Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Mereka yang Tak Menunggu Komando

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
31/10/2025
in Cecurhatan
Mereka yang Tak Menunggu Komando

Gelombang politik global sedang bergetar dalam frekuensi yang baru. Di Madagaskar, sebuah negeri yang bagi sebagian orang hanya dikenal lewat film animasi, presiden mereka jatuh bukan karena kudeta militer, bukan pula karena tekanan parlemen. Ia tumbang oleh generasi yang bahkan belum genap dua dekade mengenal demokrasi: Gen Z.

Anak-anak yang lahir setelah milenium, tumbuh di tengah layar, bukan podium; di ruang percakapan digital, bukan di ruang rapat partai. Yang menarik bukan siapa yang naik, tetapi siapa yang menggoyang. Mereka tidak membawa poster ideologi, tidak membawa nama ormas, tidak membawa jargon revolusi.

Mereka datang dengan meme, dengan humor, dengan keberanian yang tak lagi bergantung pada teori sosial mana pun. Mereka mengubah politik menjadi sesuatu yang cair—seperti sungai yang mencari jalannya sendiri, menembus batu-batu tua hierarki.

Fenomena ini kini bergulir ke banyak tempat: Maroko, Nepal, Kenya, Chile, Myanmar, Bangladesh, Filipina—dan tentu saja, Indonesia. Seolah dunia sedang mengalami semacam “revolusi sunyi” yang tidak diumumkan di media, tapi bergaung di setiap notifikasi.

Di masa lalu, gerakan sosial dibangun di atas struktur: manifesto, organisasi, rapat, dan kaderisasi. Tapi Gen Z tidak hidup dalam masa yang memberi ruang bagi kesabaran semacam itu. Mereka dibentuk oleh algoritma—bergerak dalam impuls, bereaksi cepat, dan lebih percaya pada kebenaran emosional daripada rasionalitas prosedural.

Kita pernah mengenal aktivis yang berjuang di bawah panji LSM, berbicara tentang partisipasi, demokrasi, atau hak asasi manusia. Tapi kini, ruang yang dulu menjadi panggung mereka tampak lengang. NGO tampak seperti rumah tua yang dindingnya masih penuh slogan 1998, sementara di luar, anak-anak muda itu menulis ulang peta perjuangan dengan bahasa baru: thread Twitter, TikTok, Discord, forum-forum kecil tanpa moderator.

Mereka tak menunggu komando, karena hidup mereka memang dibesarkan dalam dunia yang menolak pusat. Mereka tidak memuja karisma, karena bagi mereka, karisma sering berujung korupsi. Mereka tidak percaya pada rapat, karena rapat adalah ritual birokrasi yang memperlambat perubahan.

Mereka belajar bahwa “viral” lebih cepat daripada “advokasi”. Tentu, ada yang menganggap mereka naif. Bahwa gerakan tanpa struktur mudah dibelokkan. Bahwa tanpa ideologi, semangat mudah padam. Bahwa energi digital tidak bisa menggantikan strategi politik. Tapi barangkali kita sedang gagal melihat bahwa yang sedang mereka bangun bukan sekadar gerakan, melainkan ekologi baru kesadaran.

Dalam ekologi itu, solidaritas tidak dibentuk oleh kesamaan ide, melainkan resonansi perasaan. Mereka tidak “berorganisasi”, tapi “terhubung”—dan koneksi itu lebih organik daripada kontrak formal mana pun. Mereka tidak mengutip Marx atau Fanon, tapi mereka tahu rasa tidak adil itu seperti apa.

Sementara NGO masih sibuk menulis laporan untuk donor, Gen Z menciptakan bentuk baru dari apa yang dulu disebut “publik”: sebuah ruang terbuka tanpa pagar administratif. Mungkin inilah saatnya kita bertanya bukan bagaimana mereka bisa menggantikan NGO, tetapi mengapa NGO berhenti tumbuh bersama zaman.

Seperti daun tua yang tak lagi fotosintesis, banyak lembaga sipil kita kini hidup dalam nostalgia—tentang masa ketika perlawanan tampak heroik, tentang masa ketika reformasi adalah cita-cita, bukan proyek donor. Mereka lupa bahwa setiap generasi punya bahasa perjuangannya sendiri.

Di tangan Gen Z, bahasa itu bukan lagi “reformasi” atau “pemberdayaan”, melainkan sesuatu yang lebih sederhana: care, belonging, being seen. Mereka tidak bicara tentang “good governance”, tapi tentang safe space. Dan barangkali itu lebih jujur.

Sejarah selalu berputar di tangan mereka yang berani tak menunggu giliran. Di abad ke-19, revolusi tak mungkin tanpa pamflet dan tipografi. Di abad ke-20, ia bergerak lewat radio dan poster. Kini, di abad ke-21, ia menyalakan dirinya sendiri lewat notifikasi dan algoritma.

Mungkin benar, gerakan ini masih mentah. Tapi sejarah tidak pernah menunggu kematangan. Ia hanya butuh satu hal: keberanian untuk melompat tanpa jaminan. Dan Gen Z, tampaknya, telah melompat lebih dulu—sementara kita masih sibuk menulis panduannya.

Apakah NGO akan ikut melompat, atau tetap berdiri di tepi, mengamati gelombang yang makin deras itu? Kita belum tahu. Tapi sejarah punya cara menghapus yang tak mau berubah. Selebihnya, hanya waktu yang akan mengajarkan: siapa yang benar-benar mendengarkan masa depan, dan siapa yang masih sibuk memelihara masa lalu.

Sejarah selalu berputar di tangan mereka yang berani tak menunggu giliran. Di abad ke-19, revolusi tak mungkin tanpa pamflet dan tipografi. Di abad ke-20, ia bergerak lewat radio dan poster. Kini, di abad ke-21, ia menyalakan dirinya sendiri lewat notifikasi dan algoritma.

Mungkin benar, gerakan ini masih mentah. Tapi sejarah tidak pernah menunggu kematangan. Ia hanya butuh satu hal: keberanian untuk melompat tanpa jaminan. Dan Gen Z, tampaknya, telah melompat lebih dulu—sementara kita masih sibuk menulis panduannya.

Mungkin, generasi ini bukan sedang mencari masa depan. Mereka sedang mencuri kembali masa kini—dari tangan mereka yang mengaku lebih tahu apa artinya perubahan. Jika NGO tak ikut bergerak, sejarah tak akan menunggu. Karena revolusi kali ini tidak menunggu izin.[]

Nitiprayan, 31 Oktober 2025

Tags: Catatan Toto RahardjoDemokrasi DaruratDemokrasi Gen Z
Previous Post

Pastikan Kebermanfaatan, Bupati Wahono Sidak Program Gayatri

Next Post

Diskusi Ekologi, Upaya Berpikir Skala Bumi

BERITA MENARIK LAINNYA

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)
Cecurhatan

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026

Anyar Nabs

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

Bismillah yang Hilang, dan Hadir Kembali: Hikmah Humor dan Pencurian (13)

13/01/2026
Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: