Memilih di Antara Pil Pahit: Demokrasi, Tawa, dan Kandang Bernama Pilihan
Kita merasa sedang melawan kekuasaan, padahal sedang merawatnya. Kita bangga jadi warga kritis. Namun lupa, siapa yang merancang panggung kritik...
Read moreKita merasa sedang melawan kekuasaan, padahal sedang merawatnya. Kita bangga jadi warga kritis. Namun lupa, siapa yang merancang panggung kritik...
Read moreGelombang kegiatan tanam pohon tengah marak di Bojonegoro. Dari komunitas warga, pelajar, organisasi masyarakat, hingga lembaga pemerintah, aksi tanam pohon...
Read moreJika suatu hari kekuasaan terasa terlalu nikmat, barangkali itu pertanda bahaya: bukan karena mereka terlalu kuat. Tapi karena kita terlalu...
Read moreDua masjid yang berdiri sebagai kesaksian abadi bahwa ketika kata-kata tak lagi cukup, manusia akan berbicara melalui kubah, menara, dan...
Read moreEnam bulan dipenghujung tahun 2025, takdir membawa saya keliling daerah Gondang dan Sekar. Bagi banyak orang Gondang-Sekar dikenal dengan wilayah...
Read moreLapar, pada akhirnya, adalah bahasa. Ia berbicara tentang siapa yang kita salahkan, siapa yang kita lindungi, dan sistem seperti apa...
Read moreMelalui Cairo International Book Fair (CIBF), Mesir membuktikan dirinya sebagai sebuah negara yang tak pernah jemu menyalakan semangat membaca dan...
Read morePerubahan sosial, pada akhirnya, selalu bersifat kolektif. Ia menolak pahlawan tunggal dan merayakan kerja bersama—langkah kecil yang diulang, tangan yang...
Read morePukul 00.15 WIB, di Area Makam Sunan Ampel Surabaya. Maka keramat tersebut tak pernah benar-benar tidur. Bahkan ketika kegelapan malam...
Read morePeriode 1965 menandai fase kritis dalam sejarah Indonesia yang ditandai oleh kekerasan sistematis terhadap orang-orang yang diduga terlibat dengan Partai...
Read more