Penerbangan di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang, dimulai sejak era pemerintahan Hindia Belanda. Berdasarkan berbagai sumber sejarah, penerbangan pertama di Indonesia tercatat terjadi di Surabaya, Jawa Timur, pada 19 Februari 1913. Penerbangan ini dilakukan oleh seorang penerbang militer asal Belanda, menandai awal perkembangan dunia aviasi di Nusantara.
Namun, bagaimana dengan Bojonegoro? Dalam Atlas Penerbangan Hindia Belanda edisi 1934, tercatat bahwa di Padangan, Residen Bojonegoro, terdapat sebuah lapangan terbang yang digunakan sebagai tempat pendaratan darurat militer. Lapangan ini merupakan bagian dari strategi pertahanan dan mobilitas militer Belanda di Jawa Timur.
Lapangan terbang di Padangan terletak sekitar 1 kilometer dari Cepu dan memiliki luas sekitar 300 x 700 meter. Lokasi ini berada di tengah hamparan area persawahan yang mendukung lahan datar dan terbuka, ideal untuk aktivitas penerbangan pada masa itu.

Berdasarkan penelusuran melalui Google Earth, lokasi lapangan terbang ini diperkirakan berada di sekitar Desa Dengok, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Meski kini fungsinya telah hilang dan jejaknya mulai tertutup oleh perubahan bentang alam dan pembangunan, eksistensi lapangan terbang ini tetap menjadi bagian penting dalam sejarah penerbangan di Indonesia.
Lapangan terbang Padangan bukan sekadar tempat pendaratan biasa, melainkan memiliki fungsi strategis sebagai titik darurat bagi penerbangan militer Belanda. Dengan lokasinya yang cukup strategis di antara Cepu dan wilayah sekitar Bojonegoro, lapangan ini memungkinkan operasi udara yang lebih fleksibel di kawasan tersebut.
Eks Lapangan Terbang Padangan di Bojonegoro menjadi bukti nyata bagaimana wilayah ini pernah memiliki peran penting dalam sejarah penerbangan di Indonesia, khususnya di masa kolonial. Meskipun kini hanya tinggal jejak sejarah, keberadaan lapangan terbang ini patut diingat dan dilestarikan sebagai bagian dari warisan sejarah lokal dan nasional.








