu, lebih pelan, tapi menghunjam. “Maliiing…”
Kata itu terasa kasar di telinga Cak Mad. Ia menelan ludah. “Jika saya salah,” katanya dengan suara bergetar, “salah apa saya?”
Lelaki berjubah putih itu menatapnya lebih lama. Di sekitar mereka, lampu-lampu tampak berpendar, seolah cahaya ikut mendengarkan.
“Kau terbiasa melakukan banyak hal,” kata lelaki itu akhirnya, “tanpa izin.”
“Izin siapa?” tanya Cak Mad, kebingungan.
“Pemilik segalanya,” jawabnya singkat. “Kau melangkah, bekerja, berdoa, bahkan berniat—tanpa mengerti hakikat tedalam dari kalimat Bismillah.”
Cak Mad terdiam. Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti batu kecil ke kolam sunyi dalam dadanya.
“Segala yang di langit dan di bumi bukan milikmu,” lanjut lelaki itu. “Jika kau mengambil, bergerak, dan merasa berkuasa tanpa menyebut Nama-Nya—tanpa kesadaran izin—apa bedanya dengan maling heh?”
Pertanyaan itu tidak menunggu jawaban. Ia memukul, merobohkan tembok keakuan Cak Mad. Ia menunduk. Dadanya sesak. Air mata mengalir tanpa diminta.
“Aku salah,” lirihnya. Bukan karena takut, melainkan karena sadar. Ia teringat betapa seringnya ia sibuk dengan hasil, lupa pada sumber. Betapa seringnya ia merasa ‘melakukan’, bukan ‘diperkenankan’. La illaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin.
Ketika Cak Mad mengangkat kepala, lelaki itu telah tiada. Hanya nisan makam Sunan Ampel dbeserta istri dan kerabatnya. Dan deru angin yang lewat, membawa bau tanah basah dan dedaunan yang rontok di pelataran komplek makam. Jam dinding di serambi masjid berdetak pelan. Dunia kembali seperti semula.
Cak Mad menangis lama. Tangisan orang yang menemukan jati dirinya—dalam keadaan paling kecil. Sejak hari itu, Cak Mad membiasakan mengucap Bismillah, bukan hanya dengan bibir, tetapi dengan hati yang meminta izin. Ia belajar melangkah sebagai penerima, bukan pemilik. Dan di Makam Sunan Ampel, keheningan telah mengajarinya sesuatu yang tak pernah ia temukan di buku mana pun.
-0-
Kisah ini menggambarkan pengalaman kasyf seseorang—teguran ruhani yang tidak dimaksudkan sebagai vonis hukum. Tidak. Melainkan tamparan kesadaran, kategori eksistensial. Ia menunjuk pada manusia pada umumnya—dan mungkin juga dengan ketegori saleh. Manusia yang merasa sah bertindak tanpa menghadirkan Pemilik sejati.
Dalam konteks tasawuf, Bismillah bukan sekadar lafaz pembuka, tetapi izin eksistensial: pengakuan bahwa manusia hanya bagian kecil manifestasi dalam semesta milik Allah.
Penyebutan “maling” dalam kisah ini berfungsi sebagai bahasa simbolik untuk meruntuhkan ego spiritual—bukan untuk menghakimi. Tangisan Cak Mad seakan menandai inkisār an-nafs (pecahnya keakuan), tahap penting dalam mujahadah seorang salik. Demikian pula suasana Makam Sunan Ampel menjadi latar: ruang sejarah, doa, dan keheningan yang memungkinkan pesan-pesan batin hadir. Tanpa perlu banyak kata.
Secara umum, kisah ini tidak bicara tentang Cak Mad, Sunan Ampel, atau bahkan tentang sosok berjubah putih yang datang lalu pergi. Tidak. Ia sedang bicara tentang kita—yang kerap merasa bisa, dan jarang berhenti untuk bertanya: atas nama siapa semua ini dilakukan?
Di era ketika manusia gemar mengklaim—hasil, capaian, bahkan kebaikan—Bismillah wajib dijadikan sebagai rem. Sebagai jeda. Atau sebagai pengingat bahwa hidup bukan panggung tunggal ego, melainkan ruang pinjam-meminjam antara kehendak dan izin. Karena disitulah letak keberanian spiritual: mengakui bahwa kita kecil, ‘hanya’ sekadar menumpang hidup yang milik Maha Hidup. Bahwa sebelum apa pun dimulai, ada satu kata yang seharusnya lebih dulu hadir—bukan sekadar di bibir, melainkan di kesadaran.
Bismillah.
Kalimat ini bukan untuk mengunci Tuhan dalam kata-kata. Tetapi untuk membebaskan diri sendiri dari ilusi kepemilikan. Wallahu a’lam.








