Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Catatan Harian sebagai Ruang Ekspresi, Refleksi, dan Meditasi

Muhammad Aufal Fresky by Muhammad Aufal Fresky
14/07/2025
in Cecurhatan
Catatan Harian sebagai Ruang Ekspresi, Refleksi, dan Meditasi

Daily Notes

Kira-kira sebelas tahun silam, saya begitu berhasrat untuk mendalami dunia tulis menulis. Lantas, tanpa berpikir panjang, saya mulai tancap gas untuk mengisi jurnal harian. Sebab, kala itu, memang saya berangkat dari penasaran seperti apa rasanya menulis di buku harian.

Apalagi, saya mengetahui betul, tokoh-tokoh pemikir dan intelektual seperti halnya Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie yang begitu konsisten menulis di buku harian. Saya pun ingin meniru langkah-langkah mereka. Lambat laun, saya mengisi buku harian saya dengan segala hal yang saya pikirkan dan rasakan.

Apapun itu, saya tumpahkan dalam catatan. Begitu juga dengan ragam peristiwa yang terjadi di sekitar saya, tidak luput untuk segera dicatatkan. Saya tidak membatasi topik/tema khusus di buku harian tersebut. Saya menulis dengan gaya suka-suka, mengalir, dan tanpa beban.

Lagi pula, dalam benak saya, yang membaca buku harian tersebut hanya saya sendiri. Sama sekali belum ada niatan untuk mempublikasikannya. Apalagi, memang buku harian sendiri, sifatnya begitu personal. Bahkan, hal yang paling rahasia dalam diri kita sendiri, bisa diungkapkan sebebas-bebasnya di dalamnya. Perlahan, saya sangat menikmati aktivitas menulis catatan harian.

Saya bisa memotret ragam peristiwa, pemikiran, dan bahkan kenangan di masa silam. Begitu dahsyat pengaruh catatan harian dalam pembentukan cara berpikir dan bersikap penulisnya. Sebab, lewat catatan harian, saya bisa lebih mengenali diri saya yang sebenarnya. Termasuk bagaimana memandang hidup ini. Lewat menulis di buku harian, saya bisa berfilsafat, mempertanyakan segala hal dalam hidup.

Seperti halnya dari mana saya berasal, untuk apa saya hidup, dan hendak ke mana saya nantinya setelah wafat. Ini tentu sangat mengsyikkan bagi saya. Selain bisa menangkal rasa jenuh dan membuat hari-hari lebih produktif, menulis di buku harian menjadi sarana menguatkan akal pikiran dan mempertajam ingatan. Tentu saja juga bisa melatih saya untuk berpikir secara kritis dan konstruktif.

Tahun demi tahun berlalu. Lembar demi lembar buku harian mulai terisi penuh. Saya pun kadang tidak menyangka, tidak habis pikir, kenapa saya begtu doyan menulis. Padahal, sama sekali tidak menjanjikan keuntungan finansial. Tidak menjamin saya bisa menjadi penulis best seller yang mampu mendatangkan pundi-pundi kekayaan.

Tapi, sekali lagi, saya pikir tidak semua hal di dunia ini diukur dengan uang. Materi tidak bisa menjadi ukuran ketika kita benar-benar menikmati passion yang saya miliki. Apalagi, saya merasa benar-benar hidup ketika menulis.

Saya merasa menjadi diri saya yang sebenarnya ketika menulis. Jari-jari saya seolah menari-nari lancar menghasilkan tulisan dengan beragam tema. Semacam ada kepuasan tersendiri ketika dan pasca-menulis. Hati dan pikiran seakan-akan menjadi lega.

Apalagi, dengan menulis saya bisa sambil lalu berwisata pikiran. Dengan menulis, pikiran saya bisa berkelana ke mana-mana. Imajanasi saya hidup. Seakan-akan kita bisa menjelajahi lorong waktu: masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ya, khayalan atau angan-angan di masa depan dan kenangan di masa lalu, semua bisa saya tuangkan menjadi tulisan.

Dengan menulis, kita bisa berimajinasi dengan seluas-luasnya, setinggi-tingginya, tanpa sekat ruang dan waktu. Bisa berandai-andai menjadi apapun dan melakukan apapun di dunia ini. Dalam hal ini, menulis sebenarnya melatih diri menjadi pribadi visioner yang memandang jauh ke depan.

Tentunya dengan berpijak pada realitas yang terjadi saat ini. Sebab, tidak menutup kemungkinan, semua yang kita imajinasikan, kita impikan, kelak menjadi kenyataan. Karena, segala mimpi yang kita tuliskan tersebut, tidak mustahil, bisa menjadi berwujud.

Selain itu, menulis di buku harian memang memberikan sensasi tersendiri bagi penulisnya. Sebab, mengarang ini, merupakan kerja fisik, hati, dan pikiran. Atau istilah lainnya, olah raga, olah akal, dan olah rasa/jiwa. Lewat menulis di jurnal harian, kita belajar untuk mengasah pikiran dan memperhalus hati. Dan tentu saja, harapannya, perbuatan sehari-hari kita, bisa menjadi lebih mulia alias beradab.

Namun, yang menjadi persoalan adalah bagaimana menjaga konsistensi dalam menulis di buku harian. Mengingat manfaat atau fadilah yang didapatkan begitu luar biasa. Saya sendiri, sampai saat ini, masih terus menerus berupaya untuk tetap konsisten menulis di buku harian. Sebab, diakui atau tidak, disadari atau tidak, istikamah menulis di buku harian ini, cukup sukar. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan niat dan kemauan.

Proses pembiasaan ini memang perlu dilatih seumur hidup. Tidak cukup hanya mengandalkan motivasi dalam diri. Harus dipaksa betul. Apalagi, saat ini, penyakit yang sering kali melanda penulis, baik yang awam atau profesional sekalipun, yaitu biasanya malas dan suka menunda.

Saya pun sampai kini, masih berusaha untuk menangkal dua penyakit itu. Sebab, bisa menghambat produktivitas dalam berkarya. Termasuk dalam menulis di buku harian.

Padahal, waktu terus bergulir. Detik demi detik berlalu. Usia semakin berkurang. Tak jarang, sebagian dari kita menghabiskannya untuk hal-hal yang sama sekali tidak berfaedah. Maka dari itu, menulis di buku harian, menjadi salah satu aktivitas yang kiranya bisa kita pilih untuk menghindarkan diri dari membuang-buang waktu.

Apalagi, dengan menulis, seperti yang telah saya sampaikan sebelumya, menjadi sarana yang cukup ampuh mengekspresikan diri. Menjadi wadah untuk meluapkan segala macam emosi. Entah itu, kecewa, sedih, marah, rindu, malu, cinta, dan sebagainya.

Dalam hal ini, menulis bisa menjadi sarana bermeditasi, rekreasi, dan bahkan refleksi diri. Tentu saja manfaatnya, pikiran dan hati bisa sedikit plong sebab semua unek-unek telah dikeluarkan. Dengan menulis, kita juga bisa mendeteksi dan sekaligus mengevaluasi beragam kekhilafan, kesalahan, dan kekeliruan kita di masa lalu atau bahkan di saat ini.

Dengan begitu, kita bisa menjadi pribadi yang lebi matang, tangguh, dan dewasa dalam mengarungi hidup yang gelombangnya kadang kecil, sedang, dan bahkan besar. Lewat menulis pula, kita bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sebab, kitab bisa mengikat ilmu dan pengetahuan yang kita pelajari entah di dalam kelas atau pun di luar kelas, lewat catatan.

Pada akhirnya, izinkan saya mengungkapkan dalam catatan ini bahwa ketika saya menulis, terutama menulis catatan harian, saya seolah menjadi pelancong yang berupaya menemukan dan menggali arti keberadaan diri dan makna hidup. Percayalah, menulis di buku harian menyimpan banyak manfaat dan kebaikan bagi penulisnya.

Ditambah lagi, tentunya nanti bisa menjadi warisan abadi bagi anak cucu sang penulis. Bahkan, warisan tersebut bisa berkontribusi besar bagi peradaban bangsa dan dunia di masa depan. Jadi, tunggu apa lagi, mari ambil pena, segeralah catatkan apa pun yang terlintas dalam alam pikiran kita. Sekarang juga! Mumpung lagi ada waktu dan badan masih sehat.

*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi

Tags: Catatan HarianCecurhatan
Previous Post

Membaca, itu Perlu Uswah Bersama-sama

Next Post

Dihelat Sepuluh Hari, Harkopnas Bojonegoro Dimeriahkan Bermacam Acara

BERITA MENARIK LAINNYA

Pelajaran dari Luka yang Sama
Cecurhatan

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026

Anyar Nabs

Pelajaran dari Luka yang Sama

Pelajaran dari Luka yang Sama

15/01/2026
Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

Insiden Tendangan Kung Fu di Sepak Bola dan Rekomendasi Film Tentang Kung Fu

15/01/2026
Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

Pastikan Akses Pendidikan, Upaya Tingkatkan IPM Bojonegoro

14/01/2026
Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

Tambang Emas Ra Ritek: Suara Warga Trenggalek Terhadap Tambang Emas dalam Balutan Film Dokumenter

14/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: