Gunung Jali merupakan hamparan bukit kapur terletak di Dusun Tegiri, Desa Tebon, Kecamatan Padangan, Bojonegoro. Perbukitan di pinggir Bengawan itu, dikenal sebagai simbol Sufisme Jawi.
KH Abdurrohman Wahid atau Gus Dur dalam The Passing Over (1998) menulis, wilayah di perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut sebagai lokasi dakwah Sidi Jamaluddin Husain (Syekh Jumadil Kubro) pada abad 14 M. Gus Dur menyebut kawasan itu sebagai prototype toleransi nusantara — tempat di mana agama Islam bisa diterima tanpa sedikitpun gesekan.
Cerita dan tulisan Gus Dur, tentu sesuai literatur yang ditulis Thomas Raffles. Dalam History of Java (1817), Raffles menyebut keberadaan Syekh Jumadil Kubro di Gunung Jali dengan kalimat: a devotee who had established himself on Gunung Jali (hal:127). Begitupun dalam Atlas Wali Songo (2012), KH Agus Sunyoto mengulas kawasan ini sebagai titik keberadaan Islam tua.
Nama Gunung Jali memang lebih dikenal dari sudut pandang folktale (cerita rakyat). Bahkan, Syekh Jumadil Kubro lebih dikenal dengan Sidi Jamaluddin atau Mbah Jimat. Pada awal abad 20 M, Gunung Jali masyhur sebagai lokasi tarbiyah Bung Karno dan Hamengku Buwana IX (Mbah Dorojatun) dalam mempelajari toleransi.
Bumi Toleransi
Sidi Jamaluddin berada di Gunung Jali pada paruh pertama abad 14 M. Tepatnya masa pemerintahan antara Ratu Tribuana Tunggadewi (1328 – 1350) hingga Raja Hayam Wuruk (1350-1389). Saat Sidi Jamaluddin berada di sana, kawasan itu sudah masyhur sebagai basis keberadaan kaum Hindu Budha Jawa. Pusat keberadaan Mpu Kasaiwan (pendeta Hindu) dan Mpu Kasogatan (bhiksu Budha). Bahkan jadi lokasi penting yang dijaga para Hajaran Rata (sie Keagamaan Majapahit).
Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Maribong (1246 M), dan Prasasti Naditira Canggu (1358 M) adalah bukti empiris bahwa Gunung Jali merupakan pusat peradaban Hindu Budha Jawa pada abad 14 M. Sebab, tiga dokumen kuno tersebut membahas kawasan itu. Karena itu, kedatangan Sidi Jamaluddin di kawasan Gunung Jali, menjadi bukti ilmiah betapa pluralitas pada masa itu sangat terjaga. Gus Dur menyebutnya: tempat aman bagi “Yang Liyan”.
Gunung Jali, Bukit Kapur di pinggir Bengawan yang dipenuhi fosil purba itu, juga jadi bukti arkeologis terkait kuatnya toleransi Jawa pada masa itu. Sebab, di lokasi masjid kuno itu masih ditemui antefiks Karupadhani yang lokasinya berada di dekat makam Islam. Artinya, Sidi Jamaluddin membangun sebuah tempat peribadatan Islam di tengah pusat pendermaan Hindu Budha.
Konsep toleransi telah memicu diterimanya dakwah Sidi Jamaluddin di Gunung Jali. Thomas Raffles dalam History of Java (1817) menyebut posisi Sidi Jamaluddin sebagai ulama yang “established” atau mapan di puncak Gunung Jali. Artinya, keberadaan Sidi Jamaluddin benar-benar diterima.
Akulturasi Sufisme Jawi
Gunung Jali yang pernah jadi pusat Hindu Budha, kelak menjadi ruang akulturasi budaya. Di tempat itulah, Sidi Jamaluddin mengakomodir budaya Hindu Budha Jawa ke dalam tradisi Islam Sufistik. Gunung Jali jadi titik temu antara tradisi Siwaisme Hindu dan Brahmanisme Budha Jawa ke dalam konsep Sufisme Islam.
Peneliti dari Bumi Budaya, Totok Supriyanto menyatakan, Gunung Jali adalah inkubasi sufisme. Semacam ruang penyesuaian metode dakwah Islam. Di Gunung Jali, Sidi Jamaluddin tak menjauhi ajaran lama, tapi pelan-pelan, menyempurnakan ajaran lama itu agar sesuai syariat islam.
Menurut Totok, Kaum Siwais Hindu yang cenderung suka syukuran (pesta), dan Kaum Brahmanis Budha yang suka berderma (tumpengan), kelak dilengkapi unsur doa-doa oleh Sidi Jamaluddin. Ini alasan utama saat upacara pernikahan atau acara hajatan, dipastikan ada unsur pesta, tumpeng, dan doa-doa.
Secara semiotis, unsur api dari Siwaisme dan unsur air dari Brahmanisme, tak dihilangkan begitu saja. Justru, Sidi Jamaluddin melengkapi kedua unsur itu dengan kesejukan. Secara tidak langsung, Sidi Jamaluddin hanya mengganti istilah “Wisnu” sebagai pembawa kesejukan, dengan istilah “Rahmat” dari Allah.
Metode syiar yang dicontohkan Sidi Jamaluddin ini, kelak dikenal sebagai Sufisme Jawi — titik pertautan antara Sufisme Persia dengan Hindu Budha Jawa. Metode syiar ini, kelak menjadi standar dan pakem bagi para Wali dalam menyebarkan Islam di Jawa. Termasuk tokoh-tokoh yang tergabung Majelis Wali Songo, beberapa puluh tahun setelah era Sidi Jamaluddin.
Toleransi dan akulturasi, menjadi pusaka utama kesuksesan dakwah islam di Pulau Jawa. Dan Gunung Jali menjadi bukti empiris atas wujud dari toleransi dan akulturasi yang kerap disebut sebagai Sufisme Jawi itu. Maka bukan kebetulan jika Hikayat Banjar menyebut kawasan ini sebagai pintu gerbang masuknya Islam dari pesisir ke pedalaman Jawa.
Metode dakwah Sidi Jamaluddin yang dikenal sebagai Sufisme Jawi ini, kelak dilanjutkan para penerusnya. Dalam konteks wilayah Gunung Jali, metode ini dilanjutkan oleh tokoh-tokoh besar lain seperti Mbah Ngudung (Sunan Jipang) hingga Syekh Nursalim, yang tak hanya memperkenalkan Islam, tapi juga masyhur membangun peradaban melalui pemberdayaan ekonomi dalam mengelola sumber daya alam. Khususnya sungai Bengawan.








