Senin (14/07) pelajar kembali bersekolah. Setelah sebelumnya, menjalani libur semester. Rasa pelajar kembali bersekolah, membuat saya senang. Mengapa? Ada fakta menyedihkan –hasil dari sebagian pengamatan saya, bila libur sekolah sama dengan libur belajar.
Jelasnya kala libur, pelajar “off” dari aktivitas belajar. Bila kemudian ditanya, “Tidak belajar nak?”; akan terlontar jawaban: “Kan lagi libur”. Celakanya, jawaban dari sebagian anak di atas, tidak kemudian mendapat feedback atau masukan anggota keluarga –ayah, ibu, saudara.
Orang tua –dan anggota keluarga, seakan “memaklumi” terminologi atau istilah “libur” dengan “libur pula belajar”. Yang terjadi kemudian, semua anggota keluarga sibuk ria dengan gawai masing-masing, sebagaimana kebutuhan tontonan yang diperlukan.
Islam dan Belajar
Perihal belajar, Islam telah memberi panduan gamblang kepada kita untuk senantiasa belajar. Wujudnya dengan banyak membaca sebagaimana surah al-Alaq –ayat 1-5, guna menambah pengetahuan diri secara intensif.
Prof. Abuddin Nata (2012:45-46), lebih detail menjelaskan bila perintah membaca tersebut bila kita geser kepada histori bangsa Arab, agak mengejutkan. Pasalnya, budaya Arab kala itu dominan menghafalkan syair-syair yang di dalamnya memberi ajaran kehidupan untuk dijalani.
Pada konteks kini, membaca yang diinginkan adalah terlaksanakan aktivitas menghimpun informasi dengan melihat huruf, kata, kalimat baik dari buku dan referensi yang lain. Sehingga, esensi dari membaca berwujud pula dalam aktivitas meneliti, mengamati, melakukan identifikasi –serta diksi lainnya, untuk menggali dan mengembangkan pengetahuan agar peradaban bangsa semakin maju.
Lagi-lagi –kala liburan, aktivitas membaca silent. Atas nama liburan, belajar menjadi senyap. Jika boleh saya simpulkan, berarti belajar masih bersifat formalistik. Ya, semacam keterpaksaan “kewajiban” yang hanya layak dilakukan kala sekolah sudah masuk.
Persepsi tersebut kudunya menjadi angan-angan bersama, apakah demikian yang diingankan “kita” sebagai bangsa ini! Padahal kanjeng Nabi Muhammad Saw dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim, meminta kita untuk senantiasa belajar –menuntut ilmu formal-nonformal, dari lahir hingga liang lahat.
Hadis itulah yang kemudian menurut pakar pendidikan Islam, dinamakan belajar seumur hidup, yaitu aktivitas belajar dan mengajar yang tidak sekadar terbatas pada ruang kelas saja. Melainkan, di mana saja dan pada berbagai kesempatan, belajar senantiasa dilakukan oleh siapa saja.
Agar belajar mentradisi –formal-nonformal, bagi saya hal berikut ini perlu dilakukan:
Pertama, keluarga perlu menjadi contoh (uswah). Ayah dan ibu mencontohkan diri belajar di depan anggota keluarga, yaitu anak, menantu, cucu dan seterusnya. Suami mencontohkan belajar kepada istri dan anak-anaknya. Kakak mencontohkan belajar kepada adik. Begitu seterusnya, sehingga masing-masing kelompok kecil (peer group) berjalan pembiasaan belajarnya.
Contoh uswah internal keluarga di atas, bila kita gali kepada kearifan lokal wisdom Jawa, selaras dengan pepatah “kacang ora ninggal lanjaran”. Artinya, keberadaan anak tidak terlepas dari kedua orangtuanya.
Terlebih menurut Jamal Ma’mur Asmani (2024:58) bila orangtua mencontohkan kebaikan, anak akan tumbuh menjadi baik. Bila sebaliknya –yang diajarkan kejelekan hingga perilaku kurang bermanfaat, anak juga akan tumbuh menjadi kurang baik hingga terbiasa melakukan hal kurang manfaat.
Jika demikian adanya, perilaku orangtua senang belajar –sebagai misal, selain akan menjadi contoh intern keluarga, juga dalam rangka meningkatkan kualitas dirinya menjadi problem solver (solusi) edukatif perkembangan anggota keluarganya.
Kedua, di ruang formal sekolah-kampus-perkantoran, uswah belajar kudu pula diterapkan. Artinya, pimpinan mencontohkan belajar kepada yang dipimpinnya. Bahkan, tradisi membaca bisa dilakukan rutin.
Entah dalam bentuk program membaca 30 menit setiap Senin, atau hari-hari yang dipilih sebagaimana kesepakatan pimpinan dalam rutinitas pelaksanaan bersama-sama dengan bawahannya.
Perihal di ruang formal ini, sebagian besar masih jauh panggang dari api. Idealitas membaca yang telah kita ketahui kebermanfaatannya, yaitu menambah pengetahuan dan memajukan peradaban, menjadi “absurd” meminjam bahasa Albert Camus.
Artinya menurut Fahruddin Faiz (2014:111), terdapat jarak antara gagasan ideal yang dicanangkan dengan kenyataan, di mana “kita” tetap saja memegang kuat idealitas. Alhasil, ya sia-sia.
Jika demikian, uswah pimpinan kepada yang dipimpin dalam hal mentradisikan membaca, kudu benar-benar dirupakan berbentuk laku diri secara personal, maupun program secara kolektif. Wujud nyata itulah yang sangat diharapkan.
Ketiga, ruang sosial. Ruang sosial atau ruang di mana kita –saya dan pembaca hidup di luar keluarga dan lembaga pendidikan, juga perlu menampilkan aktivitas belajar. Sehingga, kala berada di warung kopi sebagai misal, membaca juga tampak hadir. Meski baru sedikit personnya.
Jika demikian, teruntuk kawula mudan dan siapa saja, akan menjadi lebih baik bila buku –secara cetak, menjadi bawaan wajib selain dari gawai kala nongkrong di warung dilakukan.
Kemudian, kala di rumah sakit atau saat menunggu antrian di bank, hingga ketika lagi santai di tempat wisata serta pertamanan, aktivitas membaca buku juga perlu dilakukan. Tujuannya, sebagai wujud ajakan (dakwah) kepada sesama agar keilmuan yang dihasilkan kala proses membaca, bisa digunakan untuk mengatasi problem diri dan kehidupan sebagai saya singgung di atas.
Berdasar uraian di atas, tiga lingkungan belajar tersebut hemat saya, kudu bersama-sama ambil ambil peran dalam rangka membudayakan baca. Hal ini selaras dengan pribahasa “ringan sama dijinjing, berat sama dipikul”. Artinya, segala hal baik ringan maupun berat akan terasa lebih mudah bila dikerjakan atau ditanggung bersama-sama.
Jangan kemudian “memperbesar” disharmonis. Yakni “menyerahkan” keterwujudan membaca pada salah satu pihak saja. Tentu, selain akan menjadi permasalahan yang sama dari waktu ke waktu, ketertinggalan daya cipta pengetahuan SDM akan nyata adanya secara paradigmatik, yaitu libur sama dengan tidak belajar.
Akhirnya, selamat belajar para pelajar, karena kini sudah kembali bersekolah. Selamat belajar orang tua, pimpinan, dan masyarakat, karena Anda adalah uswah kepada sesama.
* Penulis adalah Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam FT Unugiri.








