Bertajuk drama sederhana, konten DPR Musikal adalah simbol betapa “orang tua” di Senayan memang harus menerima nasehat bijak anak-anak muda milenial, sebagai pemilik zaman yang sesungguhnya.
Saat nonton konten DPR Musikal ini, saya benar-benar merasakan gahar tawa sekaligus getir tangis secara bersamaan di dalam tubuh. Tentu saya tidak berlebihan. Bagi saya, ini adalah konten YouTube terbaik yang saya tonton sejak awal 2020 sampai pertengahan 2021 ini.
Ini alasan utama kenapa para aktivis lingkungan, aktivis literasi, aktivis politik, aktivis media, aktivis perdukunan, aktivis dakwah, atau aktivis apapun yang ada di Indonesia, harus menontonnya atau nobar sekalian. Bukan apa-apa, tapi karena memang layak ditonton semua lini aktivisme.
DPR Musikal membuat jiwa kanak-kanak Petualangan Sherina sekaligus jiwa remaja Les Misérables kembali mampir di dalam tubuh saya. Ya, ia ibarat perpaduan getar haru Petualangan Sherina dan getir tangis Les Misérables.
Di DPR Musikal inilah, harunya Petualangan Sherina dan tragisnya melankolia Les Misérables berada dalam satu dada secara bersamaan. Sejenis putus asa dan harapan yang duduk dalam satu meja perjamuan.
DPR Musikal adalah produk kreatif dari chanel Skinny Indonesian 24 yang merupakan pelopor bangkitnya konten digital YouTube Indonesia. Chanel digawangi Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez ini selalu suguhkan konten ultra berkualitas yang bisa menghibur penonton dari sudut sempit imajinasi.
Dan DPR Musikal ini, adalah produk terakhir (pamungkas) dari Skinny Indonesian 24. Sebab, pada 24 Juni 2020 atau bertepatan 9 tahun sejak dibuatnya channel tersebut, sang kreator mengumumkan tak akan mengunggah video lagi setelah 24 Juni 2021 ini.
DPR Musikal berkisah tentang seorang anggota DPR muda-idealis yang baru saja dilantik. Sebut saja namanya Mawar. Ya, dia memang bernama Mawar. Berbekal idealisme kuat, Mawar telah menyiapkan RUU tentang Flora, Agrikultur dan Kehutanan (RUU FAK) demi melindungi lingkungan alam, sesaat pasca dia dilantik.
Sial, apa yang disiapkan Mawar ternyata menghadapi banyak rintangan. Apalagi kalau bukan ekosistem dan atmosfer Senayan yang hanya memikirkan proyek dan cuan. Di sana, Mawar ibarat Lone Wolf yang tak punya satupun teman.
Bagaimana Mawar dikepung banyak kepentingan, bagaimana utopia-idealisme dikepung realitas-oportunisme, dan bagaimana Mawar menghadapi serangan itu, adalah inti dari cerita 36 menit tersebut.
Meski hanya 36 menit, isinya sangat padat dan tak ada satupun kelokan alur yang bolong. Bahkan, di setiap kelokan selalu meninggalkan jejak pesan yang secara otomatis memantik permenungan.
Yang membuat DPR Musikal begitu amat keren dan elegan dan memukau dan wajib ditonton para mahasiswa dan aktivis dan, tentu saja, seluruh masyarakat Indonesia adalah: ia disampaikan dengan cara yang teramat sangat mengagumkan.
Secara tumaniknah dan penuh penghayatan, DPR Musikal mampu menghajar dan menjewer kelakuan buruk Anggota DPR di Senayan. Sekaligus membetot sisi kemanusiaan bagi siapapun yang menontonnya.
Dalam tulisan ini, saya tak akan mengutip apapun dari konten tersebut. Sebab, hampir semua isi konten; entah itu dialog, lirik lagu, hingga gimik para aktornya amat layak dikutip. Sehingga saya bingung menaruh kutipannya.
Ada 5 drama musikal yang amat menggugah intuisi kemanusiaan yang sesekali memantik kelucuan dan berkali-kali memicu air mata berlinangan. Diantara judulnya; Mengubah Indonesia, Persetan Rakyat, Manusia Setengah Dewa, Dilema dan Pilihan Rakyat.
Saya tak akan mengupas lebih jauh tentang DPR Musikal ini, selain takut nypoiler, saya juga sangat merekomendasikan pada siapapun yang membaca tulisan ini, untuk ikut menontonnya sendiri.
DPR Musikal begitu khas anak milenial. Diproduksi dengan perpaduan melankolia sastrawi, kemajuan teknologi, sekaligus kedalaman hati yang akan membuat siapapun tertawa dan menangis.
Dalam konsep filosofis, DPR Musikal ibarat perpaduan antara ketajaman kritik Watchdog Indonesia yang dipadu dengan lembutnya tepung maizena. Mewah dan berkelas dalam kesederhanaan yang paripurna.
Saking keren dan indah dan elegannya konten ini, saya takut banyak Anggota DPR di Senayan yang justru tak bisa menangkap inti pesannya. Entah karena rendahnya selera seni atau karena mereka ditakdir tak pandai memahami.








