Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Diskusi Ekologi, Upaya Berpikir Skala Bumi

Bakti Suryo by Bakti Suryo
01/11/2025
in Peristiwa
Diskusi Ekologi, Upaya Berpikir Skala Bumi

Diskusi Ekologi

Bojonegoro diguyur gerimis pada Sabtu (1/11/2025) pagi. Cuaca mendung, berembun dan jalanan basah. Namun, itu semua bukanlah kendala yang berarti. Khususnya bagi para muda-mudi pecinta lingkungan asal Bojonegoro. Mereka tetap hadir dan berkumpul di Kafetaria Tempat Penimbunan Kayu (TPK) Bojonegoro.

Satu per satu orang memasuki gazebo kafetaria dan duduk tenang. Dengan sabar menunggu kawan lain sambil menyeruput kopi. Ada pula cemilan seperti bakwan dan pisang goreng yang tinggal comot. Kombinasi menu mutakhir pendamping diskusi. Terlebih, di gazebo yang diapit pohon-pohon tua nan rindang kala cuaca mendung. Begitu syahdu bukan?

Demikian suasana yang menggambarkan Diskusi Lingkungan bertajuk “Berpikir Skala Bumi”. Sebuah diskusi diusung Bojonegoro Institute (BI) dan Pandan Fondation. Diskusi santai tersebut, bertujuan meningkatkan kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Salah satunya membentuk trend di bidang pembahasan ekologi secara substantif.

Baca Juga: Berpikir Skala Bumi, Kalabendu Anthroposene dan Refleksivitas Ekologis 

Diskusi dimulai dengan prolog yang disampaikan Direktur BI, Aw. Syaiful Huda. Tepatnya pukul 10.30 wib. Menurut Syaiful Huda, topik lingkungan menjadi penting untuk dulas dan diperhatikan. Khususnya belakangan ini ketika kondisi cuaca tampak begitu ekstrim. Tidak terkecuali masyarakat Bojonegoro yang turut merasakannya.

“Ini sebagai kampanye membentuk trendsetter di bidang ekologi,” ucap pria gondrong yang akrab disapa Awe tersebut.

Menurut Awe, isu lingkungan penting dibahas karena menyangkut hidup orang banyak. Dia memaparkan salah satu contoh pengaruh lingkungan terhadap kemiskinan. Menurutnya, data Bada Pusat Statistik (BPS) per Maret 2025, mayoritas penduduk miskin Indonesia berasal dari sektor pertanian berstatus informal. Jumlahnya mencapai 8,47 persen dari 23,85 juta jiwa.

Sektor pertanian sangat dipengaruhi kondisi alam dan cuaca. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem tidak mendukung petani. Bahkan cenderung menyulitkan. Misalnya masalah kekeringan di musim tanam dan banjir di musim panen. Pertanian yang tergantung oleh iklim dan musim malah terasa seperti di-prank oleh alam. Padahal, ini akibat dari manusia yang tidak menjaga alam. Demikian membuat para petani justru semakin miskin.

Programmer Dewan Jegrank Bojonegoro, Murtadho, yang turut hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, dalam konteks Bojonegoro, isu ekologi tentu sangat banyak yang perlu dibahas. Terutama soal pengelolaan air pasca hujan deras menjelang: banjir hujan. Menurut dia, berbagai masukan harus disampaikan pada pemerintah. Sehingga, pemerintah tahu apa yang harus dilakukan.

“Kegiatan semacam ini sangat penting, sehingga muncul masukan dari masyarakat untuk pemerintah. Sebab, masyarakat bersinggungan langsung dengan  ekologi itu sendiri” Ucap Murtadho.

Namun, kata dia lagi, meski diskusi semacam ini sangat penting, akan menjadi tidak penting ketika tidak bisa didengar pemerintah. Sebab, yang memiliki kewenangan untuk memberi perubahan besar adalah pemerintah. Karena itu, sebisa mungkin, pembahasan yang amat penting ini harus bisa didengar pemerintah.

“Sebagus apapun pembahasan kita, kalau tidak terdengar pemerintah ya gini-gini aja” Kata dia.

Berpikir Skala Bumi

Sementara Dhadang SB, Seniman Kebijakan Publik yang hadir dalam acara mengatakan, lingkungan adalah hal paling mendasar bagi kehidupan seluruh makhluk hidup. Tidak hanya para petani. Awe mengajak para peserta diskusi untuk mengubah pandangan dan pola pikir. Bumi sebagai tempat tinggal makhluk hidup perlu dipandang sebagai makhluk hidup itu sendiri.

“Bumi adalah organisme raksasa yang kompleks, juga sangat mandiri dan tunggal,” kata Dhadang.

Pohon juga berperan sebagai subjek bagi lingkungan. Tentu dengan caranya sendiri yang berbeda dengan manusia. Semisal bumi adalah makhluk hidup layaknya manusia, maka pohon diibaratkan sel darah putih. Ia menjadi sistem kekebalan tubuh bumi. Pepohonan mampu mencegah bumi dari ancaman kerusakan. Misalnya peningkatan suhu bumi layaknya sakit demam bagi manusia.

Selama ini, alam hanya dianggap sebagai subsistem kecil. Manusia hanya memandang alam sebagai objek untuk dieksploitasi. Manusia seharusnya memandang bumi seperti diri sendiri. Dengan begitu, menjaga bumi seperti menjaga diri sendiri. Tentu mindset demikian harus dimiliki setiap individu. Inilah awal mula untuk menempa jalan menuju keadilan sosial dan ekologi.

“Berpikir skala bumi harus (bersifat) paradigmatik secara individu,” pungkasnya.

Tags: Berpikir Skala BumiDiskusi EkologiIsu Ekologi
Previous Post

Mereka yang Tak Menunggu Komando

Next Post

Paradigma Jurnaba: Optimisme Pesimistis

BERITA MENARIK LAINNYA

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026
Peristiwa

Komisi C DPRD Bojonegoro Bahas Realisasi APBD 2025 dan Proyeksi Pelaksanaan APBD 2026

09/01/2026
Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi
Peristiwa

Bakti Bumi, Diskusi Agro Ekologi di Bukit Pagerwesi

28/12/2025
Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026
Peristiwa

Abdulloh Umar Ajak Masyarakat Bersikap Empatik Sambut Tahun Baru 2026

24/12/2025

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: