Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

Ahmad Rofi' Usmani by Ahmad Rofi' Usmani
19/01/2026
in Cecurhatan
Cairo International Book Fair, Upaya Mesir Menyalakan Buku

Cairo International Book Fair

Melalui Cairo International Book Fair (CIBF), Mesir membuktikan dirinya sebagai sebuah negara yang tak pernah jemu menyalakan semangat membaca dan mencintai buku. 

Di penghujung hari nanti, tepatnya mulai 24 Januari 2026, ketika udara musim dingin di Kairo masih menggigit, sebuah fenomena budaya berskala benua mulai bergema. Bukan suara lalu lintas di Tahrir Square, atau sorak-sorai di Stadion Internasional Kairo, melainkan gemuruh tak kasat mata dari jutaan halaman buku yang siap dibuka.

Dari jauh, kompleks megah pusat pameran di New Cairo tampak seperti kota mandiri yang tiba-tiba tumbuh dari gurun—dipenuhi aliran manusia yang tidak pernah reda, dari keluarga dengan anak-anak yang bersemangat, mahasiswa dengan tas ransel penuh impian, hingga sarjana tua yang matanya masih menyala keingintahuan. Itulah Cairo International Book Fair (CIBF), sebuah mahakarya pertemuan intelektual yang bukan hanya sekadar pameran, namun jantung yang berdetak bagi dunia literasi Arab dan global.

Berdiri sejak 1969, pameran ini telah berevolusi dari perayaan ulang tahun ke-1000 Kota Kairo menjadi salah satu magnet literasi terbesar di planet ini. Pada tahun 2006, secara resmi pameran tersebut dinobatkan sebagai pameran buku terbesar kedua di dunia, hanya setelah raksasa pameran buku internasional di Frankfurt, Jerman.

Gelar itu bukan sekadar label. Namun, cerminan dari sebuah ekosistem yang hidup: dengan kehadiran rata-rata dua juta pengunjung setiap tahunnya, CIBF adalah pesta demokrasi pengetahuan di mana setiap orang-dari pedagang hingga profesor-memiliki akses yang sama pada samudera buku.

Kelahiran Sebuah Mercusuar

Akar CIBF tertanam dalam pada tahun 1969, bertepatan dengan peringatan satu milenium berdirinya Kota Kairo oleh Dinasti Fatimiyah. Saat itu, Menteri Kebudayaan Mesir, Tharwat Okasha, membayangkan sebuah perayaan yang tidak hanya bersifat seremonial. Namun, juga substantif: sebuah penghormatan pada warisan Kairo sebagai “Sang Penakluk” di bidang pemikiran.

Visi tersebut diwujudkan oleh seorang ilmuwan perempuan pionir, Soheir Al Qalamawy, yang dipercaya mengawal edisi perdana. Hasilnya di luar dugaan: 27 negara dan lebih dari 400 penerbit berpartisipasi, diserbu oleh lebih dari 70,000 pengunjung yang haus pengetahuan. Sebuah benih telah tertanam di tanah subur yang secara historis adalah rumah bagi Al-Azhar Al-Syarif, universitas tertua di dunia, dan tradisi keilmuan Islam yang mendalam.

Perjalanan CIBF sejatinya adalah kisah tentang ketangguhan dan adaptasi. Awalnya diselenggarakan di wilayah Nasr City, pameran ini terus berkembang hingga pada 2019 berpindah ke Pusat Mesir untuk Pameran Internasional di New Cairo, sebuah fasilitas modern yang mampu menampung ledakan partisipasi dan minat publik.

Ujian terberat datang pada 2011, saat gejolak politik memaksa pembatalan satu-satunya dalam sejarahnya. Ujian lain hadir berupa pandemi COVID-19 pada 2021, yang memaksa pameran ditunda dan diadakan dengan protokol ketat serta aktivitas budaya virtual. Namun, seperti Phoenix, CIBF bangkit lebih kuat. Edisi 2024 mencatat sejarah baru: dengan tema “Kami Menciptakan Pengetahuan… Kami Menjaga Kata”, pameran ini menarik partisipasi 1,200 penerbit dari 70 negara dan-yang paling mencengangkan-dikunjungi oleh 4.7 juta orang, sebuah angka yang melampaui segala ekspektasi dan mengukuhkan skalanya yang fenomenal.

