Jika kamu anak Bojonegoro dan sempat mengalami masa kanak-kanak pada era 1990-an, pasti ingat permainan dem dempo. Apakah hari ini permainan itu masih diingat ya?
Apa yang muncul di benak kamu saat melihat gundukan pasir material pembangunan, Nabs? Apakah masa depan tentang cicilan rumah? Atau nostalgia masa lalu tentang masa kanak-kanak yang penuh permainan?
Generasi 90-an pasti tahu dem dempo kan? Masih ingat gak nih? Dem dempo merupakan sebuah permainan bola pasir yang dipadatkan menggunakan air. Hayoooooo…. pasti tahu kan ya.
Betapa senangnya ketika masa kanak-kanak dahulu, melihat adanya tetangga yang membangun rumah. Gundukan pasir material merupakan wahana permainan yang menarik. Misalnya membuat dem dempo, bola pasir yang dipadatkan dengan air. Kemudian diadu.
Bola mana yang hancur, dia yang kalah. Bisa diadu dengan didorong tangan dengan arah berlawanan. Bisa juga diadu dengan digulirkan di jalur pasir dari atas ke bawah.
Sayangnya, anak-anak jaman sekarang sudah jarang melakukan permainan ini. Hampir tidak lagi ditemukan seorang anak bermain dem dempo di gundukan pasir. Termasuk di Bojonegoro sendiri.
Titok Yanuar, seorang warga Bojonegoro mengatakan, anak jaman sekarang sudah tidak lagi tahu tentang dem dempo. Mungkin masih banyak yang bermain pasir, tapi bukan dem dempo. Anak kecil sekarang cenderung bermain pasir dengan mainan. Misalnya truk mainan atau mobil-mobilan.
“Anak zaman sekarang mana tahu tentang dem dempo. Anak kecil sekarang mainan pasir itu dengan truk,” kata Titok.
Titok mengatakan bahwa anak sekarang lebih suka bermain gadget. Misalnya melihat video di youtube. Meskipun begitu tetap saja terdapat anak yang suka bermain pasir dan air. Biasanya itu karena video yang mereka lihat.
“Main pasir sih masih ada, itu karena lihat video Tayo di youtube trus pengen,” ujar pria yang tinggal di Blok P Perumahan Rajekwesi BTN tersebut.
Anak generasi 90-an dulu, masih belum mengenal youtube seperti sekarang. Tidak semuanya juga punya mainan. Anak-anak cenderung berkumpul kemudian bermain bersama. Adanya gundukan pasir material tidak setiap hari ada. Jadi hal itu begitu menyenangkan dijadikan tempat bermain.
Tidak adanya mainan mampu memicu kreativitas anak-anak. Di antaranya membuat mainan seperti dem dempo. Membuat dem dempo untuk diadu itu susah susah gampang. Setiap anak memiliki treatment khusus untuk membuatnya lebih kuat.
Misalnya, ada yang mencampur dengan pasir kasar atau kerikil. Ada juga yang mencampur dengan bata yang dihaluskan. Bahkan ada pula yang mencampur dengan semen. Namun, campuran semen merupakan pelanggaran keras di bidang per-dem dempo-an. Hehe
Tidak sampai di situ. Ukuran dem dempo juga dipertandingkan. Siapa yang bisa membuat bentuk yang besar dan buat sempurna menjadi raja dem dempo. Bentu dem dempo juga dipengaruhi oleh tingkat kekeringan bola tersebut.
Agar struktur dem dempo kuat, bola pasir perlu dimampatkan kemudian di jemur. Semakin kering akan semakin kuat untuk diadu. Bahkan, menjemurnya bisa berhari-hari.
Dian, pemilik warung kopi di salah satu kios Taman Rajekwesi mengatakan, dia tidak pernah mengajari anaknya membuat dem dempo. Bercerita saja belum pernah. Dia mengaku hampir lupa dengan permainan itu. Karena kesibukannya, lebih mudah membelikan mainan anak daripada harus menemani bermain.
“Anak-anak ini mintanya dibelikan mainan karena ikut-ikut temannya yang punya biar bisa main bareng,” kata bapak satu anak tersebut.
Meski begitu, kata dia, dem dempo merupakan permainan yang memiliki nilai positif. Dem dempo mampu memicu kreativitas anak-anak melalui permainan.
Memainkannya pun cukup memanfaatkan apa yang ada saat moment tetangga sedang membangun rumah. Tidak butuh biaya untuk membelikan alat. Cukup dengan pasir dan air. Hehe
Bermain dem dempo memang terlihat kotor, tapi bukankah berani kotor itu baik? Ini bukan iklan lho ya. Dalam arti khusus, anak berkotor-kotor ria itu boleh asalkan anak dapat belajar hal baru.
Dem dempo juga memiliki makna yang begitu mendalam. Dem dempo merupakan permainan sederhana kesukaan anak dengan pasir dan air. Ini merupakan representasi dari rasa cinta tanah air. Cukup dengan pasir dan air, sekumpulan anak bisa merasakan kebahagian bersama. Bersenang-senang dengan cara yang begitu sederhana.
Anak-anak pada masa 90-an tergolong cukup kreatif dan penuh keberanian. Kreatif dalam menggunakan alat bermain. Misalnya ranting, daun, plastik, apa saja bisa digunakan. Sampah pun bisa. Tidak ada apa-apa pun tetap bisa bermain. Bahkan, cukup hanya dengan tanah dan air.








