Puluhan orang menerjang gerimis dan memenuhi sebuah kedai di Bojonegoro pada Sabtu (10/1/2026). Tepatnya pada malam akhir pekan di Ndalem Garudeyan. Sejumlah audiens hendak nonton bareng (nobar) dan mendiskusikan film TAMBANG EMAS RA RITEK.
Tambang Emas Ra Ritek merupakan film dokumenter tentang gerakan masyarakat Trenggalek. Khususnya penolakan terhadap tambang emas di wilayah mereka. Film ini mengulas tahap eksplorasi dan eksploitasi alam Trenggalek sejak 2005. Dan terus berlangsung hingga saat ini.
Tambang Emas Ra Ritek menyuarakan alasan warga Trenggalek menolak kehadiran tambang emas. Mulai dari petani, nelayan, seniman, perempuan hingga anak muda. Suara warga direkam dari hulu hingga hilir. Salah satu sebabnya adalah muncul kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan. Selain itu, pecahnya kerukunan sosial bagi warga yang terdampak.
Wahyu AO yang menjadi produser film tersebut turut hadir dalam acara nobar. Dia juga sebagai nara sumber utama saat sesi diskusi. Menurut Wahyu, film Tambang Emas Ra Ritek tentu dibuat dengan maksud dan tujuan. Masyarakat perlu diedukasi tentang bahaya serta dampak negatif dari aktivitas tambang.
“Tidak semua informasi itu diberikan ke masyarakat secara adil dan terbuka,” kata Wahyu saat sesi diskusi.
Perlu adanya pemahaman mendalam tentang potensi hadirnya aktivitas penambangan. Film ini mengangkat dampak negatif aktivitas penambangan terhadap lingkungan. Termasuk juga lingkungan sosial masyarakat. Dampak negatif lebih signifikan dirasakan warga ketimbang dampak positif yang hanya menjanjikan harapan sesaat.
Di lain sisi, peran pemerintah dianggap kurang transparan. Masyarakat merasa kurang dilibatkan. Bahkan, mulai dari tahap perencanaan dan eksplorasi. Sehingga, masih banyak warga yang belum tahu betul. Jadi, film dokumenter ini menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang terdampak.
“Bukan karena mereka malas atau tidak mencari tahu, tapi ternyata warga yang tidak sadar kalau sengaja dibuat tidak tahu,” ucap Wahyu.

Menurut Wahyu, edukasi terhadap dampak tambang ke masyarakat sangat penting. Masalah lingkungan memanglah persoalan besar. Terlebih untuk saat ini. Namun, harapan yang digantungkan melalui film ini tidak muluk-muluk.
Intinya, masyarakat semakin banyak yang tahu. Sejauh mana dampak yang ditimbulkan oleh aktivitas eksploitasi alam. Dan warga berhak memilih dampak mana yang terbaik untuk kehidupan masyarakat.
“Setidaknya masyarakat semakin banyak yang tahu, itu dulu yang harus dipenuhi,” pungkas Wahyu.
Film dokumenter ini mengambil judul Tambang Emas Ra Ritek. Dari judul tersebut, Ra Ritek bukanlah nama perusahaan. Ra Ritek merupakan istilah lokal warga Trenggalek yang berarti ‘Tidak perlu’. Jadi, Tambang Emas Ra Ritek dapat diartikan sebagai kalimat simpulan warga Trenggalek yang berarti “Tambang Emas tidak perlu”. Makna tidak perlu ada tambang emas inilah yang menjadi inti dari film dokumenter.
“Tambang emas ra ritek, ora nambang yo panggah madhang.” (Tambang emas tidak perlu, tidak menambang ya tetap makan).
Film Tambang Emas Ra Ritek diproduksi bersama oleh komunitas Mantrabumi, Serikat Suket, Pers Mahasiswa Jimat dan Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Nasional. Kolaborasi tersebut melahirkan sebuah film dengan narasi yang begitu kuat. Sebuah gaya aspirasi dari suara rakyat yang sungguh otentik. Gambaran perjuangan nyata di atas bumi Trenggalek.
Film dokumenter tersebut sempat meraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2025. Film Tambang Emas Ra Ritek tidak hanya menjadi Film Dokumenter Panjang Terbaik, tetapi juga berhasil mengangkat isu lingkungan ke ranah nasional.
“Bagus sekali karena tidak banyak sebuah perlawanan yang di-filmkan,” respon Nurika Manan saat menjadi pemantik di sesi diskusi.
Penghargaan tersebut menunjukkan apresiasi terhadap kualitas produksi film. Selain itu, pesan moral yang disampaikan juga sangat kuat. Antusiasme terhadap karya bertema lingkungan menunjukkan tren positif. Bukti bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya menjaga lingkungan.