Bukan Tanpa Kontroversi

Menyebut CIBF hanya sebagai “pameran jual-beli buku” adalah simplifikasi yang keliru. Ia adalah platform diplomasi budaya yang canggih. Setiap tahun, sebuah negara diundang sebagai “Tamu Kehormatan”, mempresentasikan sastra, seni, dan pemikiran negaranya di hadapan publik Arab yang luas (misalnya, Yunani pada 2022 dan Norwegia pada 2024). Sebuah “Tokoh Tahun Ini” dari dunia sastra Arab juga dihormati, memastikan warisan klasik tetap hidup berdialog dengan kontemporer.

Ruang pamerannya sendiri adalah sebuah mikrocosmos dunia. Pengunjung dapat berjalan dari stan yang memajang manuskrip teologis klasik dari Penerbit Al-Azhar Al-Syarif, langsung ke booth penerbit Eropa yang memamerkan novel fiksi ilmiah terbaru atau riset filsafat postmodern. Ini adalah titik temu nyata antara Timur dan Barat, antara tradisi dan modernitas, mencerminkan peran historis dunia Islam sebagai jembatan pengetahuan yang pada Masa Pertengahan menyalurkan ilmu ke Eropa dan membantu memicu Renaisans.

Untuk merasakan denyut nadi CIBF, bayangkan suara riuh rendah yang konstan, campuran dari tawar-menawar, diskusi panas dalam seminar, dan tawa anak-anak di paviliun buku anak. Aroma kertas baru dan kopi Arabika menyatu di udara. Di satu sudut, seorang penyair muda membacakan karyanya dengan penuh emosi untuk lingkaran pendengar kecil namun khusyuk. Di panggung utama, debat sengit sedang terjadi antara seorang novelis liberal dan seorang kritikus konservatif tentang batasan kebebasan berekspresi, disiarkan langsung ke seluruh Dunia Arab.

CIBF memang bukan tanpa kontroversi. Sebagai institusi negara, pameran buku internasional ini kadang menjadi medan tarik-ulur antara promosi pengetahuan dan batasan politik. Laporan dari tahun 2008, misalnya, mencatat adanya penyensoran terhadap buku-buku yang dianggap sensitif. Dinamika ini justru menegaskan posisinya sebagai cermin dari ketegangan yang lebih luas dalam Masyarakat: sebuah ruang di mana pertarungan gagasan, dalam koridor tertentu, tetap dapat disimak publik.

Simfoni yang Terus Bergema

Pada akhirnya, keluarbiasaan Cairo International Book Fair terletak pada kemampuannya yang langka: menjadi institusi masif namun personal, global namun berakar lokal, tradisional namun progresif. Ia adalah bukti hidup bahwa di era digital sekalipun, daya pikat fisik dari buku dan komunitas pembaca tidak pernah pudar.

Lebih dari sekadar pameran, CIBF adalah sebuah pernyataan budaya tahunan dari Mesir kepada dunia, mengingatkan semua bahwa di tanah yang pernah menyelamatkan warisan pengetahuan dari invasi Mongol ini, api literasi masih menyala-nyala, dijaga oleh jutaan tangan yang setiap tahun membuka halaman baru, meneruskan simfoni abadi antara kata, pikiran, dan peradaban.

Matur nuwun, Mesir: sebuah negara tak pernah jemu dalam menyalakan semangat membaca dan mencintai buku!

Tags: Cairo International Book FairCatatan Rofi' UsmaniMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Diskusi Organik Lintas Komunitas Bojonegoro Terkait Sampah dan Pencarian Solusi Bersama

Next Post

Siapa yang Memakan Jatah Siapa?

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Antara Lapar dan Debu
Cecurhatan

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa
Cecurhatan

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw
Cecurhatan

Puasa Ramadhan bersama Rasulullah Saw

16/02/2026

Anyar Nabs

Di Antara Lapar dan Debu

Di Antara Lapar dan Debu

18/02/2026
Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

Warga Desa Trucuk Antusias Mengikuti Praktik Pengelolaan Sampah Untuk Menambah Penghasilan Rumah Tangga

18/02/2026
Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

Cahaya di Ufuk Barat: Kisah Perburuan Hilal Awal Ramadhan dari Masa ke Masa

18/02/2026
‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

‎Sejarah Desa Mori, Jejak Tionghoa di Kelokan Bengawan

17/02/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: