Ihwal daun-daun yang gugur di sekitar Sumur Ringin dan kabut gelap yang menyelimutinya.
Sri Lestari sedang menikmati secangkir kopi di warung kopi yang berada di area Desa K.
Sri sosok perempuan yang akrab dengan angin tengah malam. Di penghujung bulan kemerdekaan, Sri menanti awal September Hitam di warung kopi.
Membaca, menulis, dan berdiskusi, merupakan tiga hal yang dekat dengan Sri. Dia menikmati tiga kegiatan itu dengan sanubari.
Selain menghabiskan waktu tengah malam di warung kopi, Sri beberapa kali menghabiskan waktu di bekas Pasar Sapi.
Mendengarkan gending-gending campursari. Memecah kesunyian malam, tengah malam, hingga dini hari.
Malam itu, penghujung Agustus, Desa K amat sangat sunyi. Maklum, penghuni Desa K adalah orang-orag kota yang pagarnya tinggi-tinggi.
Sri menikmati tengah malam di sebuah warung kopi di Desa K. Dia sedang menulis tentang peristiwa yang bukan hanya sekadar peristiwa.
Peristiwa yang terkadang membuat orang merasa takut, namun juga bisa membuat orang-orang memaknai betapa pentingnya nyawa dan “sejarah”.
Sri mengeluarkan buki cokelat dari tasnya. Kemudian mulai menggurat pena. Di bagian pojok kanan, dia bubuhkan tanggal proses penulisan, 31 Agustus-1 September.
Satu jam berlalu, belum ada judul yang tertulis di kertas. Sri memesan lagi secangkir kopi untuk memancing ide. Dan sebatang rokok, juga untuk memperlancar penjelajahan khasanah pemikiran.
Dia juga membuka koran-koran yang ada di warung kopi. Tubuhnya pada waktu itu terasa meriang. Karena beberapa hari dia beegulat dengan angin malam, tanpa mengenakan jaket. Ditambah, percik air hujan, namun Sri mencoba mensyukuri apapun yang telah terjadi.
Dia duduk di bangku pojok kiri di sebuah warung kopi di Desa K. Tangan kanan memegang pena. Dan kepala tertunduk layu.
*********
“Mas Marto, tolong, hentikan aktivitas partai, Mas. Kalau ingin kawin dengan saya”, ujar Wahyana ketika duduk berdua di sekitar Sumur Ringin yang berada di Kepatihan Straat.
“Maaf, Wahya. Aku tidak bisa meninggalkan aktivitas partai yang telah saya bidani dengan usaha dan tenaga kawan-kawan”, jawab Marto.
“Partaimu itu bahaya, Mas. Orang-orang di Ibu Kota sudah dihabisi. Baik yang jadi pentolan maupun printilannya. Apa Mas Marto tidak takut?”
“Buat apa takut? Dalam partai, ada yang namanya ‘moralitas partai’, dari situ yang membentuk kepribadian, Mas. Karena saya yakin, karir tertinggi seorang pegiat partai, aktivis, petani, buruh, pelajar, bukan jadi ketua maupun presiden, melainkan kematian.”
Ketika asyik berduaan di sekitar Sumur Ringin. Tiba-tiba terjadi suara tembakan. “Prok…prok..prok….,” menggema di sekitar area Sumur Ringin.
“Wahya. Terima kasih, telah menemani hidupku. Biarpun kita tak bisa kawin. Biarlah sumur ringin dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya ini. Menjadi saksi bisu bahwa kita pernah bersama.”
Kemudian air mata membasahi pipi Wahya. Wahya harus berpisah dengan Marto dalam tempo yang penuh tanda tanya. Dalam perpisahan yang terjadi di sekitar Sumur Ringin itu, Marto memberikan buku catatan hariannya yang bersampul merah.
“Terimalah, Wahya. Saya tidak punya apa-apa. Yang aku punya hanya buku merah dan pena ini. Terimalah..”
Kemudian Marto berlari menjauhi Sumur Ringin. Karena dari kejauhan, terdapat keributan. Kantor partainya dibakar, nampak dari kejauhan kawan-kawan Marto tangannya diikat ke belakang dan matanya tertutup.
Marto bergegas melarikan diri. Tak peduli sepada ontelnya di kantor, mesin ketik, buku, dan lain-lain.
*********
Talkim subuh berkumandang di Desa K. Sri kemudian terbangun.
“Mimpi apa saja, kau Sri?” tanya Bendot yang berjaga warung kopi pada hari itu.
“Mimpi yang aneh, Ndot”. Jawab Sri sembari mengusap pipi bagian kiri karena air liur yang diproduksi selama tidur.
Ketika apa yang sedang diteliti atau ditulis Sri, selalu terbawa mimpi. Saat Sri menulis tentang peristiwa September Hitam di sekitar Sumur Ringin. Dia bermimpi ihwal hal tersebut.
Warkop Giras Patimura, 1 September 2022








