Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bulan Terakhir di Tahun yang Bangsat

M. Jager Ramadhani by M. Jager Ramadhani
10/12/2025
in Cecurhatan
Bulan Terakhir di Tahun yang Bangsat

Bulan Terakhir

Dua puluh lima tahun bukan sekadar usia, ia adalah medan tempur yang menuntut lebih banyak dari yang pernah saya siapkan. Saya tidak yakin ini hidup, mungkin lebih tepatnya bertahan sambil menatap laut yang tak memberi janji apa pun.

Gelombang silih berganti datang seperti utang yang tak pernah lunas, dan saya, seperti Santiago, hanya punya seutas tali tambang untuk menambatkan diri pada sesuatu yang saya sendiri tak yakin ada harganya.

Saya mengejar hal-hal yang selalu lebih besar dari sekoci saya, lebih liar dari harapan, lebih keras kepala dari doa-doa yang saya bisikkan. Dan dalam banyak perjalanan, yang saya bawa pulang sering kali hanyalah tulang belulang bekas dari sesuatu yang dulu saya yakini sebagai kemenangan.

Tapi ternyata hanya sisa dari ambisi yang dimakan waktu dan keadaan. Namun saya bersyukur: saya tidak sepenuhnya berubah menjadi sisa marlin yang habis dicabik oleh Hiu.

Saya akhirnya mulai menerima bahwa harta karun, seperti kata Sang Alkemis, bukanlah sesuatu yang menunggu di ujung dunia, bukan di kota-kota asing yang saya bayangkan bisa menyelamatkan saya, bukan di pelukan siapa pun.

Ia berada di bawah pohon Sycamore tempat yang selama ini saya lewati dengan acuh, dengan dada yang terlalu sibuk berdebar untuk melihat ke tanah di mana jawaban menunggu. Ironis, tapi begitulah cara hidup bekerja: menempatkan yang penting tepat di depan mata, lalu membiarkan kita mengira ia berada di tempat lain.

Namun perjalanan ini tetap harus ditempuh, seburuk apa pun cuacanya. Ada misteri gelap yang hanya akan terjelaskan jika saya terus berjalan, terus tersandung, terus mengumpulkan serpihan diri yang entah sampai kapan tetap utuh.

Sunyi terkadang lebih tajam dari hiu, dan gelap sering lebih bengis daripada kenyataan. Tapi keduanya adalah bagian dari lanskap hidup yang tidak pernah ramah pada siapa pun saya hanya salah satu yang kebetulan masih berdiri.

Dan pada bulan terakhir di tahun yang bangsat ini, saya mulai memahami satu hal yang pahit: bahwa tidak semua kehilangan adalah kerugian, dan tidak semua kekalahan adalah akhir.

Rasa muak yang menerpa, hari-hari yang tampak sia-sia, pukulan yang tidak pernah berhenti datang semuanya mungkin hanya ayunan pendulum yang sedang bergerak ke arah yang buruk. Dan seperti yang selalu terjadi, ia akan berayun kembali, meski tidak ada jaminan kapan.

Kesimpulannya? Mungkin hidup memang tidak worth to live, seperti kata para pemuja optimisme yang akhirnya menyerah pada kenyataan. Mungkin hidup tidak pernah menawarkan nilai tukar yang sepadan dengan rasa sakitnya.

Namun perjalanan ini, betapapun absurd dan tidak adil, tetap harus dijalani sampai ujungnya. Bukan karena saya berharap sesuatu yang besar menunggu, tetapi karena berhenti bukan pilihan yang pantas.

Schopenhauer pernah menulis bahwa hidup adalah “ayunan antara penderitaan dan kebosanan,” dan bila seseorang masih memilih berjalan itu bukan karena hidup menjanjikan kebahagiaan, tapi karena tekad untuk tidak menyerah adalah satu-satunya bentuk martabat terakhir manusia.

Dan mungkin, di tengah gelap yang tidak kunjung retak, itulah satu-satunya alasan yang masih tersisa: bahwa saya harus menyelesaikan perjalanan ini, bahkan ketika saya tahu dunia tidak pernah berniat membuatnya layak untuk dijalani.

Tags: Cecurhatan Jurnaba
Previous Post

Bhinnasrantaloka: Konstelasi Ekologi, Budaya, dan Kreativitas Manusia

Next Post

Saat Bencana Menjadi Administrasi

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan
Cecurhatan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya
Cecurhatan

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari
Cecurhatan

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026

Anyar Nabs

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

Kisah Soekarno dan Marhaen, Petani Bandung yang Menginspirasi Lahirnya Marhaenisme

02/06/2026
Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

Di Kebun Singkong: Percakapan tentang Benih, Anak-anak, dan Masa Depan

02/06/2026
Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

01/06/2026
Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

Ekspedisi Naga Api Menelisik Situs Janjang dan Sejarah Perminyakan Pra-Kolonial

31/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: